Ketika Tentara Merampas Buku KIRI

PKI

Sumber foto: beritasore.com

Tentara. Sosok tegap dan perkasa yang seharusnya berada di garis depan untuk mempertahankan kedaulatan republik ini dari penjajahan asing, tiba-tiba  mendatangi pameran-pameran buku dan penerbitan. Mengapa mereka datang kesana? Apakah mereka ingin membaca literatur-literatur itu?

Sayangnya tidak. Tentara yang gagah perkasa itu sedang melakukan razian buku-buku yang dinilai menyebarkan paham kiri. Apa itu KIRI?

Dalam politik, istilah Kiri biasanya mengacu kepada kelompok yang dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi sosial. Komunisme maupun filsafat marxisme yang seringkali mendasarinya, seringkali dianggap sebagai bentuk radikal dari politik sayap kiri. Namun banyak golongan sayap kiri yang menolak bila mereka dihubungkan dengan komunisme, atau bahkan dengan anarkisme.

Kini tentara yang gagah perkasa itu memiliki tugas baru, berburu dan merampas buku-buku KIRI. Payung hukum mereka adalah pemberantasan ideologi marxisme.

Apa ujung dari perampasan buku-buku KIRI ini? Benarkah perampasan buku-buku KIRI ini ditujukan untuk mencegah munculnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI)?

Waktu sudah berlalu. Perang dingin sudah berakhir. Konstalasi politik-ekonomi global sudah berubah, begitu pula kondisi sosial di Indonesia. Jadi sangat-sangat tidak mungkin di tengah perubahan-perubahan itu tiba-tiba PKI hidup lagi. Jadi apa tujuan dari perampasan literatur KIRI itu?

Literatur KIRI dimusnahkan agar literatur “KANAN”, pendukung model pembangunan yang berorientasi kapitalisme dengan segala turunannya yang dibaca oleh masyarakat. Tujuannya, agar tidak muncul pemikiran-pemikiran yang menelurkan model pembangunan alternatif di luar kapitalisme yang berorientasi pada pasar. Tidak ada yang boleh ada pemikiran lain selain yang mendukung pasar bebas. Kebetulan sekarang model  pembangunan Jokowi saat ini sedang gencar melakukan supply-side reforms. Konsep tersebut pertama kali diperkenalkan Presiden Amerika Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher pada awal 1980-an. Kita tahu bahwa Presiden Amerika Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher adalah pelopor model kapitalisme  neoliberal. There is no alternative (shortened as TINA)  slogan yang sering digunakan oleh pelopor neoliberal PM Margaret Thatcher.

Agar tidak ada alternatif, maka bacaan-bacaan yang berpotensi melahirkan alternatif itu harus dimusnahkan, karena akan menganggu. Bahaya dari bacaan-bacaan KIRI bukan menjadikan pembacanya bersemangat menghidupkan PKI namun membuat pembacanya berpikir tentang alternatif-alternatif dari model pembangunan Neoliberal yang sekarang sedang jalannya sedang ditapaki oleh rejim Jokowi.Karena begitu bahaya pemikiran alternatif itu maka tentara perlu turun untuk merazia buku-buku KIRI. Dan stigma pembawa pesan komunisme dan PKI perlu dilekatkan pada buku-buku KIRI itu agar mendapat pembenaran secara legal dan sosial.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: