Belajar Politik dari Ahok

Jika kita membaca biografi politik Soekarno, Hatta, Tan Malaka maka, meskipun ideologi mereka berbeda namun kita akan menemukan benang merah dari politik meraka.Benang merah itu adalah keberpihakan. Keberpihakan kepada rakyat jelata.

Soekarno dan Hatta pernah duduk di singgasana kekuasaan. Namun, keberpihakan mereka masih terlihat, meskipun dengan jalan yang berbeda. Tan Malaka, membawa keberpihakan mereka hingga ke dalam kubur.

Politik keberpihakan pada rakyat jelata kini kian usang. Kini belajar politik pada mereka seakan-akan sia-sia dan menghabiskan waktu saja. Belajarlah politik dari Ahok.

Ya, Ahok. Lihatlah, sebagian kelas menengah di Ibukota kini memuja-mujinya. Ahok, bukan saja dianggap pahlawan oleh mereka, namun dalam taraf tertentu mereka sudah menganggapnya seperti dewa. Semua menjadi benar bila Ahok yang melakukannya.

Lihat saja, sebagian kelas menengah di Jakarta yang katanya menolak reklamasi di Benoa, Bali, tapi menyetujui reklamasi Teluk Jakarta. Kenapa bisa demikian? Karena yang mengijinkan reklamasi Teluk Jakarta adalah pujaan hatinya, Ahok.

Sebagian kelas menengah Jakarta juga memuja-muji Ahok, saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menggusur warga miskin kota di Jakarta. Bahkan, mereka juga ikut-ikutan memberikan stigma bahwa warga miskin kota itu adalah penyerobot tanah negara. Mereka tiba-tiba tidak peduli terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM), jika yang menginjak-injak kemanusiaan dan HAM itu adalah pujaannya, Ahok.

Sebagian kelas menengah Jakarta juga tiba-tiba mengalami amnesia (kehilangan daya ingat) terhadap janji-janji Ahok yang akan menata pemukiman kumuh tanpa mengusir warganya. Meskipun berkali-kali sang pujaannya mengingkari janji dan menjilat ludahnya, tetap saja, sebagian kelas menengah itu terus mendewakannya. Akal sehat seperti diistirahatkan ketika mereka berhadapan dengan Ahok.

Kenapa demikian? Hal itu bukan terjadi dengan tiba-tiba, tapi merupakan sebuah kerja-kerja politik yang sistematis. Inilah politik gaya Ahok. Jangan bicara tentang keberpihakan terhadap rakyat jelata, itu usang. Politik gaya Ahok bukanlah keberpihakan pada rakyat jelata seperti diajarkan Soekarno, Hatta dan Tan Malaka. Politik gaya Ahok adalah pencitraan.

Bangunlah citra seakan – akan kita sebagai orang yang anti-korupsi. Untuk memperkuat citra itu pura-puralah marah terhadap para koruptor. Luapkan kemarahan itu dengan mengeluarkan kata-kata kotor, agar kelas menengah mengira itu mamang beneran. Ingat, jangan benar-benar marah. Pura-puralah saja. Dan jangan pernah takut, kepura-puraan itu terungkap. Tenang saja, kelas menengah Jakarta lebih suka bermain gadget daripada membaca buku, jadi mereka akan menelan mentah mentah citra yang kita bangun. Bahkan partai politik yang mengaku memiliki keberpihakan dan ideologi membela kaum miskin pun dengan mudah akan terpesona dengan politik pencitraan ini.

Di saat kelas menengah terpesona oleh politik pencitraan itulah, kita dapat berbuat apa saja. Setiap perbuatan kita akan dianggap sebagai kebenaran. Kita dapat menggusur kaum miskin dari ruang-ruang hidupnya, kita dapat menyingkirkan nelayan dari pantai dan laut untuk proyek reklamasi dan sebagainya.

Selamat belajar politik dari Ahok. Singkirkan saja buku-buku biografi politik Soekarno, Hatta dan Tan Malaka. Kalaupun harus berpihak, berpihaklah pada kaum kaya, bukan rakyat jelata. Jangan sekali-kali ikuti pokok-pokok ajaran politik Soekarno, Hatta dan Tan Malaka.

Karena Indonesia kedapan adalah negeri yang diperuntukan hanya bagi kaum kaya bukan rakyat jelata. Dan itu harus dimulai dari Ibukota Jakarta! Paham opo ora kowe ki?

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.