Bali Darurat Infrastruktur Transportasi Massal

“Saya tidak berani menjemput orang ke Bandara Ngurah Rai kalau satu jam sebelumnya,” kata Pak Ketut, seorang sopir di Bali, beberapa waktu yang lalu, “Menuju ke bandara jalannya macet parah.”

Bali adalah salah satu pulau tujuan wisata di Indonesia. Tak heran banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang datang ke pulau ini. Keindahan alamnya tidak perlu diragukan lagi.

Statistik Indonesia menunjukan bahwa jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali pada periode Januari-Agustus 2016 meningkat sebesar 23,56 persen dari periode yang sama 2015. Dari data itu juga terlihat bahwa wisatawan paling banyak mereka berasal dari Australia, Cina dan Jepang. Tak heran bila kemudian Bali menjadi provinsi dengan tingkat hunian hotel berbintang tertinggi dibanding 14 provinsi lainnya dengan hunian di atas 50 persen.

Tak heran pula bila kemudian kemacetan lalu lintas juga terjadi di Pulau Dewata ini. Data Statistik menunjukan bahwa Bali masuk ke dalam menjadi  bagian dari tujuh provinsi teratas dengan rasio jumlah kendaraan terhadap panjang jalan tertinggi di Indonesia. Dari tujuh provinsi dengan kepadatan kendaraan bermotor tertinggi itu, Bali berada pada urutan ke-3 setelah Jakarta dan Jogjakarta. Bali adalah satu-satunya kota di luar Jawa yang kepadatan kendaraan bermotornya mengalahkan Jawa Timur,  Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di Bali, terdapat 503 unit kendaraan per satu kilometer.

Data tersebut diperkuat dengan data BPS pada 2010. Menurut data BPS, yang dikutip dalam sebuah tesis akademik, kenaikan rata-rata jumlah kendaraan bermotor di Bali sebesar 7% tiap tahunnya. Dampak dari kepadatan kendaraan bermotor itu sudah jelas kemacetan lalu lintas. Dan itu yang sekarang dirasakan oleh warga Pulau Dewata. Bagi masyarakat, kemacetan lalu lintas bukan saja berdampak pada hilangnya waktu, namun juga meningkatnya biaya kesehatan karena polusi udara.

Pertanyaan berikutnya adalah apa respon pemerintah? Untuk mengatasi terus naiknya jumlah pengguna kendaraan bermotor di Bali, ternyata pemerintah kembali menggunakan paradigma usang terkait dengan pembangunan infrastruktur transportasi, yaitu membangun jalan tol.

Jalan Tol Bali Mandara adalah nama jalan tol terapung pertama di Indonesia. Jalan tol itu sepanjang 12,7 km di atas laut. Panjang jalan tol di Bali ini hampir sama dengan Penang Bridge di Malaysia yang panjangnya mencapai 13,5 km, atau Union Bridge sepanjang 12,9 km di Kanada. Jalan itu menghubungkan antara Benoa, Ngurah Rai Tuban, dan Nusa Dua. Pertanyaannya adalah apakah jalan tol di Bali itu kemudian menyelesaikan persoalan kemacetan lalu lintas? Jawabnya tidak.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Califonia Amerika Serikat menunjukkan bahwa setiap 1% penambahan panjang jalan dalam setiap satu mil jalur akan menghasilkan peningkatan kendaraan bermotor sebesar 0,9% dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995).

Di Mumbai, India misalnya, ketika panjang jalan diperpanjang dua kali lipat antara tahun 1951 and 2007, jumlah kendaraan bertambah 43 kali. Sebuah studi di University of California di Berkeley antara 1973 dan 1990 didapatkan bahwa untuk setiap 10% penaikkan kapasitas jalan raya (termasuk jalan tol), lalu lintas juga naik sekitar 9% dalam waktu 4 tahun. (1 Carol Jouzatis. “39 Million People Work, Live Outside City Centers.” USA Today, November 4, 1997: 1A-2A).

Jika merujuk pada hasil penelitian itu, artinya, pembangunan jalan tol baru di Bali justru merangsang pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor. Lingkaran setan yang sulit diputus terkait dengan kemacetan lalu lintas pun mulai terjadi di Pulau Dewata ini.

Bagaimana memecahkan persoalan kemacetan lalu lintas di Pulau Dewata? Jawabannya adalah infrastruktur transportasi massal. Bali perlu segera membangun infrastruktur transportasi massal yang terintegrasi. Infrastruktur transportasi massal itu bisa berbasis jalan raya khusus, seperti trans-Jakarta atau berbasis rel. Pembangunan infrastruktur transportasi massal ini diperlukan untuk menarik pengguna kendaraan bermotor pribadi ke moda transportasi massal. Perpindahan moda transportasi itu diharapkan mampu mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas di Bali.

Bali perlu belajar dari kesalahan Jakarta yang sudah terlambat membangun infrastruktur transportasi massal. Cukup sudah keselahan  masa lalu di Bali dengan membangun jalan tol. Saatnya, Bali mengoreksi kesalahan masa lalu itu dengan segera membangun infrastruktur transportasi massal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: