Jejak Ekologi Pembangunan Ibukota di Kota Bogor

rtrw-jakarta-2030-perda-prov-dki-jakarta-no1-tahun-2012-1-638Jakarta, sebuah kota dengan sejuta bangunan menjulang. Pembangunan di Ibukota Republik Indonesia ini begitu massif. Bukan saja menyisakan persoalan lingkungan hidup di Jakarta, pembangunan itu juga membuat harga tanah di Ibukota menjadi mahal.

Tahun 2015, Kompas.com menulis, harga tanah di Jakarta sudah mencapai Rp.15 juta per meter perseginya. Siapa yang bisa membeli tanah dengan harga setinggi itu?

Jawabnya ada dua. Pertama, orang super kaya. Kedua, perusahaan developer property. Kedua pihak itulah yang mampu membeli tanah di Jakarta. Sementara, para buruh yang setiap hari bekerja di Jakarta hanya punya dua pilihan. Pertama sewa rusun dan kedua membeli rumah di sekitaran Jakarta, salah satunya di Kota Bogor.

Celakanya, developer property begitu cepat mengetahui gejala ini. Tanah-tanah di Bogor pun dengan cepat beralihfungsi. Tanah yang tadinya ruang hijau, tiba-tiba sudah berubah menjadi perumahan.

Kota hujan pun mengalami krisis ruang terbuka hijau. Dari waktu ke waktu luas ruang terbuka hijau di Kota Bogor makin menipis. Ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bogor masih jauh dari ideal. Hingga saat ini, salah satu daerah penyangga Ibu Kota itu baru memiliki RTH sebesar 2,7 persen merupakan RTH publik. Padahal komposisi RTH harusnya adalah 20 persen RTH publik.

Menipisnya RTH berarti menipisnya pula daerah resapan air. Sebagai kota hujan, menipisnya resapan air adalah sebuah kabar buruk. Dan kabar buruk itu benar-benar terjadi. Senin, 27 Februari 2017, banjir bandang terjadi di SMAN 2 Kota Bogor. Bukan hanya harta benda yang hilang namun juga telah menimbulkan korban jiwa.

banjir-sman2-bogor
Banjir di SMAN 2 Kota Bogor pada 27 Februari 2017. Sumber foto: bogor.tribuners.com

Banjir bukan hanya terjadi di SMAN 2 Kota Bogor. Pada hari yang sama banjir juga terjadi di perumahan Tamansari Persada. Kompleks perumahan yang tak jauh dari SMAN 2 Kota Bogor. Kompleks perumahan ini sudah sering menjadi langganan banjir. Namun, nampaknya itu tidak menarik perhatian Pemerintah Kota Bogor untuk menghentikannya.

banjir-di-tamansari-bogor
Banjir di Perumahan Tamansari Persada Bogor

Potensi bencana ekologi akan terus meningkat seiring dengan massifnya pembangunan di kota ini. Di sepanjang jalan Sholeh Iskandar Kota Bogor, lokasi yang tak jauh dari SMAN 2 Bogor dan Perumahan Tamansari Persada misalnya, saat ini sedang dibangun jalan tol. Pembangunan jalan tol itu menghancurkan pohon-pohon di sepanjang jalan itu. Akibatnya, sudah pasti, air hujan yang semula dapat terserap, meskipun sedikit, oleh taman-taman di sepanjang jalan Sholeh Iskandar, akan berubah menjadi air larian (run off). Ini yang akan meningkatkan potensi banjir di kawasan itu.

Jejak ekologi pembangunan Jakarta begitu nyata terlihat di Kota Bogor. Dan ketika terjadi bencana ekologi di Kota Bogor, apakah para pengambil kebijakan di Ibukota juga bertanggungjawab? Jawabnya tidak. Krisis ekologi di Ibukota saja tidak pernah dipedulikan oleh mereka apalagi jejak ekologi pembangunan Jakarta yang terjadi di Kota Bogor.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: