Krisis Air di Jakarta

Kolom Opini, Koran TEMPO, SELASA, 30 JUNI 2015
Oleh: Firdaus Cahyadi
Kota Jakarta begitu megah dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Kegiatan ekonomi dan politik semua berpusat di Jakarta. Tak heran, bila kemudian gedung-gedung bertingkat di bangun di kota ini. Mobil-mobil memancetkan jalanan kota Jakarta hampir setiap hari.
Penduduk-penduduk di luar Jakarta pun berbondong-bondong datang ke Jakarta. Mereka mencoba mengadu nasib di Ibukota, karena tempat asal mereka tidak menjajikan pekerjaan yang layak. Hal itu wajar karena 60 persen uang yang ada di Indonesia berputar di Jakarta. Pemusatan kegiatan ekonomi dan politik di kota ini menjadikan gula-gula pembangunan terpusat di Jakarta.
Di balik kemegahan wajah kota Jakarta ternyata terdapat bopeng yang sulit dihilangkan. Gubernur DKI Jakarta silih berganti, namun wajah bopeng sebelah kota Jakarta masih terus saja ada. Bahkan wajah bopeng itu berpotensi untuk terus bertambah akibat berbagai kebijakan pemerintah provinsi Jakarta.
Wajah bopeng di balik gemerlap kota Jakarta itu adalah adanya krisis ekologi yang akut. Meskipun disamarkan oleh gemerlap kota, namun wajah bopeng itu makin  tidak tidak bisa disembunyikan.  Wajah bopeng itu  salah satunya adalah krisis air di Jakarta. Saat ini dari 10 juta penduduk DKI Jakarta, hanya sekitar 53 persen saja yang terlayani air bersih. Bayangkan kota semegah Jakarta ada separuh lebih warganya yang selalu menggunakan air tercemar dalam aktivitas kesehariannya.
Krisis air bersih sebenarnya sudah sejak lama terjadi di Jakarta. Namun, pemerintah kota Jakarta seperti tidak berdaya. Data Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta mencatat, selama periode Januari-Mei 2008 silam, di Jakarta Pusat terjadi kelebihan penyedotan air tanah oleh pelanggan rumah mewah dan niaga dari sumur bor hingga sekitar 929.076 meter kubik (m3), sedangkan kelebihan penyedotan dengan sumur pantek mencapai 136.454 m3.
Kelebihan juga terjadi di Jakarta Timur. Penyedotan dengan sumur bor hingga 1.924.377 m3 dan sumur pantek 253.577 m3. Penyedotan diduga dilakukan pelaku industri, pemilik pabrik di Kawasan Industri Pulogadung. Kelebihan penyedotan dengan sumur bor terbesar terjadi di wilayah Jakarta Selatan, yaitu sekitar 1.718.600 m3 dan dengan sumur pantek 428.100 m3. Kelebihan penyedotan di Jakarta Barat dengan sumur bor sekitar 760.834 m3 dan dengan sumur pantek 96.361 m3. Di Jakarta Utara, kelebihan penyedotan air tanah dengan sumur bor sekitar 602.358 m3 dan dengan sumur pantek 62.115 m3.
Air hujan yang seharusnya bisa mengisi air tanah ternyata justru menjadi air larian (run off) penyebab banjir. Data BPLHD DKI Jakarta menyebutkan, dari 2.000 juta per meter kubik air hujan yang turun di Jakarta tiap tahun, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian yang berpotensi menimbulkan banjir di perkotaan
Alih-alih menghilangkan wajah bopengnya, pemerintah Jakarta justru terus sibuk bersolek. Celakanya, bersoleknya Jakarta itu justru menambah bopengnya wajah Jakarta. Salah satu upaya bersolek itu adalah pembangunan tanggul raksasa yang bernama Jakarta Giant Sea Wall (JGSW). Sebuah proyek mercusuar kabarnya akan menelan Rp 500 triliun hingga 2030. Sebuah proyek besar yang katanya untuk  penanggulangan banjir Jakarta.
Celakanya proyek JGSW ini justru berpotensi buruk terhadap kondisi lingkungan hidup di wilayah pesisir. Hasil kajian BPPT itu menyebutkan bahwa pembangunan JGSW berpotensi menaikkan muka air laut rerata di dalam tanggul hingga 0,5-1 meter setelah 14 hari simulasi pada dua skenario pada dua musim ekstrem. Arus air di dalam tanggul juga akan mengecil. Dampaknya, kualitas air di dalam tanggul akan memburuk secara progresif. Buruknya kualitas air itu ditandai dengan perubahan signifikan parameter lingkungan, seperti kenaikan biological oxygen demand (BOD) lebih dari 100 persen, penurunan dissolved oxygen (DO) lebih dari 20 persen, dan penurunan salinitas air lebih dari 3 persen.
Nampaknya, warga Kota Jakarta tidak bisa terus mendiamkan wajah kotanya bopeng sebelah. Warga Kota Jakarta harus mulai bersuara untuk menghentikan proyek-proyek pembangunan yang justru menambah bopeng wajah Kota Jakarta. Saatnya warga Kota Jakarta bersuara dan saatnya Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mendengarkan suara warganya.
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: