Liberalisasi Pedidikan Tinggi di Tengah Bonus Demografi

Kabar baik itu datang dari istana negara pada Februari 2017 lalu. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya mengatakan bahwa kedepan Indonesia akan menikmati bonus demografi. “Tahun 2020-2030 kita Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi di mana penduduk usia produktif sangat besar. Artinya dalam kurun waktu 3-13 tahun ke depan kita akan memiliki banyak sekali SDM yang tengah pada puncak usia produktif,” kata Jokowi.

Data Statistik menunjukan bahwa bonus demografi akan mencapai puncaknya pada periode 2025–2030. Pulau dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Bali dan Nusa Tenggara (55,1), dan yang terendah Pulau Jawa (45,9). Tiga provinsi dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (66), Sulawesi Tenggara (59,9) dan Maluku (59,3). Sedangkan tiga provinsi dengan rasio ketergantungan terendah adalah DKI Jakarta (40,3), Jawa Timur (44,0) dan Kalimantan Timur (44,8).

Rasio ketergantungan ini merupakan perbandingan antara penduduk usia non produktif (penduduk 0-14 tahun dan 64 tahun ke atas) terhadap penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Apa itu artinya? Artinya kelimpahan penduduk usia produktif akan mampu dimanfaatkan untuk penopang pertumbuhan ekonomi. Terbayang sudah betapa majunya ekonomi Indonesia pada saat itu. Namun, kaitan bonus demografi dengan pertumbuhan ekonomi itu akan sekedar menjadi ilusi bila pemerintah tidak membekali kelimpahan sumberdaya manusia itu dengan kualitas yang memadai. Salah satu cara meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah pendidikan.

Bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia? Marilah kita lihat datanya. Statistik Indonesia menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia usia kerja yang berumur di atas 15 tahun mencapai 186,1 juta jiwa pada Agustus 2015. Dari jumlah tersebut 26 persennya atau 48,3 juta jiwa hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Sebanyak 22 persen berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan 17 persen tamatan Sekolah Menengah Umum.

Sementara menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk bekerja berpendidikan tinggi secara total hanya sebanyak 13,1 juta orang. Angka ini mencakup 3,1 juta orang atau 2,60 persen berpendidikan diploma, serta sebanyak 10 juta orang atau 8,29 persen berpendidikan sarjana

Artinya, tenaga kerja kita usia produktif masih memiliki pendidikan yang rendah. Padahal semakin tinggi pendidikan maka sumberdaya manusia akan semakin mampu menopang pertumbuhan ekonomi. Inilah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh siapapun pemimpin Indonesia.

Saat ini pemerintah sudah memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi penduduk miskin untuk bisa bersekolah. Tapi itu saja tidak cukup. Bonus demografi harus dimaksimalkan dengan memberikan kesempatan warga negara untuk mengenyam pendidikan tinggi. Nah, disinilah kemudian persoalannya menjadi rumit.

Proyek liberalisasi ekonomi menempatkan pendidikan tinggi sebagai komoditas jasa yang juga harus diliberalisasi. Untuk itulah subsidi di sektor ini harus dikurangi, bahkan dihapus sama sekali. Akibatnya, terjadilah komersialisasi pendidikan tinggi. Konsekuensi logis dari komersialisasi pendidikan tinggi adalah makin mahalnya biaya kuliah. Praktis hanya mereka, anak-anak orang kaya, yang bisa menikmati bangku kuliah. Bagi mereka yang miskin memang masih bisa menikmati bangku kuliah asal memberikan surat miskin. Nah, bagaimana bagi mereka yang orang tuanya tidak masuk dalam kategori miskin, namun juga tidak masuk dalam kategori keluarga kaya? Ya, merekalah kelompok yang akan tersingkir dari proyek liberalisasi pendidikan tinggi ini. Dan jumlah mereka tidaklah sedikit.

Bonus demografi adalah berkah, namun berkah itu bisa menjadi bencana bila akses pendidikan tinggi justru dihalangi oleh proyek liberalisasi di sektor ini. Inilah kenyataan yang harus dipilih oleh pemimpin negeri ini. Apakah pemimpin negeri ini memilih untuk melanjutkan liberalisasi pendidikan tinggi atau berkah dari bonus demografi?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: