Cacat Logika Jalan Simpang Susun Semanggi

Jakarta kembali memiliki jalan raya baru. Nama jalan itu adalah Simpang Susun Semanggi. Simpang Susun Semanggi sudah tersambung sepenuhnya setelah dilakukan pemasangan box girder terakhir untuk jalan layang sepanjang 1.622 meter tersebut, sekitar pukul 24.00 WIB pada Selasa (25/4).

Panjang jalan di Jakarta terus bertambah. Logika yang dipakai oleh pendukung pembangunan jalan raya di Jakarta adalah semakin panjang jalan bertambah, akan semakin mampu mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Para pendukung penambahan panjang jalan berpendapat  bahwa pembangunan jalan raya baru diperlukan untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan bermotor karena sejak 2012 hingga 2015 tidak ada penambahan panjang jalan. Benarkah logika tersebut?

Data Statistik menunjukan bahwa jalan terpanjang di ibu kota berupa jalan kota administrasi sepanjang 5.117,26 kilometer (Km). Kemudian jalan provinsi 1.562,28 Km terdiri dari arteri sekunder 535,26 Km dan kolektor sekunder 1.027,02 Km. Sedangkan jalan negara sepanjang 152,57 km terdiri dari arteri primer 128,88 km dan kolektor primer 23,69 km. Sementara yang berupa jalan tol sepanjang 123,73 Km. Apakah jalan raya sepanjang itu di Jakarta mampu mengurai kemacetan lalu lintas?

Untuk menjawabnya marilah kita lihat data kepadatan kendaraan di Jakarta. Jakarta menjadi salah satu kota termacet di dunia. Indonesia dalam Angka menyebutkan bahwa berdasarkan Tomton Traffic Index 2017,  Jakarta berada di urutan ketiga. Pengemudi membutuh waktu perjalanan ekstra hingga 58 persen.

Terbukti bahwa panjang jalan di Jakarta tidak juga mampu mengatasi kemacetan lalu lintas di Ibukota. Para pendukung pembangunan jalan raya baru pun berdalih bahwa itu dikarenakan penambahan panjang jalan di Ibukota tidak sebanding dengan penambahan jumlah pemakaian kendaraan bermotor. Karena itulah harus ada pertambahan panjang jalan di Jakarta. Alias harus ada pembangunan jalan raya baru di Ibukota, apakah itu jalan tol atau non tol. Benarkah logika para pendukung pembangunan jalan raya itu?

Cacat logika. Itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan logika yang digunakan oleh para pendukung pembangunan jalan baru di Ibukota. Penelitian di berbagai negara yang mengungkapkan bahwa pertambahan panjang jalan justru berdampak pada peningkatan jumlah penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Califonia Amerika Serikat menunjukkan bahwa setiap 1% penambahan panjang jalan dalam setiap satu mil jalur akan menghasilkan peningkatan kendaraan bermotor sebesar 0,9% dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995).

Di Mumbai, India misalnya, ketika panjang jalan diperpanjang dua kali lipat antara tahun 1951 and 2007, jumlah kendaraan bertambah 43 kali. Sebuah studi di University of California di Berkeley antara 1973 dan 1990 didapatkan bahwa untuk setiap 10% penaikkan kapasitas jalan raya (termasuk jalan tol), lalu lintas juga naik sekitar 9% dalam waktu 4 tahun. (1 Carol Jouzatis. “39 Million People Work, Live Outside City Centers.” USA Today, November 4, 1997: 1A-2A).

Sementara di Jakarta sendiri, sebuah studi kelayakan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta (PT Pembangunan Jaya, Mei 2005) mengungkapkan bahwa setiap pertambahan jalan sepanjang 1 kilometer di Jakarta akan selalu dibarengi dengan pertambahan penggunaan mobil sebanyak 1.923 unit. Dapat dibayangkan bagaimana macetnya Jakarta setelah jalan raya Simpang Susun Semanggi ini beroperasi.

Karena itulah tidak heran bila Lee Myung Bak, saat menjabat menjadi Wali Kota Seoul, Korea Selatan, berani menghancurkan jalan tol layang pada tahun 2003. Keberanian Lee Myung Bak menghancurkan jalan tol di Kota Seoul didasari pada sebuah keyakinan bahwa pembangunan jalan tol dalam kota tidak akan bisa mengatasi kemacetan lalu lintas. Pembangunan jalan tol dalam kota justru akan menambah kesemerawutan kota. Dengan menghancurkan jalan tol, ia justru ingin memberbaiki wajah kotanya.

Selain di Seoul, Korea Selatan, berbagai kota di dunia juga mulai menghancurkan jalan tol layangnya. Kota-kota yang telah menghancurkan jalan tol layangnya antara lain, Portland (Harbor Drive), San Francisco (Embarcadero Freeway), San Francisco (Central Freeway), Milwaukee (Park East Freeway), New York (West Side Highway) dan Paris (Pompidou Expressway).

Berbagai negara telah menyadari cacat logika dari pembangunan jalan raya baru untuk mengatasi kemacetan. Sementara di Jakarta, cacat logika itu terus dipelihara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: