Palu Arit Mas Ratno


Namanya Ratno. Dia lahir di Maospati, Magetan, Jawa Timur. Orang-orang memanggilnya Mas Ratno. Ia lahir di tahun 1970-an, saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Palu dan Arit adalah senjatanya dalam mencari nafkah sehari-hari.
Mas Ratno adalah tukang bangunan, sehingga palu tidak bisa lepas dari tangannya ketika ia bekerja. Di sela-sela pekerjaannya sebagai tukang bangunan ia memelihara kambing di rumah. Ia sereing mencari rumput untuk makan kambing-kambingnya sehingga ia tidak bisa pula melepaskan arit dari tangannya. Karena pekerjaannya lah Mas Ratno tidak bisa melepaskan palu dan arit dari tangannya.
Namun, akhir-akhir ini Mas Ratno resah. Dia mendapat kabar dari kawan-kawannya bila saat ini polisi dan tentara sedang sibuk menangkap orang-orang yang memakai kaos dan menyebarkan simbol palu dan arit. Simbol palu dan arit diidentikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia resah, karena palu dan arit sudah sangat akrab dalam kehidupannya sehari-hari. Bukan sebagai simbol PKI namun sebagai perkakas kerja untuk mencari makan.

 
PKI. Tiga huruf itu mengingatkan Mas Ratno ke tahun 1990-an, saat ia masih bersekolah di sebuah SMA di Maospati. Di tahun itu, setiap menjelang bulan September selalu ada desas-desus ditemukannya simbol palu arit PKI yang dibawa oleh murid SMA.

 

Berdasarkan desas-desus itulah kemudian, polisi dan tentara melakukan razia di sekolah-sekolah. Tas-tas para siswa digeledah. Ketegangan pun menyelimuti hati seluruh murid-murid sekolah. Dan ketegangan itu kemudian ditutup dengan nonton bareng (nobar) film yang berjudul, ”Penghianatan G30S/PKI”.

 

Mas Ratno benci film G30S/PKI itu. Selain terlampau panjang dan bikin ngantuk. Film itu juga sadis dan tidak bisa diterima oleh akal sehat Mas Ratno. Film itu menggambarkan bahwa PKI telah melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno dengan membunuh para Jenderal TNI Angkatan Darat (AD). Kudeta pun berhasil digagalkan oleh Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Nah, yang menjadi pertanyaan Mas Ratno hingga kini kemudian adalah mengapa Soekarno tetap saja jatuh dari kursi kepresidenan meskipun kudeta PKI berhasil digagalkan oleh Orde Baru? Mengapa Orde Baru yang katanya menyelamatkan Presiden Soekarno dari kudeta justru menjadikan Soekarno sebagai tahanan rumah setelah berkuasa?

 
Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu menghantui pikiran Mas Ratno setiap ia mengingat tiga huruf yang selalu ditakuti di negeri ini, yaitu PKI. Mas Ratno hingga kini masih ingin mendapatkan jawaban dari pertanyan-pertanyaan nakal yang selalu menghantui pikirannya.
Namun, setiap kali Mas Ratno ingin mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, ia selalu ketakutan. Ia takut dituduh Komunis. Ia takut dituduh hendak membangkitkan PKI. Ia takut diciduk polisi dan tentara.
Mas Ratno memang tidak bisa dipisahkan dengan palu dan arit, karena kedua benda itu memang perkakas kerjanya. Namun, tidak pernah terbesit pun di hati dan pikiran mas Ratno untuk membangkitkan komunis atau PKI di negeri ini. Bagaimana mau membangkitkan PKI, bila Mas Ratno sendiri tidak pernah membaca buku Das Kapital, Manifesto Komunis dan buku-buku yang menjadi rujukan gerakan kiri lainnya?
Mas Ratno yang hanya lulusan SMA. Meskipun dulu waktu SMA merupakan juara kelas, Mas Ratno tidak bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Kemiskinan yang menyelimuti keluarganya membuat ia mengurungkan niatnya untuk kuliah. Jadi buku-buku semacam Das Kapital, Manifesto Komunis dan buku-buku kiri lainnya akan sulit dipahami oleh Mas Ratno yang hanya lulusan SMA dan bekerja dengan perkakas palu dan arit itu. Jadi jelas bahwa Mas Ratno tidak pernah berniat membangkitkan PKI meskipun dalam keseharian hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan perkakas palu dan arit. Ia hanya ingin memahami sejarah bangsanya dengan jujur dan benar. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.
Mas Ratno tidak sendirian. Orang seperti Mas Ratno sangat banyak di negeri ini. Orang-orang muda yang tidak bisa kuliah karena kemiskinan yang tidak mereka kehendaki. Orang-orang yang tidak merasakan konflik kekerasan di tahun 1948 dan 1965 namun ingin memahami sejarah bangsanya dengan jujur. Orang-orang muda yang ketakutan karena dituduh membangkitkan PKI atau komunisme hanya karena bergelut dengan palu dan arit.

 
Gencarnya razia simbol palu dan arit kali ini benar-benar membuat Mas Ratno ketakutan. Akibat razia itu ia memutuskan berhenti menjadi tukang dan berternak kambing. Karena dua pekerjaan itu mengharuskannya bergelut dengan palu dan arit. Ia takut dituduh PKI dan kemudian dipenjara. ”Kalau saya dipenjara hanya karena soal palu dan arit, anak dan istri saya harus makan apa?” tanyanya dalam hati.

 

Alienasi
Keputusannya berganti pekerjaan sudah mantap, meninggalkan palu dan arit. Kini Mas Ratno menjadi pengemudi ojek online. Pendapatnya lumayan. Pekerjaan ojek onlinenya itu ia memiliki waktu luang bagi keluarga. Dengan menjadi pengemudi ojek online, ia terhindar dari keterasingan alias alienisasi.
Setealah browsing di wikipedia, Mas Ratno menemukan bahwa Karl Marx pernah memakai kata alienasi itu untuk menggambarkan keterasingan para buruh dari pekerjaannya karena semakin banyaknya modal terkumpul untuk kapitalis, dan semakin miskin pula si buruh akibat dari hasil eksploitasi si kapitalis. Artinya si kapitalis menimbun banyak harta yang sebenarnya merupakan nilai lebih barang yang telah diciptakan si buruh. Karena buruh tidak memiliki kekuasaan untuk menjual barang tersebut seperti layaknya yang dilakukan kapitalis, maka si kapitalis yang memiliki hak untuk menjual barang tersebutlah yang akan mendapat nilai lebih tersebut.
Sebagai pengemudi ojek onlinenya Mas Ratno tidak mengalami keterasingan yang seperti dikatakan Karl Marx tadi. Ia bisa membebaskan dirinya dari ekploitasi kelas kapitalis. Namun, kini Mas Ratno justru semakin ketakutan. Sebelumnya ia takut karena hidupnya tidak bisa dipisahkan dengan palu dan arit sebagai tukang bangunan dan pencari rumput untuk kambingnya. Kini ia takut dituduh mempraktikan ajaran Karl Marx karena mampu membebaskan dirinya dari ekploitasi kelas kapitalis. Mas Ratno selalu dihantui ketakutan-ketakutan seperti orang-orang tua di pemerintahan yang selalu takut dengan hantu komunis, palu arit, Karl Marx dan PKI. Dan sekali lagi, orang-orang seperti Mas Ratno banyak di negeri ini, terutama mereka yang ada di pemerintahan, baik sipil maupun militer.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: