Maret 1998

demo 1998Surabaya, Maret 1998. Mahasiswa mulai resah. Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 30 tahun kembali dipilih menjadi presiden. Tak berapa lama kabinet pun terbentuk. Anaknya sendiri diangkat menjadi menteri di kabinetnya.

Sementara, harga-harga barang di pasaran mulai naik.Nasi bungkus di warung juga ikut-ikutan naik. Biaya kos-kosan juga naik. Tukang fotocopy juga ikut menaikan harga. Buku-buku kuliah juga naik harganya, baik di toko buku maupun tukang loak. Harga kertas naik, kata mereka.

Sebagian mahasiswa mulai mempertimbangkan untuk mengambil cuti kuliah. Alasannya, bapaknya kini di PHK dari tempat kerjanya. Tidak punya banyak uang untuk bayar kuliah.

Mahasiswa, yang merupakan bagian dari kelas menengah, saat itu mulai merasakan dampak dari salah urus pemerintahan Orde Baru. Sebelumnya, mahasiswa tidak begitu peduli dengan penderitaan yang menimpa sebagian besar rakyat kelas bawah selama Soeharto berkuasa. Kalaupun ada yang peduli itu hanya sedikit mahasiswa. Biasanya mereka yang suka nongkrong di sekretariat organisasi mahasiswa ekstra kampus, macam HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, SMID dsb. Namun, saat itu keresahan sudah mulai menjalar hampir di seluruh mahasiswa, baik yang aktivis atau mahasiswa yang kerjanya hanya belajar, main dan pacaran.

Majalah-majalah dinding di kampus mulai banyak ditempelin artikel-artikel yang mengkritik pemerintah. Meskipun sebelumnya hal itu sudah ada, namun bulan Maret 1998 frekuensinya mulai bertambah. Artikel-artikel panas Dr.Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko, Rizal Ramli dan tokoh-tokoh kritis lainnya lebih sering tertempel di majalah dinding kampus. Tak ketinggalan puisi-puisi perlawanan Widji Thukul.

Fotocopy-an halaman tempointeraktif, majalah TEMPO versi internet, mulai sering disebarkan. Saat itu majalah TEMPO masih dibredel pemerintah. Diskusi-diskusi kecil mahasiswa pun mulai sering digelar. Mahasiswa mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Masih di bulan Maret, 1998. Mimbar Bebas digelar di kantin ITS Surabaya. “Mahasiswa UI yang selama ini cuek terhadap politik, kini sudah turun ke jalan, masak kita arek Suroboyo masih enak-enakan ngopi,” ujar salah seorang aktivis mahasiswa, yang kini menjadi petinggi di sebuah harian besar di Jawa Timur.

Hampir tiap hari kampus-kampus di Surabaya menggelar mimbar bebas. Agendanya tunggal, mengkritik rejim Soeharto.

“Kita ga berjalan kemana-mana jika hanya mimbar bebas,” ujar seorang kawan,”Kita harus mulai turun ke jalan.”

Demonstrasi di era Soeharto tidak seperti sekarang. Kita harus mempersiapkan kondisi terburuk bila diciduk tentara. Setelah lama berdebat. Akhirnya malam-malam mahasiswa sibuk membikin poster dari kertas karton. Isinya, meminta Soeharto turun dari kekuasaan.

Sejak Maret 1998 itulah hampir setiap malam, mahasiswa sibuk dengan urusan membuat poster demonstrasi. Dan hampir setiap pagi, mahasiswa sudah keluar dari ruang-ruang kuliah untuk berdemonstrasi.

Semoga ini menjadi pelajaran, jangan sampai kita kembali ke era kegelapan di bawah kekuasaan korup dan menindas Orde Baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: