Membunuh Siklus Air di Jakarta

krisis-air-minum-di-jakarta
Sumber foto: http://nanosmartfilter.com

Air adalah sumber kehidupan. Namun, seringkali justru itu yang sering dilupakan.

Saat sekolah di Sekolah Dasar (SD) dulu, kita diajarkan mengenai siklus air. Namun, seiring dengan perjalanan waktu kita melupakan siklus air tersebut. Kita justru membunuh siklus air yang terjadi. Akibatnya, krisis air yang terjadi.

Lihat saja bagaimana kita mengelola air yang jadi sumber kehidupan itu. Pengelolaan air di Jakarta dapat dijadikan contoh dalam hal ini.

Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, selama periode Januari-Mei 2008, di Jakarta Pusat terjadi kelebihan penyedotan air tanah oleh pelanggan rumah mewah dan niaga dari sumur bor hingga sekitar 929.076 meter kubik (m3), sedangkan kelebihan penyedotan dengan sumur pantek mencapai 136.454 m3.

Kelebihan juga terjadi di Jakarta Timur. Penyedotan dengan sumur bor hingga 1.924.377 m3 dan sumur pantek 253.577 m3. Penyedotan diduga dilakukan pelaku industri, pemilik pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Kelebihan penyedotan dengan sumur bor terbesar terjadi di wilayah Jakarta Selatan, yaitu sekitar 1.718.600 m3 dan dengan sumur pantek 428.100 m3. Kelebihan penyedotan di Jakarta Barat dengan sumur bor sekitar 760.834 m3 dan dengan sumur pantek 96.361 m3. Di Jakarta Utara, kelebihan penyedotan air tanah dengan sumur bor sekitar 602.358 m3 dan dengan sumur pantek 62.115 m3.

Air hujan yang seharusnya bisa mengisi air tanah yang telah diambil ternyata justru menjadi air larian (run off). Banyaknya air larian dalam setiap musim hujan di Jakarta juga yang menjadi penyebab banjir. Data BPLHD DKI Jakarta, 2007, menyebutkan, dari 2.000 juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian yang berpotensi menimbulkan banjir di perkotaan. Menyusutnya ruang terbuka hijau dan maraknya pembangunan kawasan komersial menjadi pemicu meningkatnya air larian di Jakarta.

Sebentar lagi Kota Jakarta menggelar pemilihan gubernur putaran ke-2. Belajar dari kampanye putaran pertama, persoalan krisis air ini tidak menjadi perdebatan publik. Jika dibahas, itu hanya terkait dengan banjir. Dan solusinya biasanya adalah dengan normalisasi sungai. Artinya, dengan membuang sebanyak mungkin air hujan ke aliran drainase. Padahal sebaik apapun drainasenya tidak akan mampu menampung air hujan bila air larian semakin banyak. Tidak pernah terpikir oleh calon gubernur itu untuk menghidupkan lagi siklus air dengan mamasukannya lagi ke dalam tanah.

Ada berbagai alasan mengapa kebijakan yang dipilih adalah normalisasi sungai bukan memperbanyak daerah resapan. Salah satunya mungkin, karena bila normalisasi sungai yang akan dikorbankan adalah warga miskin kota yang tinggal di bantaran. Sementara bila pilihannya memperluas daerah resapan, maka akan mengorbankan kawasan komersial dan pemukiman mewah kaum kaya Jakarta yang didirikan di atas hutan kota, ruang terbuka hijau atau daerah resapan lainnya. Nampaknya, pilihannya adalah dengan mengorbankan mereka yang miskin, yang tinggal di bantaran sungai. Meskipun sebenarnya, mereka juga bisa digeser seperti di Yogyakarta oleh Romo Mangun.

Semoga persoalan air ini menjadi perdebatan jelan pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran ke-2 ini. Sebuah harapan yang wajar dan sederhana dari masyarakat, namun sangat penting. Karena bagaimanapun, pengelolaan air tidak bisa dipisahkan dari kebijakan public. Dan kebijakan public adalah persoalan politik. Persoalan krisis air bersih di Jakarta ini lebih layak diperdebatkan daripada persoalan perbedaaan agama dan etnis sang calon gubernurnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: