Ahok yang Selalu Benar

nelayan jakarta

Bagi kelas menengah ngehek, Ahok bagaikan nabi, ia ma’sum, terpelihara dari dosa. Jadi apa pun kebijakan yang dikeluarkan Ahok selalu benar. Dan sebaliknya rakyat yang menjadi korban dari kebijakannya selalu salah.

Kebijakan reklamasi Teluk Jakarta misalnya, meskipun proyek itu berpotensi merusak alam dan  menjauhkan nelayan dari sumber-sumber kehidupannya, tetap aja dianggap benar oleh kelas menengah ngehek yang menjadi pemuja setianya. Dikatakanlah bahwa reklamasi Teluk Jakarta adalah salah satu solusi. Solusi untuk siapa bos? Untuk khalayak atau segelintir pemilik modal di sektor property?

Kelas menengah ngehek yang menjadi pemuja setia Ahok tentulah mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Sayang, saking tingginya mereka tidak menginjak bumi bahkan mereka seperti jijik menginjak bumi. Karena jijik menginjak bumi maka mereka pun jijik bila bersentuhan kulit dengan warga miskin kota dan khalayak yang seringkali dikorbankan oleh kebijakan Ahok yang bias kelas menengah itu.

Ketika Ahok mengatakan bahwa tidak ada nelayan yang menangkap ikan di Teluk Jakarta pun, para kelas menengah ngehek yang memuja Ahok pun mengamininya. Bahkan di berbagai media online mereka menuliskan, “Sejak dari dulu Teluk Jakarta tercemar, tidak ada ikan di Teluk Jakarta jadi tidak ada alasan nelayan menolak reklamasi!”

Eits..Karena Ahok dan para pemujanya tidak pernah menginjak bumi,  tentu saja mereka tidak pernah melihat bahwa masih ada orang yang mancing di Muara Baru. Bahkan beberapa lembaga kemanusian juga pernah memiliki progam bantuan kepada beberapa nelayan untuk ‘bertani’ kerang di Teluk Jakarta.

Sebagai seorang nabi bagi kelas menengah ngehek maka segala kritik terhadap Ahok harus dihentikan, dengan cara apapun. Bahkan tak jarang justru mereka menggiringnya ke arah politisasi menjelang Pilkada Jakarta dan isu SARA. Seakan yang mengkritik Ahok itu disebabkan karena sekedar menjelang Pilkada Jakarta dan disebabkan Ahok adalah warga keturunan dan non-muslim. Frame yang hendak dibangun adalah bahwa Ahok itu minoritas dari sisi agama dan etinis sehingga para pengkritiknya ingin menghabisi Ahok dengan kritik kerasnya.

Maaf bos-bos para pemuja Ahok..keberlanjutan kota Jakarta dan juga nasib warga miskin kota lebih penting daripada isu SARA itu. Tidak masalah orang dengan latarbelakang agama, ras dan etnis apapun menjadi Gubernur Jakarta. Yang menjadi masalah bila kemudian Gubernur Jakarta itu memperoduksi kebijakan yang bias kelas menengah atas dan merusak keseimbangan ekologi kota. Itu titik masalahnya, bukan pada latarbelakang SARA.

Saya sih tidak benci Ahok, hanya saya tidak percaya Ahok. Apalagi memujanya seperti nabi yang selalu benar.

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: