Digusur Ahok Lebih Menakutkan daripada Teror di Jakarta?

Jakarta baru saja diguncang teror. Namun, warga Jakarta nampaknya tidak takut dengan aksi teroris itu. Di internet tersebar foto, penjual sate  masih saja berdagang meskipun tak jauh dari tempatnya teroris sedang beraksi. Bahkan dikabarkan pula ada yang sempat selfie saat aksi teroris terjadi.

Apakah warga Jakarta telah putus urat takutnya?

Ternyata tidak. Warga Jakarta ternyata lari tunggang langgang dan menangis ketika rumahnya digusur Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Penggusuran Pemprov DKI Jakarta sepertinya lebih mengerikan daripada aksi teroris di Thamrin.

4815a88b-7fd7-4074-8139-f0af9e9e5948_169

Sumber Foto : CNN Indonesia

11903926_10207618978731161_7187599307515290442_n

Sumber foto Facebook Azas Tigor Nainggolan

11918951_10207618974011043_3448647040557644077_n

Sumber foto Facebook Azas Tigor Nainggolan

Kenapa penggusuran di Jakarta lebih menakutkan daripada aksi teroris?

Pertama, mari kita simak ucapan Ahok, Gubernur DKI Jakarta terkait dengan penggusuran yang dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). “Saya ingin 10 juta orang hidup, bila dua ribu orang menentang saya dan membahayakan 10 juta orang, (maka dua ribu orang itu) saya bunuh di depan anda,” kata Ahok dengan wajah serius seperti ditulis CNN Indonesia. Pernyataan ini menakutkan, apalagi terucap dari mulut seorang Gubernur DKI Jakarta yang memiliki kemampuan untuk mengerahkan aparat keamanan. Bayangkan dua ribu orang akan dibunuh di depan mata kita.

Kedua, korban aksi biadap teroris tidak pernah mendapat stigma buruk, sementara korban penggusuran di Jakarta selalu mendapat stigma buruk. di setiap terjadi penggusuran, korban penggusuran di Jakarta selalu mendapat stigma sebagai penduduk liar, warga yang tidak mau diuntung dan sebagainya.

Ketiga, setelah teror Jakarta, kelas menengah yang gemar main internet langsung menggalang solidaritas melawan terorisme. Sementara, di saat penggusuran terjadi, hampir tidak ada kelas menengah yang gemar internetan itu menggalang solidaritas melawan penggusuran. Dan kalaupun menggalang solidaritas pasti tidak disambut oleh kelas menengah lainnya. Bahkan, sebagaian kelas menengah memuji kebijakan penggusuran Ahok sebagai tindakan tegas dan menyalahkan warga yang menjadi korban.

Keempat, bila saat teroris beraksi, aparat keamanan (Polri dan TNI) dengan sigap melawan dan melumpuhkan teroris untuk melindungi korban, maka pada saat terjadi penggusuran justru aparat keamanan tak jarang melakukan kekerasan terhadap korban penggusuran. Ngeri ga sih…

Aksi terorisme di Jakarta beberapa waktu lalu memang sempat membuat kita takut. Tapi lebih menakutkan lagi kebijakan penggusuran Ahok. Namun, sayang jarang ada kelas menengah yang berani melawan kebijakan penggusuran Ahok. Mungkin, karena korban penggusuran adalah warga kelas bawah ya…ah..sudahlah..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: