Bangkitnya kembali hantu komunisme

pkimame

Oleh: Firdaus Cahyadi

Pernah dimuat di Harian KONTAN, 16 Mei 2016

Isu bangkitnya paham komunisme di Indonesia kembali beredar. Aparat tiba-tiba menemukan kaos dan atribut yang diduga terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kaos grup band Heavy Metal asal Jerman Kreator pun terkena razia. Pasalnya kaos itu ada simbol palu dan arit.

Di Maluku Utara, seorang aktivis lingkungan hidup ditangkap hanya karena menggunakan kaos Pecinta Kopi Indonesia (PKI). Apa kaitannya komunis dengan kopi? Bukan hanya itu, diskusi yang mengkaji pemikiran Karl Marx pun dibubarkan oleh organisasi massa. Tak peduli diskusi itu diadakan di kampus.

Acara nonton bareng (nobar) film ’Pulau Buru Tanah Air Beta’ yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dalam rangka peringatan World Press Freedom Day (WPFD) 2016 di Yogyakarta juga dibubarkan. Alasannya, film tersebut menimbulkan keresahan karena terkait dengan komunisme.

Tampaknya, jarum jam sedang diputar ke belakang, kembali ke era kegelapan di bawah rezim otoritarian Orde Baru. Di era itu, dengan mudah stigma komunis dilekatkan kepada seseorang dengan berbagai kepentingan. Isu bangkitnya komunis dan rezim Orde Baru adalah dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena mengelola isu itulah, rezim otoritarian Orde Baru dapat berkuasa begitu lama. Orde Baru memang sudah gulung tikar. Namun, model pembangunannya masih terus direproduksi. Model pembangunan Orde Baru adalah model pembangunan yang melayani kepentingan pemilik modal.

Akankah era Orde Baru kembali datang dengan segala metamorfosisnya? Entahlah, yang jelas stigma komunis juga mulai dilekatkan untuk produk film dokumenter “Samin vs Semen” yang menggambarkan gigihnya perlawanan warga yang akan terkena dampak pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah. Bahkan stigma komunis juga mulai dilekatkan kepada film “Rayuan Pulau Palsu”, yang menggambarkan perlawanan nelayan dalam melawan proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Dengan melekatkan stigma sebagai pembawa pesan-pesan komunisme pada dua film dokumenter itu, akan menjadi sebuah pembenar bagi upaya membubarkan nobar kedua film tersebut. Tujuan akhirnya tentu saja tidak muncul lagi perlawanan warga terhadap proyek-proyek pembangunan yang dinilai tidak ramah lingkungan hidup.

Bangkitnya stigma komunis tentu tidak muncul di ruang hampa. Stigma itu harus dipahami dalam konteks ekonomi-politik yang sedang terjadi saat ini. Saat ini pemerintah sedang gencar menarik investasi. Karpet merah pun digelar untuk para investor, hingga aturan mengenai analisa mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) pun ingin disederhanakan demi masuknya modal. Berbagai perjanjian perdagangan bebas diikuti, bahkan pemerintah menjanjikan ikut perjanjian perdagangan bebas yang disponsori oleh Amerika Serikat, yaitu Trans-Pacific Partnership (TPP).

Bungkam suara alternatif

Apa yang dilakukan pemerintah mirip seperti apa yang dilakukan rezim Orde Baru setelah berhasil menumbangkan Soekarno, yaitu menarik investor sebanyak-banyaknya. Setelah Soekarno dijatuhkan, aturan untuk investor dilonggarkan. Sumberdaya alam mulai bebas dikuasai investor asing. Di sisi lain, gerakan petani yang menghambat pembebasan lahan untuk investasi disingkirkan. Gerakan buruh yang melawan upah murah dimatikan.

Seperti di era Orde Baru, kini tidak boleh ada yang mengganggu upaya pemerintah dalam menarik sebanyak-banyaknya investasi ini. Kritik hanya membuat gaduh. Untuk itulah harus dibungkam. Salah satu caranya adalah menghidupkan lagi hantu komunisme yang kemudian menjadi senjata untuk membungkam kritik dan kegaduhan yang dapat menganggu kenyamanan investor dalam menanamkan modalnya di negeri ini.

Dengan membangkitkan hantu komunisme ini, pemerintah dapat membungkam suara-suara alternatif terkait model pembangunan dengan cara yang lebih santun. Dengan dalih mencegah konflik horizontal, kegiatan diskusi dan nobar film dokumenter boleh dibubarkan. Seperti syair puisi almarhum WS Rendra, suara dibungkam agar dusta berkuasa (Kecoa Pembangunan).

Pesan dari isu bangkitnya kembali komunisme itu adalah agar kita mengistirahatkan akal sehat kita. Dengan mengistirahatkan akal sehat itu, kita tidak perlu pusing berpikir tentang alternatif model pembangunan yang berpihak pada masyarakat banyak.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: