Zakat untuk Keadilan Ekologis

 

nealayan tolak reklamasi

Sumber foto: Liputan6.com/Yoppy Renato

Marilah kita berjalan-jalan di Teluk Jakarta. Di kawasan itu sedang ada proyek besar yang bernama reklamasi pantai. Sederhananya reklamasi pantai adalah kegiatan mengurug lautan untuk dijadikan daratan.

Mengapa harus dijadikan daratan. Karena di atas tanah hasil reklamasi itu akan dibangun kawasan komersial dan pemukiman mewah untuk kelas menengah di Jakarta. Lho, lantas bagaimana dengan nelayan di Teluk Jakarta?

Nelayan Teluk Jakarta yang menggantungkan hidup dari kelestarian pantai dan lautan harus minggir. Paling tidak mereka harus menempuh jarak lebih jauh jika ingin melaut. Biaya yang harus ditanggung pun akan semakin besar. Belum lagi bila kemudian terjadi kerusakan ekologis di wilayah pesisir akibat reklamasi Teluk Jakarta. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitu kata pepatah.

Lantas, apakah kerugian nelayan akibat proyek reklamasi Teluk Jakarta itu dimasukan dalam skema ganti rugi? Hampir pasti tidak. Inilah yang dinamakan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang diakibatkan oleh kebijakan pembangunan yang menyingkirkan warga miskin dari tata ruang wilayah. Kebijakan ini menghasilkan ketidakadilan ekologis. Dan ketidakadilan ekologis inilah yang mengakibatkan keruskaan lingkungan hidup dan kemiskinan.

Ketidakadilan dan kerusakan ekologis ini tidak hanya terjadi di pantai tempat proyek reklamasi dikerjakan, tapi akan meluas. Sekali waktu jaklah anak anda pergi ke Pantai Ketapang, Mauk, Tangerang. Perlihatkan pada anak anda desa-desa nelayan yang hancur akibat abrasi pantai. Abrasi pantai itu terjadi karena pasir di pantai itu diambil untuk proyek reklamasi di wilayah lain. Karena keruskaan dan ketidakadilan ekologi meluas maka pemiskinan warga pun ikut meluas. Bagaimana tidak, warga yang sudah miskin harus mengeluarkan biaya lagi untuk membangun rumahnya yang diterjang abrasi.

Nampaknya, kaitan antara ketidakadilan ekologis dan pemiskinan warga ini mulai disadari Dompet Dhuafa. Pada bulan Juni ini, bertepatan dengan bulan Ramadhan, di kawasan Desa Ketapang, Mauk, Tangerang, Banten, Dompet Dhuafa bersama ratusan relawan dan masyarakat setempat mengadakan penanaman 1.000 bibit Mangrove. Gerakan bertajuk #RamadhanMenanam tersebut bukan hanya menjadi titik awal membangun gerakan bersama dalam merawat lingkungan namun juga menegaskan bahwa zakat dapat digunakan untuk mewujudkan keadilan ekologis.

Semangat zakatnesia yang mencoba mewujudkan keadilan ekologis bagi warga miskin ini harus tetap dirawat. Bahkan semangat itu harus ditularkan ke lembaga-lembaga zakat lain dan juga di wilayah-wilayah lain. Karena hampir di setiap wilayah terjadi ketidakadilan ekologis yang berujung pada kerusakan lingkungan hidup dan pemiskinan.

Zakatnesia

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: