Politik Pengetahuan dalam Kasus Lingkungan

firdaus baru1
Kolom Opini Koran TEMPO, 26 Maret 2015

Oleh: Firdaus Cahyadi

“Kesaksian mereka tidak netral, analisis ilmiah dipakai untuk membela tambang semen,” kata Sukinah, perwakilan ibu-ibu penolak tambang semen di Rembang, seperti ditulis oleh poral berita tempo.co (22/3). Di bulan ini Universitas Gajah Mada (UGM) digruduk oleh masyarakat Rembang. Mereka kecewa dengan kesaksian akademisi UGM yang terkesan membela perusahaan semen yang akan menghancurkan sumber-sumber kehidupan masyarakat setempat.

Di media sosial, para aktivis lingkungan hidup pun menggalang dukungan untuk memprotes pernyataan akademisi UGM terkait pabrik semen di Rembang itu. Sebagian alumni UGM di media sosial juga memprihatinkan sikap akademisi UGM tersebut. UGM yang dulu dikenal sebagai perguruan tinggi yang selalu berada di garda depan dalam membela rakyat kini justru terkesan membela perusahaan semen.

Untuk kesekian kali para akademisi bersaksi yang menguntungkan perusahaan yang oleh masyarakat diduga merusak lingkungan hidup. Kesaksian mereka menguntungkan perusahaan, namun di sisi lain justru menghantam kepentingan warga yang menjadi korban dari kerusakan lingkungan hidup itu.

Bukan kali ini saja kesaksian akademisi terkesan membela perusahaan yang sedang diprotes warga sekitar karena kasus lingkungan hidup. Masih ingat kasus pencemaran Teluk Buyat? Pada sekitar tahun 2004 muncul kasus pencemaran di Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Kasus itu menyeret perusahaan tambang multi-nasional yang beroperasi di kawasan itu.

Pada kasus itu netralitas akademisi dipertanyaan. Penelitian dari universitas ternama di Menado justru terkesan membela perusahan. Bahkan diantara mereka ada yang justru mengkambinghitamkan pertambangan tradisional sebagai penyebab pencemaran di Teluk Buyat.

Bukan hanya kasus Buyat, peran akademisi yang melegitimasi keberadaan perusahaan yang sedang mendapat protes dari warga juga terjadi pada kasus lumpur Lapindo. Bahkan, pada kasus ini yang terlibat bukan saja akademisi di tingkat lokal dan nasional namun juga internasional. Sebagaian akademisi menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam bukan akibat pengeboran.

Dalam kasus Lapindo ini, pernyataan akademisi bukan saja berhasil membebaskan perusahaan dari dosa ekologi namun juga berhasil mempengaruhi kebijakan penanganan kasus itu. Pemerintah, baik saat dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Joko Widodo (Jokowi), menyakini bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam. Akibatnya model penyelesaian dalam kasus ini pun menggunakan skema jual beli aset bukan ganti rugi. Kerugian akibat hancurnya ekologi sama sekali tidak masuk dalam skema jual beli seperti itu.

Peran akademisi, yang di satu sisi cenderung mendukung perusahaan dan di sisi lain memunggungi masyarakat yang telah dan akan menjadi korban kerusakan lingkungan, tidak bisa dilepaskan dari politik pengetahuan.

Menurut seorang filsuf Prancis Michel Foucault, pengetahuan dan kekuasaan mempunyai hubungan timbal balik. Penyelenggaraan kekuasaan terus menerus akan menciptakan entitas pengetahuan, begitu pun sebaliknya penyelenggaraan pengetahuan akan menimbulkan efek kekuasaan. Para akademisi memiliki kekuasaan untuk menafsirkan apakah kerusakan ekologi di satu kawasan terjadi karena ulah manusia atau bencana alam. Kekuasaan akademisi itu juga bisa mengarahkan kebijakan pemerintah dalam kasus lingkungan hidup seperti dalam kasus Buyat dan Lapindo.

Karena pengetahuan terkait erat dengan kekuasaan maka pertanyaan berikutnya untuk siapa pengetahuan dan kekuasaan itu diabdikan? Apakah pengetahuan dan kekuasaan akan diabdikan untuk perusahaan atau mereka yang telah dan akan menjadi korban kerusakan lingkungan hidup? Peran sebagian akademisi dalam kasus pencemaran Teluk Buyat, Lapindo dan terakhir Pabrik Semen di Rembang bisa menjawab kemana arah pengetahuan itu cenderung akan diabdikan.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: