Zakatnesia, Mata Air di Tengah Air Mata

Indonesia yang terkoyakInisial nama anak itu MB. Usianya masih belia. Namun, ia nekad mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.  Pada Juli 2010 silam ia ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di pasar penampungan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Diduga anak kecil itu nekat mengakhiri hidupnya karena tak tahan dengan kemiskinan yang melilit keluarganya. Selama ini orangtua MB hanya pedagang kecil di pasar. Mereka tidak sanggup membiayai anaknya sekolah.

Itulah sekelumit potret kemiskinan di negeri ini. Dan seringkali kemiskinan itu bukan disebabkan oleh kemalasan warga miskin itu dalam bekerja. Namun karena sebuah kebijakan yang memiskinkan. Kebijakan ekonomi-politik negeri ini yang dilandaskan pada konsep neoliberal menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini. Bahkan kini kebijakan yang dilandaskan pada konsep neoliberal itu membuat jurang antara si kaya dan si miskin makin lebar. Orang yang kaya bertambah kaya, sementara si miskin bertambah miskin.

Eh, apa itu neoliberal? Tentu tidak banyak orang yang tahu apa itu neoliberal. Orang mungkin lebih mengenal neozep, obat flu daripada neoliberal. Neoliberal adalah paham ekonomi yang ingin mengurangi atau menolak peran pemerintah dalam ekonomi. Peran pemerintah dalam ekonomi dinilai oleh paham ini hanya akan merusak pasar dan merugikan pelaku ekonomi. Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas.

Lantas apa kaitannya neoliberal ini dengan kemiskinan? Karena menginginkan menurunnya bahkan hilangnya peran pemerintah, paham neoliberal ini juga menginginkan semua subsidi pemerintah terhadap rakyatnya dikurangi bahkan dihapus. Meskipun subsidi itu di sektor yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak seperti pangan, pemukiman, pendidikan dan kesehatan. Inilah kemudian yang memicu pemiskinan warga. Dan kini kita semakin merasakan hal itu tengah terjadi dan mencengkeram kehidupan kita. Biaya kesehatan dan pendidikan misalnya, menjadi mahal, tak terjangkau bagi mereka yang miskin.

Mekanisme pasar bebas yang diagung-agungkan para pengusung kebijakan ekonomi neoliberal justru menjadi penghalang bagi si miskin untuk melakukan perubahan hidupnya. Mereka semakin dalam terjerembab dalam kemiskinan. Di antara mereka ada yang putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya karena sudah tak tahan hidup dalam belenggu kemiskinan.

Di tengah cengkraman kebijakan neoliberal yang memiskinkan itulah muncul program zakatnesia. Program itu dilakukan oleh Dompet Dhuafa. Zakatnesia ini adalah kampanye untuk menunjukan zakat adalah instrumen yang tidak hanya untuk menyelesaikan masalah kemiskinan pada level permukaan tetapi juga masalah kemiskinan yang lebih mendasar. Dan kebijakan ekonomi neoliberal adalah persoalan mendasar yang menyebabkan kemiskinan di negeri ini.

Apakah ini berarti Dompet Dhuafa akan menjadi lembaga donor yang akan membiayai kegiatan advokasi kebijakan oleh organisasi-organisasi masyarakat sipil Indonesia? Harus. Dan posisi baru itu nampaknya sudah disadari oleh Dompet Dhuafa. Pada tahun 2011 misalnya, Dompet Dhuafa menjalin kerjasama dengan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), organisasi advokasi di isu lingkungan hidup, pada program kedaulatan pangan. Sebelumnya, Dompet Dhuafa juga pernah bekerjasama dengan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). WALHI dan YLBHI adalah dua organisasi masyarakat sipil yang sejak era rejim otoritarian Orde Baru sudah dikenal sebagai organisasi yang terdepan dalam melakuakan advokasi kebijakan. WALHI dikenal sebagai organisasi yang sering melakukan advokasi kebijakan dalam isu lingkungan hidup, sementara YLBHI dikenal sebagai organisasi yang melakukan advokasi kasus dan kebijakan terkait Hak Asasi Manusia (HAM).

Program Zakatnesia ini bisa menjadi semacam mata air di tengah air mata akibat cengkraman kebijakan neoliberal. Seperti sebuah mata air, ia akan menyejukan di tengah terik matahari yang menyengat. Ia akan menjadi harapan bagi jutaan warga miskin yang dimiskinkan oleh kebijakan ekonomi-politik neoliberal.

Zakatnesia

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: