Menghemat Air untuk Ibukota

 

“Pada saat saya bayar air tadi, ada pengumuman bahwa  daerah Tebet dan Kampung Melayu akan alami kesulitan aliran air dari PAM,” ujar Pian, seorang office boy di kantorku pada Oktober 2016 lalu. Kebetulan kantor saya ada di Tebet, Jakarta Selatan.

“Katanya, air sungai yang menjadi sumber PAM sudah kering,” ujar Pian, “Tapi kalau malam hari dan pagi hari, air tetap kencang Pak,”. Musim kemarau memang membuat sebagian sungai mengalami kekeringan. Dan Kekeringan di sungai adalah malapetaka bagi Perusahaan Air Minum (PAM). Pasalnya, air dari sungai itulah yang menjadi bahan dari air PAM yang dialirkan ke rumah-rumah tangga dan perkantoran di Jakarta.

“Duh, apa yang bisa saya lakukan ya,” kata saya dalam hati. Saya termasuk salah satu orang yang berkepentingan dengan lancarnya air di kantor. Hal itu disebabkan karena hampir setiap hari, saya mengawali hari dengan berolahraga sebelum bekerja. Kadang saya olahraga di dalam ruangan. Namun, tak jarang pula saya harus jogging di Taman Tebet, yang tak jauh dari kantor saya bekerja.

Saya pun memutar otak agar krisis air tidak begitu berdampak di kantor saya. Aha…waktu saya datang pagi-pagi saya lihat Pian, office boy saya, asyik menyiram tanaman menggunakan selang. Oh, andai kata air untuk menyiram tanaman digunakan untuk mengisi tandon atau toren air, tentu kita bisa menghemat air.

Akhirmya, saya meminta agar office boy untuk mengganti kegiatan menyiram tanaman di pagi hari dengan mengisi toren air. Sementara untuk menyiram tanaman, saya meminta office boy menampung air dari AC (pendingin ruangan) yang dipakai oleh staf sepanjang siang saat mereka bekerja. Hasilnya, lumayan. Sepanjang siang, semua staf tidak kesulitan saat menggunakan kamar mandi. Mereka tidak kekurangan air. Tanaman pun tetap hijau karena disiram pakai air hasil dari pendingin ruangan.

Apakah hanya itu?

Tidak. Menghemat air memang bagus. Tapi itu saja tidak cukup. Saya pun melaporkan kekurangan air di Tebet melalui SMS ke pihak terkait. Bahkan saya juga menulisnya di Kompasiana. Tujuannya, agar para pengambil kebijakan di Pemprov DKI Jakarta mengetahui bahwa terjadi krisis air di kawasan Tebet dan Kampung Melayu. Biarkan mereka mencarikan solusinya secara permanen dalam level kebijakan.

Kembali ke persoalan menghemat air. Meskipun dikategorikan sebagai solusi individual namun menghemat air akan menjadi masif bila hal itu dilakukan oleh banyak orang. Jika gerakan menghemat air ini ditularkan maka akan menjadi gerakan kolektif. Sehingga akan menghindarkan Jakarta dari krisis air bersih. Dan karena itulah saya menulis pengalaman saya di blog ini.Semoga gerakan hemat air, meskipun sebuah langkah kecil, akan mampu menjadi gerakan kolektif yang terus membesar. Semoga.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: