Puasa kaum borjuis di bulan Ramadan

fists-2
sumber gambar: anarkis.org

Oleh : Firdaus Cahyadi
( Executive Director OneWorld-Indonesia )
Rubrik Analisis Harian KONTAN

Senin, 29 Mei 2017
15:04 WIB

Nikmati berkahnya Ramadan dengan beragam promo istimewa dari kartu kredit dan debit. Begitulah salah satu tulisan iklan sebuah bank di media cetak nasional yang terbit di Jakarta. Inti pesan dari iklan itu adalah dengan menggunakan kartu kredit dari bank itu, kita bisa berbelanja lebih banyak, karena ada diskon di bulan Ramadan ini.

Memasuki bulan Ramadan, godaan berbelanja kian besar. Dari produsen obat kumur, handphone, baju hingga furnitur mewah yang harganya puluhan juta berlomba-lomba memasarkan produknya dengan mengaitkan momentum bulan Ramadan. Seakan-akan berbelanja adalah bagian dari ibadah.

Kenapa bisa demikian? Hal itu disebabkan para produsen produk barang dan jasa itu mengetahui bahwa justru di bulan Ramadan masyarakat makin konsumtif. Ini tecermin dari harga pangan pun selalu melonjak di hampir menjelang bulan Ramadan.

Meningkatnya harga bahan pangan di bulan Ramadan menjadi sebuah pertanda makin banyaknya permintaan terhadap barang kebutuhan pangan tersebut.

Padahal di bulan Ramadan, umat Islam, yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia justru diwajibkan berpuasa di siang hari. Harusnya dengan kewajiban berpuasa itu, justru permintaan terhadap barang kebutuhan pangan dan harganya pun menurun.

Kaum borjuis

Godaan untuk lebih konsumtif semakin meningkat menjelang datangnya hari Lebaran. Mal-mal dan pusat perbelanjaan menjadi lebih ramai pembeli dibandingkan hari sebelumnya.

Momentum Idul Fitri seakan menjadi pembenar bagi kita semua guna menghamburkan uang untuk berbelanja. Berbelanja barang apa saja, termasuk barang yang sebenarnya tidak begitu kita perlukan.

Ramadan sebagai bulan suci yang menempa seseorang agar lebih dekat dengan Tuhan dan juga mengasah kepedulian sosial kini seperti berubah menjadi bulan belanja.

Pesan sosial bulan Ramadan untuk memperbarui komitmen sosial kita terhadap mereka yang miskin dan tertindas inilah yang sering kandas sejak awal bulan Ramadan.

Pesan sosial perintah puasa agar seseorang ikut merasakan pahitnya penderitaan orang-orang miskin yang hampir setiap hari menahan lapar dan dahaga tidak pernah berbekas karena setelah berbuka puasa kita justru mengumbar nafsu untuk memakan apa saja.

Bahkan kerakusan kita tidak berhenti di atas meja makan. Di bulan Ramadan pun kerakusan kita merembet ke produk-produk lainnya. Tiba-tiba di bulan Ramadan kita ingin membeli handphone baru, baju baru, furnitur baru, mobil baru, bahkan rumah baru. Padahal barang-barang itu tidak ada kaitannya secara langsung dengan bulan Ramadan.

Puasa kita di bulan suci ini mungkin termasuk dalam kategori puasanya kaum borjuis. Istilah ini merujuk pada kelas menengah-atas yang dicirikan dari gaya hidup dan nilai-nilai mereka, yakni individualisme. Kaum borjuis ini bisa saja tanpa merasa bersalah bersuka ria meskipun kemiskinan dan ketidakadilan terjadi di depan mata mereka.

Ketika puasa kita adalah puasa kaum borjuis, kita gagal ikut merasakan penderitaan mereka yang miskin dan tertindas. Kita pun tidak begitu peduli dengan kehidupan mereka.

Kita merasa kewajiban untuk peduli terhadap orang-orang miskin selesai ketika kita menyerahkan zakat fitrah ke amil zakat di akhir bulan Ramadan. Padahal orang-orang miskin itu tidak hanya butuh makan di saat lebaran Idul Fitri saja. Mereka tetap perlu makan sepanjang mereka masih hidup.

Idealnya, jika kita berhasil menangkap pesan bulan Ramadan, hati kita lebih sensitif ketika melihat ada kemiskinan di sekitar kita. Namun, spirit Ramadan sudah hilang sejak di hari pertama.

Ramadan telah menjadi komoditas, sehingga kita justru gagal untuk ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin. Sensivitas sosial kita pun makin tumpul.

Seperti bulan-bulan Ramadan sebelumnya, kita pun merasa menjadi orang yang paling dekat dengan Tuhan setelah Lebaran tiba. Kita merasa kembali kepada kesucian di hari raya Idul Fitri. Kita tidak merasa ikut bersalah dengan ketimpangan sosial, kemiskinan dan ketidakadilan di sekitar kita.

Pertanyaan berikutnya adalah benarkah kita kembali kepada kesucian di saat Idul Fitri dengan model puasa kaum borjuis seperti itu?

Jawaban pertanyaan itu harusnya menjadi bahan refleksi kita sebagai bekal untuk menjalani ibadah di bulan Ramadan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: