Ahok Way atau Eco-Fasis Gaya Baru?

ahokway
Ahok Way atau jalan kepemimpinan Ahok, panggilan akrab Basuki Tjahaja Purnama, menjadi popular. Terlebih menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang akan berlangsung sebentar lagi. Ahok way dipersepsikan sebagai jalan yang terjal dari seorang pemimpin untuk mengabdi kepada kepentingan masyarakat, utamanya warga miskin kota. Benarkah demikian faktanya? Benarkah model pembangunan di Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ahok dinikmati oleh warga miskin kota?

Di Jakarta, penggusuran warga miskin kota hampir memiliki pola yang sama dan terus berulang. Setidaknya ada dua pola dalam setiap penggusuran di Jakarta. Pertama, dengan memberikan stigma bahwa warga miskin adalah warga liar. Kedua, munculnya surat perintah bongkar (SPB), tanpa didahului dengan dialog dengan warga untuk memberikan solusi terbaik bagi warga korban penggusuran.

Sebelum krisis ekonomi 1998, penggusuran lebih banyak dilakukan terhadap pemukiman-pemukiman miskin dengan alasan kepentingan umum. Kepentingan umum adalah sebuah kata lain dari kepentingan bisnis para konglomerat. Tanah dan tempat tinggal kaum miskin digusur untuk dijadikan lokasi bisnis, perkantoran ataupun pemukiman mewah. Kini alasan kepentingan umum telah bergeser menjadi alasan penegakan hukum demi ketertiban, kebersihan dan keindahan. Meski bergeser rumusannya, namun substansinya tetaplah sama yaitu, menggusur warga miskin kota.

Sejak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, kita jarang lagi mendengar atau membaca berita mengenai penggusuran di Jakarta. Namun, itu tak berlangsung lama. Sejak Jokowi berpindah kantor dari Balai Kota ke Istana Negara, berita-berita penggusuran warga miskin kota kembali menghiasi media massa yang terbit di Ibukota.

Dengan mengatasnamakan perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan normalisasi sungai, penggusuran pun dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Model pembangunan menggeser bukan menggusur di saat Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta seakan tinggal kenangan.Warga miskin kota pun kembali menerima stigma sebagai warga liar yang menyerobot RTH dan daerah sepandan sungai. Tindakan warga miskin kota ini dinilai hanya merusak lingkungan hidup.

Penggusuran warga miskin kota dengan mengatasnamakan lingkungan hidup ini sejatinya adalah perwujudan nyata dari praktek ideologi eko-fasis, yaitu sebuah ideologi pembangunan yang membenarkan adanya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan dengan dalih pelestarian lingkungan. Dalam prakteknya, ideologi ini sering kali hanya ditujukan kepada warga miskin kota yang tidak mempunyai akses terhadap modal dan kekuasaan. Sementara itu, orang-orang kaya yang memiliki akses terhadap modal dan kekuasaan, meskipun merusak lingkungan, tidak akan tersentuh olehnya. Dan praktik itu tengah terjadi Jakarta saat ini.

Data pengurangan area RTH di Jakarta misalnya, secara jelas menunjukan berbading lurus dengan penambahan kawasan komersial baru. Target luasan RTH dalam tata ruang Jakarta terus dikurangi dari 37,2 persen dalam Rencana Induk 1965-1985 hingga 13,94 persen dalam RTRW 2000-2010. Sedangkan tambahan pasokan ruang komersial begitu hebatnya—3.046.000 meter persegi pada 2000-2006, sedangkan pada 1960-1999 hanya 1.454.000 meter persegi. Data ini menunjukkan bahwa RTH dan daerah resapan air di Jakarta sebenarnya justru banyak dialihfungsikan menjadi kawasan komersial oleh para pemilik modal besar, bukan oleh para pedagang kecil dan penduduk miskin lainnya.

Hutan kota di kawasan Senayan seluas 279 hektare kini berubah fungsi menjadi kawasan komersial dan apartemen untuk kelas menengah. Hutan kota Tomang juga menalami nasib sama. Sebelumnya kawasan itu rencananya menjadi sabuk hijau kota. Kini, hutan itu berubah menjadi kawasan komersial dan apartemen milik kelas menengah di Jakarta.

Jika benar, penggusuran warga miskin kota di berbagai wilayah di Jakarta saat ini untuk pelestarian lingkungan hidup tidak dilakukan di kawasan RTH dan daerah resapan air yang dirampas oleh pemilik modal untuk perumahan orang-orang kaya dan kawasan komersial di Jakarta?

Sulit berharap Pemprov DKI Jakarta akan menggusur pemilik modal yang telah merubah kawasan hutan kota, RTH dan daerah resapan air menjadi pemukiman mewah dan kawasan komersial. Para pemilik modal melakukan penghancuran ekologi di Jakarta secara legal. Tata ruang kota sejak semula sudah dirancang untuk melayani kepentingan mereka bukan warga miskin kota. Dari serangkaian kejadian penggusuran warga miskin kota atas nama pembangunan dan pelestarian lingkungan ini, warga kota pantas bertanya, apakah Ahok Way itu sejatinya adalah eco-fasis gaya baru?

Sumber gambar: https://buntelanbuku.wordpress.com/2014/04/28/the-ahok-way-the-best/

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: