Nasib Petani Di Tahun 2017

Kolom Opini KONTAN tanggal 02 Januari 2017.

oleh: Firdaus Cahyadi
Waktu terus berjalan, tahun pun berubah. Pertanyaannya adalah bagaimana nasib petani di 2017? Untuk menjawabnya, kita harus melihat kembali nasib petani di sepanjang tahun 2016. Dengan melihat nasib petani di sepanjang tahun 2016, kita akan bisa melihat bagaimana nasib petani di 2017.

Desember 2016 adalah bulan yang mungkin tidak dapat dilupakan oleh petani Kendeng di Jawa Tengah. Di pengujung tahun 2016, tenda perjuangan petani Kendeng yang didirikan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dirubuhkan oleh petugas Satpol PP Kota Semarang.

Para petani Kendeng melakukan aksi mendirikan tenda perjuangan untuk menuntut Gubernur Jawa Tengah segera mematuhi putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 99 PK/TUN/2016 yang mengharuskan gubernur mencabut izin lingkungan PT Semen Indonesia.

Aksi petani Kendeng mendirikan tenda di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah itu bukan tanpa sebab. Sebelumnya, petani-petani Kendeng melakukan jalan kaki hingga ratusan kilometer dari Rembang meniyu Semarang. Tujuannya sama, mendesak pemerintah segera melaksanakan putusan MA yang membatalkan izin pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng Utara.

Mengapa petani Kendeng begitu bersikeras menolak pembangunan pabrik semen di kawasannya? Alasannya sederhana. Mereka adalah para petani. Tanah dan air adalah sumber-sumber kehidupan bagi petani Kendeng.

Pembangunan pabrik semen akan mengancam sumber air di pegunungan karst yang ada di pegunungan Kendeng. Dan itu artinya bencana bagi kehidupan mereka sebagai petani.

Tapi hasil audensi para petani dengan pejabat Gubernur Jawa Tengah membuat perih hati para petani Kendeng yang telah berjalan ratusan kilometer. Bagaimana tidak, pihak Gubernur Jawa Tengah ternyata telah merilis izin lingkungan baru tentang kegiatan penambangan bahan baku semen dan pembangunan serta pengoperasian pabrik semen.

Pemerintah yang seharusnya melaksanakan keputusan MA justru membuat kebijakan baru yang bertentangan dengan putusan hukum itu. Negara hukum telah berubah mer\jadi negara kekuasaan. Petani sebagai garda terdepan dari kedaulatan pangan kembali dikhianati.

Bukan hanya dalam kasus pembangunan pabrik Semen di Kendeng sya petani disingkirkan. Sebelumnya, pada bulan November, beberapa petani di Majalengka, Jawa Barat, ditangkap dan mengalami kekerasan aparat keamanan. Penyebabnya, para petani itu ingin mempertahankan tanahnya yang akan digusur proyek pembangunan bandara internasional Jawa Barat.

Kriminalisasi petani

Tidak hanya petani Jawa Barat yang tanahnya terancam digusur proyek bandara internasional. Petani di Kulon Progo, Yogyakarta, juga mengalami hal yang sama. Tanah subur yang selama ini menjadi sumber penghidupan petani Kulon-progo akan hilang digantikan oleh bandara baru Yogyakarta.

Tentu bandara internasional Yogyakarta bukan diperuntukkan bagi para petani itu, namun bagi mereka kelas menengah yang ingin menghabiskan uangnya untuk berwisata di Kota Yogyakarta.

Celakanya, proses penyingkiran petani dari sumber-sumber kehidupannya bukan hanya melalui alih fungsi lahan pertanian menjadi pabrik semen atau bandara internasional. Penyingkiran itu juga terjadi melalui berbagai kriminalisasi atas nama perlindungan paten.

Terkait kriminalisasi petani ini, tentu kita masih ingat dengan petani asal Jawa Timur yang bernama Pak Tukirin. Pada pertengahan Februari 2005 silam, ia dijatuhi hukuman percobaan selama satu tahun. Pak Tukirin dituduh mencuri benih jagung oleh sebuah perusakan benih, yang sebelumnya bekerjasama dengan petani lokal menanam jagung hibrida.

Menurut data dari Walhi Jawa Timur, Pak Tukirin memperoleh benih Jagung yang dijual bebas tersebut secara sah dari penyalur benih resmi. Pak Tukirin mengembangkan pengetahuan mengenai budidaya jagung yang dimilikinya. Ia melakukan inovasi cara berbudidaya jagung dengan melakukan penyerbukan silang antar tanaman jagung.

Sejak kasus Pak Tukirin itu mencuat hingga kini, belasan petani pemulia benih harus berhadapan dengan hukum. Petani pemulia benih rentan dikenai tindak pidana paten, rahasia dagang, ataupun un-dang-undang varietas tanaman yang tak memberikan perlindungan hukum bagi petani. Kerentanan petani itu akan semakin meningkat bila pemerintah tidak berhati-hati mengikuti perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA).

Selama ini, perusahaan benih dan pestisida telah memonopoli benih-benih ciptaannya. Kondisi itu tidak memungkinkan petani kecil membudidayakan.

Dengan jaminan perlindungan paten yang tinggi dalam hampir semua FTA, akan semakin banyak petani yang berpotensi korban-kor-ban kasus kriminalisasi benih akan meningkat .

Beberapa waktu yang lalu Indonesia baru saja menjadi tuan rumah perundingan perdagangan bebas ASEAN RCEP (Regional Comprehensive Eco-nomic Partnership). Sebuah perundingan perdagangan bebas antara anggota ASEAN dan mitra-mitranya.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa isi perundingan perdagangan bebas ASEAN RCEP adalah copy-paste (menyalin) isi dari perundingan Trans Pasific Partnership (TPP) yang saat ini justru dihentikan oleh Amerika Serikat

Jika isi perundingan RCEP adalah copy-paste dari isi TPP maka itu adalah malapetaka bagi petani Indonesia. Petani bukan saja disingkirkan dari tanah dan airnya, namun juga dari benihnya. Nasib petani di sepanjang 2016 ini sangat menyesakkan dada kita. Para petani senantiasa disingkirkan atas nama pembangunan, perlindungan paten benih, dan juga perdagangan bebas.

Di tahun 2017 nampaknya, nasib petani kita belum banyak berubah dibandingkan dengan tahun 2016. Kedaulatan pangan masih menjadi sekadar janji belaka. Perlu ada terobosan yang lebih berani dari Presiden Joko Widodo untuk mengakhiri nasib pilu petani di negeri ini. Penyingkiran petani tidak boleh terulang lagi di tahun 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: