Dompet Dhuafa di Tengah Komersialiasi Pendidikan

Kemiskinan dan pendidikan. Dua kata yang menjadi rantai kemiskinan di negeri ini. Seseorang miskin karena tidak memiliki pendidikan yang cukup. Namun, orang tidak memiliki pendidikan yang cukup karena ia miskin. Rantai kemiskinan itu harusnya diputus bukan dipertahankan.

Namun, nampaknya rantai kemiskinan itu justru dipertahankan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang telah mengkomersialisasikan institusinya.

Salah satu sekolah di kawasan Jakarta Timur, misalnya, menyelenggarakan pendidikan sejak dini, dari kelompok bermain (playgroup) hingga sekolah menengah pertama. Selain memakai label agama, sekolah itu mengklaim sebagai sekolah hijau. Sebuah perpaduan label yang menarik untuk dijual. Sekolah yang berbasiskan nilai-nilai religius dan ramah lingkungan hidup.

Lantas bagaimana dengan biaya pendidikan di sekolah tersebut? Untuk tingkat kelompok bermain, sekolah itu mematok harga sekitar Rp 10 juta pada tahun pertama, termasuk uang pangkal, uang sekolah, dan biaya lainnya. Biaya pendidikan pun semakin mahal seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Untuk SMP, misalnya, sekolah itu mematok harga kurang-lebih Rp 15 juta.

Bagaimana biaya pendidikan di sekolah lainnya di Jakarta? Di website keluargacerdas.com dituliskan soal beberapa sekolah di kawasan Jakarta yang mematok biaya pendidikan selangit. Untuk jenjang playgroup, sekolah mematok harga Rp 3-7 juta untuk uang pangkal. Sementara itu, untuk uang sekolah bulanannya bisa mencapai Rp 400-800 ribu. Seperti pola pada umumnya, biaya sekolah pun akan semakin mahal seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Untuk tingkat SMA, misalnya, biaya pendidikannya bisa berkisar Rp 22 juta.

Apakah anak-anak buruh mampu untuk belajar di sekolah itu? Tidak. Hanya anak-anak orang kaya yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah mahal itu.Jangan untuk bersekolah di sekolah mahal, untuk bersekolah di sekolah negeri pun kadangkala menjadi impian bagi anak-anak miskin.

Komersialisasi pendidikan seperti inilah yang menjadi tantangan Dompet Dhuafa kedepannya. Sebagai salah satu lembaga amil zakat di Indonesia Dompet Dhuafa perlu merespon kecenderungan komersialiasi pendidikan yang menghimpit warga miskin ini. Dan menariknya itu sudah dimualai oleh Dompet Dhuafa.

Salah satu bentuk respon Dompet Dhuafa terhadap kecenderungan komersialisasi pendidikan itu adalah SMART Ekselensia. SMART Ekselensia merupakan sekolah berasrama dengan biaya sekolah gratis dan program akselerasi, 5 tahun SMP-SMA. Sekolah ini berdiri sejak tahun 2004 di Parung, Bogor dan didirikan untuk anak-anak Indonesia yang berpotensi namun memiliki kesulitan ekonomi.

Progam sekolah SMART Ekselensia bukan hanya harapan baru bagi warga miskin namun juga inspirasi bagi lembaga-lembaga sosial lainnya untuk mereplikasi bahkan memodifikasi sekolah untuk warga miskin di tempat lain. Oleh karena itu kampanye program sekolah SMART Ekselensia harus terus digerakan. Program kampanye Zakatnesia menjadi momentum untuk menyebarkan ‘virus-virus’ kebaikan kepada khalayak luas untuk ikut mendukung bahkan membangun sekolah-sekolah baru yang ramah terhadap warga miskin. Semoga.

Zakatnesia

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: