Polarisasi Media setelah Jokowi Resmi Menjadi Presiden

Menarik melihat bagaimana peta politik media setelah pemilihan presiden 2014 ini. Seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa pada saat pilpres ini media massa terbelah menjadi dua kubu pendukung masing-masing calon presiden. Dukung mendukung capres ini seiring dengan dukungan pemilik modal  di media terhadap capres terntentu.

 

Mantan petinggi Group Bakrie, Aburizal Bakrie, mendukung pasangan Prabowo-Hatta misalnya. Media yang bernaung di Group Bakrie pun ikut-ikutan mendukung calon itu. Menurut mantan Tim Pemenangan Prabowo-Hatta di sebuah majalah mingguan mengatakan bahwa Pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla sama-sama punya media pendukung. “Prabowo didukung TV One dan RCTI, Jokowi-Jusuf Kalla didukung oleh MetroTV,” jelasnya.

 

Apakah setelah dilantik menjadi Presiden Indonesia ke-7 peta politik media tidak berubah? Apakah media massa Group Bakrie dan MNC akan tetap mendukung Prabowo, dan itu artinya menjadi media opisisi atau bergabung dengan Jokowi? Entahlah. Namun segala kemungkinan tetap ada termasuk bersatunya para pemilik modal itu untuk mendukung Jokowi. Jika maneuver politik para pemilik media ini menjadi kenyataan maka rakyat benar-benar dicuci otaknya oleh media-media pendukung Jokowi untuk bungkam terhadap segala penyelewengan pemerintahan Jokowi.

 

Opsi itu sangat mungkin terjadi, karena sebenarnya dibalik polarisasi media massa ke masing-masing dukungan itu media-media besar di Jakarta diuntungkan dari pilpres kemarin. Bayangkan, menurut data http://www.iklancapres.org/iklan/jenismedia/detail/1/televisi.html, televisi Jakarta menerima total Rp58,32 miliar.

 

Dari situ terlihat, bahwa peta politik media setelah pilpres akan berubah. Biaya operasional media massa, termasuk TV, sangat besar sehingga pemilik media bisa saja mencari aman dengan tidak melakukan oposisi terbuka. Konfrontasi terbuka dengan presiden terpilih berpotensi untuk tidak lagi mendapatkan gelontoran uang dari para politisi penguasa untuk beriklan.

 

Lagi pula, para pemilik media itu sekaligus adalah praktisi politik. Dan dalam politik tidak ada musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Bayangkan bila di bawah kepemimpinan Jokowi nantinya,kepentingan Hary Tanoe, Surya Paloh dan Aburizal Bakrie dapat dipertemukan, apa yang terjadi dengan peta politik media? Akankah media-media besar itu kemudian menjadi corong pemerintah dan mengabaikan suara rakyat? Jika peta politik media itu yang terjadi maka kita sesungguhnya telah berada di era yang lebih buruk daripada era Soeharto.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: