JAKARTA BARU: Dari Kapital, Oleh Kapital dan Untuk Kapital

JB-selangkahLAGIJAKARTA BARU. Jargon model pembangunan yang dulu dikampanyekan oleh Jokowi-Ahok saat akan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Hampir 5 tahun berselang. Apa implementasi sesungguhnya dari model pembangunan Jakarta Baru itu?

Penggusuran warga miskin kota. Menurut data dari LBH Jakarta, pada tahun 2015, sejak Januari hingga Agustus, terdapat 30 kasus penggusuran paksa yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Ada berbagai macam alasan tujuan penggusuran paksa di Jakarta. Dari alasan tujuan pembangunan waduk, hingga keperluan proyek TNI dan Polri (KAMI TERUSIR, Laporan Penggusuran Paksa di Wilayah DKI Jakarta Januari-Agustus 2015, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, 24 Agustus 2015).

Dari sisi prosedur penggusuran paksa di Jakarta, data dari LBH Jakarta menyebutkan bahwa dari total kasus 30 penggusuran, hanya 4 penggusuran yang melalui jalan musyawarah, selebihnya sebanyak 26 kasus penggusuran dilakukan secara sepihak. Meskipun musyawarah yang dilakukan belum tentu juga sudah mengakomodir pemikiran warga.

Sementara dari 30 kasus penggusuran di DKI Jakarta, hanya satu kasus yang warganya bersedia pindah secara sukarela. Selebihnya melibatkan TNI, Polri, Satpol PP, aparat pemerintah (dinas perhubungan), swasta dan ancaman alat berat.

Model pembangunan Jakarta Baru, sepertinya begitu bernafsu menjadikan kota Jakarta sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Pihak-pihak yang dinilai tidak bisa berkontribusi terhadap upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi harus disingkirkan.

Reklamasi Teluk Jakarta. Di saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi dikabarkan menggantung ijin reklamasi Teluk Jakarta. Waktu berlalu. Setelah menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia, penggantinya Ahok, justru memberikan ijin reklamasi Teluk Jakarta.

Reklamasi Teluk Jakarta jelas bukan diperuntukan bagi nelayan yang menggantungkan hidupnya pada lautan. Bukan pula untuk warga kota kebanyakan. Reklamasi Teluk Jakarta ditujukan untuk para pemilik modal di sektor property untuk mendulang laba guna memenuhi dahaganya dalam mengakumulasi kapital (modal).

Reklamasi Teluk Jakarta juga bukan ditujukan untuk adaptasi perubahan iklim terkait ancaman kenaikan muka air laut. Bukan pula untuk merevitalisasi pantai Jakarta yang katanya telah lama tercemar. Reklamasi Teluk Jakarta untuk menambah pasokan lahan bagi pemukiman mewah dan kawasan komersial baru bagi kaum kaya di Jakarta.

Lagi-lagi siapa yang untung?

Yang untung adalah pemilik modal di sektor property yang membangun di atas tanah hasil reklamasi Teluk Jakarta.

Lantas siapa yang buntung?

Yang buntung adalah para nelayan yang disingkirkan dari sumber-sumber kehidupannya dan juga warga kota Jakarta kebanyakan yang akan menerima dampak buruk dari reklamasi Teluk Jakarta.

Dari implementasi model pembangunan JAKARTA BARU itu nampak bahwa sesungguhya model pembangunan JAKARTA BARU itu didasarkan pada filosofi, “Dari Kapital, oleh Kapital dan untuk Kapital!”. Tidak ada kata rakyat apalagi warga miskin kota dari model pembangunan JAKARTA BARU.

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: