Air Bersih, Wajah Bopeng Ibukota

 

Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

(Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945)

krisis airBisakah kita hidup tanpa air bersih? Jawabnya singkat, tidak bisa. Semua yang hidup akan mati tanpa air. Tak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa air adalah sumber kehidupan.

Sebagai sumber kehidupan,  akses air bersih adalah hak asasi manusia (HAM). Menurut kerangka HAM inilah maka ada kewajiban negara untuk menghormati, memenuhi dan melindunginya. Singkatnya ada hak warga dan ada kewajiban negara.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana akses warga negara di berbagai belahan dunia terhadap air bersih?  World Water Development Report pada 2010 melaporkan sekitar 4.000 anak meninggal setiap hari akibat air yang tercemar. Sementara itu, sebuah lembaga nonprofit asal Amerika Serikat, Water.org, mengemukakan bahwa saat ini satu dari delapan anak di dunia tidak bisa menikmati air minum yang aman bagi kesehatan.

Di Indonesia, hak atas air secara tersirat ada di Pasal 33 UUD 1945. Dalam Pasal UUD 1945 secara jelas disebutkan bahwa air dikuasai negara. Tujuannya untuk kemakmuran rakyat. Semangat pasal ini jelas menekankan kewajiban negara, melalui penguasaan atas air, untuk memenuhi hak warga atas air.

Lantas, bagaimana akses warga Indonesia terhadap air bersih? Marilah kita runut dari akses warga Kota Jakarta terhadap air bersih. Kota Jakarta adalah pusat pemerintahan dan ekonomi. Di kota ini istana negara, tempat presiden bekerja, berada. Di sini pula sekitar 60% peredaran uang di Indonesia ditransaksikan.Meskipun begitu akses warga Kota Jakarta terhadap air bersih adalah bagian dari wajah bopeng Ibukota.

Bagaimana tidak,   Saat ini dari 10 juta penduduk DKI Jakarta, hanya sekitar 53 persen saja yang terlayani air bersih. Bayangkan kota semegah Jakarta ada separuh lebih warganya yang selalu menggunakan air tercemar dalam aktivitas kesehariannya.

Krisis air bersih sebenarnya cerita usang yang selalu berulang di Jakarta. Pada 2008, data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, selama periode Januari-Mei tahun tersebut, di Jakarta Pusat terjadi kelebihan penyedotan air tanah oleh pelanggan rumah mewah dan niaga dari sumur bor hingga sekitar 929.076 meter kubik (m3), sedangkan kelebihan penyedotan dengan sumur pantek mencapai 136.454 m3.

Kelebihan juga terjadi di Jakarta Timur. Penyedotan dengan sumur bor hingga 1.924.377 m3 dan sumur pantek 253.577 m3. Penyedotan diduga dilakukan pelaku industri, pemilik pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Kelebihan penyedotan dengan sumur bor terbesar terjadi di wilayah Jakarta Selatan, yaitu sekitar 1.718.600 m3 dan dengan sumur pantek 428.100 m3. Kelebihan penyedotan di Jakarta Barat dengan sumur bor sekitar 760.834 m3 dan dengan sumur pantek 96.361 m3. Di Jakarta Utara, kelebihan penyedotan air tanah dengan sumur bor sekitar 602.358 m3 dan dengan sumur pantek 62.115 m3.

Air hujan yang seharusnya bisa mengisi air tanah ternyata justru menjadi air larian (run off) penyebab banjir. Data BPLHD DKI Jakarta menyebutkan, dari 2.000 juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian yang berpotensi menimbulkan banjir di perkotaan.

Adalah kewajiban negara, dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta untuk menyediakan air bersih. Tapi apa daya. Justru di Jakarta kewajiban itu diserahkan pada swasta. Pada 1998 privatisasi air  dua perusahaan asing Suez Lyonnaise des Eaux (Perancis) dan Thames Water (Inggris) mendapatkan konsesi 25 tahun untuk menyediakan layanan air di Jakarta melalui proses penunjukan langsung.

Wajah bopeng ibukota terkait akses air bersih warganya ini terus ditutupi dengan aneka kosmetik. Aneka kosmetik itu berupa pembangunan fisik gedung dan jalan raya. Celakanya, kosmetik itu justru membuat krisis air bersih makin parah. Wajah bopeng itu kini kian terlihat secara telanjang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: