Siapa Marco? Beraninya Menantang Ahok!

marco1

Marco Kusumawijaya. Foto oleh Adrian Mulya

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta masih lama. Namun, tiba-tiba kita dikejutkan oleh deklarasi pencalonan seorang Marco Kusumawijaya di laman facebooknya. Aneh, biasanya deklarasi calon gubernur itu di hotel, gedung pertemuan atau tempat lain yang dihadiri para tokoh politik. Lha, ini malah deklarasi pencalonannya secara sangat sederhana, hanya melalui laman facebook. Siapa sih Marco Kusumawijaya yang berani-beraninya  dia menantang Ahok dengan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta?

Marco Kusumawijaya. Pertama mengenalnya sekitar tahun 2005-an. Saat itu dia menjadi narasumber sebuah diskusi dengan tema tata ruang dan polusi udara di Jakarta. Pada saat itu kebetulan saya sedang bekerja dalam isu kebijakan polusi udara di Jakarta. Ia memaparkan dengan gamblang kaitan tata ruang dengan transportasi kota dan polusi udara di Jakarta.

Salah satu pernyataan Marco pada waktu itu yang masih saya ingat hingga kini adalah, “Tata ruang bukan hanya sekedar persoalan teknis, tapi juga politis, karena tata ruang adalah persoalan pembagian sumberdaya ekonomi dan ekologis”.

Setahun kemudian. Saat saya aktif di Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta, saya sering memintanya untuk menjadi narasumber dalam rangkaian diskusi publik melawan rencana pembangunan 6 tol dalam kota. Pada saat itu, rencana pembangunan 6 tol dalam kota mulai digulirkan.

marco2

Aksi bersama di Balai Kota Jakarta Menyerahkan Petisi Menolak 6 tol dalam kota

Kami menentang proyek 6 tol karena proyek itu hanya memfasiltasi pergerakan mobil pribadi segelitir orang-orang kaya untuk memperparah polusi udara di Jakarta. Begitu 6 tol dibangun, pada saat itu pula pertambahan penggunaan mobil pribadi di Jakarta akan bertambah banyak. Artinya, polusi udara semakin parah. Biaya kesehatan yang akan ditanggung warga kota akibat polusi udara akan meningkat drastis. Kota Jakarta perlu transportasi publik, bukan jalan tol dalam kota.

Setelah 2007, saya jarang lagi berdiskusi dengan mas Marco. Hingga pada sekitar tahun 2012 (atau 2013 ya..lupa), saat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberikan sinyal melanjutkan pembangunan 6 tol dalam kota warisan Gubernur Sutiyoso dan Fauzi Bowo,  kami bertemu kembali untuk bersama-sama lagi melawan proyek 6 tol.

Jokowi pun mengundang publik untuk berdialog tentang rencana pembangunan 6 tol tersebut. Hingga Jokowi meninggalkan jabatan Gubernur Jakarta dan menjadi Presiden Indonesia ke-7, proyek 6 jalan tol belum dibangun. Namun, sayangnya, Gubernur Ahok yang semula menolak proyek 6 tol itu tiba-tiba menjilat ludahnya sendiri. Ahok, kini justru begitu bernafsu membangun 6 tol yang justru akan menambah kemacetan lalu lintas dan memperburuk polusi udara di kota Jakarta.

marco3

Marco Kusumawijaya. Foto oleh Adrian Mulya

Marco yang saya kenal adalah sosok yang memiliki komitmen terhadap kota Jakarta yang lebih adil dan ramah lingkungan. Sebagai kawan, tentu saya berharap ia berhasil menjadi Gubernur Jakarta. Bagaimanapun juga sudah saatnya Jakarta memiliki pemimpin dengan visi ekologis dan mau mendengar suara warganya. Bukan saatnya lagi Jakarta dipimpin oleh Gubernur yang tak memiliki visi ekologis  dan menutupi kekurangannya dengan sok galak serta marah-marah bila ada suara warga yang berbeda dengan kepentingan dan keiinginannya dalam mengelola Jakarta.

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: