Membumikan Pertumbuhan Ekonomi

2018-presiden-jokowi-targetkan-pertumbuhan-ekonomi-hingga-61-by-katadataHampir setiap menteri hingga Presiden Indonesia selalu menargetkan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negeri ini. Tak heran bila kemudian Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5,4-6,1 persen pada 2018.

Data Statistik, beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia jeblok. Sejak  2012, pertumbuhan ekonomi berada di atas 6 persen. Namun mengalami penurunan pada 2013. Pada tahun itu pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 5,78 persen. Dan kemudian pertumbuhan ekonomi terus menurun hingga tahun 2015. Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar pada angka 5,02 persen.Dan pada tahun 2015 merosot lagi menjadi 4,88 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonsia mulai menggeliat lagi pada 2016. Pada 2016, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen. Sementara pada 2017 diperkirakan akan tumbuh 5,1 persen.

Mulai menggeliatnya pertumbuhan ekonomi di 2016 patut disambut gembira. Namun, tidak perlu berlebihan dalam menyambutnya. Kenapa demikian? Karena baru-baru ini,  Oxfam, sebuah organisasi non-pemerintah, menyebutkan harta total empat orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Apa ini artinya? Artinya ketimpangan pendapatan di negeri ini sangat parah.

Bagaimana sebenarnya potret ketimpangan pendapatan di Indonesia? Untuk melihatnya ketimpangan pendapatan di Indonesia mari kita lihat angka Gini Ratio.

Gini Ratio merupakan metode untuk mengukur ketimpangan pengeluaran penduduk di suatu wilayah. Semakin tinggi nilai Gini Ratio maka ketimpangan semakin besar sementara jika angkanya semakin rendah berarti ketimpangannya semakin kecil.

era-jokowi-ketimpangan-pendapatan-turun-by-katadata Statistik Indonesia, sejak tahun 2011, angka Gini Ratio di Indonesia terus melonjak. Pada 2011, Gini Ratio di Indonesia berada pada angka 0,388. Namun pada tahun Maret 2012 melonjak menjadi 0,41. Pada Maret 2013, angka Gini Ratio kembali naik menjadi 0,413. Kemudian sempat turun pada September 2013 dan Maret 2014 di angka 0,406. Sayangnya, angka itu kembali melonjak ke angka 0,414 pada Semptember 2014.

Mengerikan bila kita melihat angka Gini Ratio di Indonesia yang mirip Roller Coaster. Tapi berita baiknya adalah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Gini Ratio Indonesia mengalami tren menurun sejak September 2014 hingga Maret 2016. Per Maret 2016, Gini Ratio Indonesia turun 0,011 poin menjadi 0,397 dari posisi Maret 2015, yakni 0,408.

Pertumbuhan ekonomi dikatakan berkualitas dan membumi bila mampu mengurangi ketimpangan pendapatan di masyarkaat. Presiden Jokowi tentu harus mempertahankan prestasinya yang mampu menurukan angka Gini Ratio. Bagaimana cara yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi untuk membumikan pertumbuhan ekonomi, sehingga tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang?

Tentu hal yang mendasar adalah merubah model pembangunan. Model pembangunan yang bias kelas menengah-atas harus dirubah. Pemerintah harus mulai melihat soko-guru (penyangga) masyarakat Indonesia. Baik Soekarno maupun Hatta, sependapat bahwa soko-guru masyarakat Indonesia adalah petani.

Peningkatan kemakmuran dari soko-guru masyarakat inilah yang harus dijadikan target untuk ditingkatkan.Peningkatan pendapatan kaum tani tidak mungkin didapatkan bila mereka dipisahkan dari tanah, air dan binih sebagai sumber-sumber kehidupannya. Namun, saat ini justru penyingkiran kaum tani dari sumber-seumber kehidupannya itu sering terjadi.

KendengPenyingkiran kaum tani dari sumber-sumber kehidupannya itu, salah satunya dialami oleh petani Kendeng, Jawa Tengah. Kini petani-petani di Kendeng sedang resah terhadap rencana pembangunan pabrik semen. Pembangunan pabrik semen akan mengancam sumber air di pegunungan karst yang ada di pegunungan Kendeng. Dan itu artinya bencana bagi kehidupan mereka sebagai petani.

Kersahan bukan hanya dialami petani Kendeng karena ancaman pembangunan pabrik semen. Keresahan juga dialami petani Majalengka. Pada bulan November 2016, beberapa petani di Majalengka ditangkap dan mengalami kekerasan aparat keamanan. Penyebabnya, para petani itu ingin mempertahankan tanahnya yang akan digusur proyek pembangunan bandara internasional Jawa Barat.

Petani di Kulon Progo, Yogyakarta juga mengalami hal yang sama. Tanah subur yang selama ini menjadi sumber penghidupan petani Kulonprogo akan hilang digantikan oleh bandara baru Yogyakarta. Tentu bandara internasional Yogyakarta bukan diperuntukan bagi para petani itu, namun bagi mereka kelas menengah yang ingin menghabiskan uangnya untuk berwisata di Kota Yogyakarta.

Penyingkiran petani dari sumber-sumber kehidupannya bukan hanya terjadi di tanah Jawa. Di Seko, Sulawesi Selatan, beberapa petani juga resah karena proyek PLTA mengancam sumber-sumber kehidupan mereka. Sebagian petani ditangkap dan dikriminalisasi karena melawan proyek pembangunan PLTA itu.

Celakanya, penyingkiran petani tidak hanya dengan tanah dan airnya, tapi juga dengan binih. Penyingkiran itu juga terjadi melalui berbagai kriminalisasi atas nama perlindungan paten. Kerentanan petani itu akan semakin meningkat bila pemerintah tidak berhati-hati mengikuti perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA).

Bila kita ingin membumikan pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi ketimpangan ekonomi, tidak bisa tidak ritual menyingkirkan soko-guru masyarakat Indonesia itu harus dihentikan. Petani tidak mungkin bisa bercocok tanam tanpa ada akses terhadap air, tanah dan binih. Kini bola ada di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kita berharap Presiden Jokowi akan membuktikan bahwa beliau akan membumikan pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan kesejahteraan soko-guru masyarakat Indonesia, kaum tani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: