Dompet Dhuafa dan Kebangkitan Kaum Tani

Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah….
Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah….
Apa jadinya jika hukum sekedar bendera-bendera pajangan…
Jadilah penghisapan sesama manusia
Yang hanya melahirkan drakula-drakula….

(Hura Hura Huru Hara, Iwan Fals)

 

Kaum tani, mungkin adalah kelompok masyarakat yang paling pilu nasibnya di negeri ini.Penghasil bahan pangan bagi ratusan juta penduduk itu tidak pernah menikmati hasil jerih payahnya yang layak meskipun harga pangan di pasar melonjak. Mereka tetap saja miskin.

Saat rejim Orde Baru berhasil dengan melakukan swasembada beras melalui revolusi hijau juga tidak meningkatkan taraf hidup mereka. Bahkan Revolusi Hijau yang digembar-gemborkan berhasil mewujudkan swasembada beras ternyata merupakan jebakan baru bagi kaum tani untuk semakin jatuh dan terpuruk dalam jurang kemiskinan.

Bagaimana tidak, proyek Revolusi Hijau ternyata membuat kaum tani menjadi tergantung kepada korporasi yang memproduksi binih hingga pestisida. Korporasi binih dan pestisida pun semakin kaya, sementara petani bertambah miskin.

Kondisi yang menghimpit kehidupan kaum tani itu semakin diperburuk dengan maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan komersial baru dan pemukiman mewah bagi kelas menengah. Petani semakin miskin karena mereka kini hanya memiliki tanah yang sempit. Mereka jatuh menjadi petani gurem atau bahkan beralih profesi menjadi buruh industri.

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan, luas lahan pertanian di Pulau Jawa yang telah beralih fungsi selama kurun 2009-2011 mencapai 600 ribu hektare. Total lahan pertanian yang tersisa hanya sebesar 3,5 juta hektare. Data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan jumlah rumah tangga petani kian menyusut. Seperti yang ditulis oleh sebuah media daring, menurut BPS jumlah rumah tangga usaha tani pada 2013 turun 16 persen dibanding pada 10 tahun yang lalu. Pengurangan ini terjadi karena banyak petani yang beralih menjadi buruh industri atau profesi lainnya.

Di tengah kondisi yang menghimpit kaum tani itulah, Dompet Dhuafa mencoba bekerja dalam senyap untuk mendorong kebangkitan kaum tani di negeri ini. Seperti ditulis di website http://pertaniansehat.com/, pada Juni  1999 Dompet Dhuafa mendukung terbentuknya Laboratorium Biologi Dompet Dhuafa Republika yang kegiatan utamanya adalah meneliti dan mengembangkan sarana produksi pertanian tepat guna untuk membantu petani.

Produk awal yang muncul pertama kali adalah virus pengendali pengganggu tanaman dengan nama Vir-X dan Vir-L. Dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun muncul berbagai produk sarana pertanian ramah lingkungan seperti pupuk organik OFER (Organic Fertilizer), agensi hayati pengendali hama tanaman serta berbagai pestisida nabati.

Waktu berlalu hingga pada tahun 2012 berdirilah PT. Pertanian Sehat Indonesia. Meskipun berbentuk perusahaan, PT Pertanian Sehat Indonesia akan tetap mempertahankan karakter dasar aktivitasnya yakni fokus dalam pengembangan pertanian yang berbasis pada masyarakat kecil.

Dalam konteks inilah kemudian program “Zakatnesia” menjadi penting untuk mendukung gerakan bangkitnya kaum tani di berbagai pelosok negeri. Kebangkitan kaum tani inilah yang akan menjadi kunci dari kedaulatan pangan.

Zakatnesia

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: