Pak Prabowo, Move On dong Pak,…

Pemilihan Presiden (pilpres) baru saja kita lewati bersama. Di TPS (Tempat Pemungutan Suara) di perumahan saya di Bogor, antusiasme warga begitu terlihat. Saya sendiri sampai bersitegang dengan panitia karena saya tidak masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) sehingga tidak mendapatkan undangan mencoblos. Panitia mengijinkan saya menggunakan KTP, sebagai syarat pencobolosan. Tapi saya kuatir tidak dapat kesempatan menggunakan hak pilih saya karena kuatir tidak kebagian surat suara karena persediaannya terbatas.

Akhirnya, plong..seorang petugas KPUD (Komisi Pemilihan Pemilu Daerah) menjamin semua warga akan tetap bisa menggunakan hak pilihnya. Setelah mencoblos capres (calon presiden), saya merasa move on, karena baru kali ini saya menggunakan hak pilih saya untuk memilih presiden, sebelumnya, tahun 2004 dan 2009 saya memilih untuk tidak memilih alias golput…lega karena sekarang sudah move on…

Beberapa jam setelah memilih saya menonton siaran berita di hampir semua stasiun televisi yang menayangkan semua hasil hitung cepat (quick count) hasil pilpres. Hampir semua televisi memberitakan bahwa mayoritas lembaga survey yang melakukan quick count menyatkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla memenangi hasil pilpres. Lembaga survey yang hasilnya menyatakan kemenangan pasangan Jokowi-JK itu adalah Litbang KOMPAS, LSI, CSIS-Cyrus, SMRC dan Populi Center, bahkan Radio Republik Indonesia (RRI) juga menyatakan hal yang sama.

Setahu saya hanya satu televisi, yaitu TV One (Group Media Bakrie) yang memberitakan bahwa pasangan Prabowo-Hatta menang. Saya lupa lembaga surveinya apa yang menyatakan kemenangan Prabowo-Hatta itu. Kalau tidak salah, lembaga survey yang quick countnya menyatakan kemenangan Prabowo-Hatta itu hanya beberapa, tidak sebanyak yang menyatakan kemenangan pasangan Jokowi-JK.

Namun, nampaknya Prabowo lebih mempercayai segelintir lembaga survey yang quick countnya memenangkan dirinya itu. Sehingga Prabowo pun menyatakan kemenangannya. Entah mengapa saya tiba-tiba teringat dengan kasus Lapindo. Kenapa demikian?

Bukan karena Aburizal Bakrie, yang selama ini sering dikait-kaitan dengan kasus Lapindo, menjadi pendukung Prabowo. Beberapa tahun silam, ada konferensi pakar geologi internasional yang membahas kasus Lapindo. Dalam konferensi tersebut, mayoritas pakar geologi internasional menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo bukan karena bencana alam, namun karena aktivitas pertambangan. Namun, Lapindo bersikeras menyatakan bahwa semburan lumpur itu akibat bencana alam.

Media-media Group Bakrie yang pada waktu itu, termasuk TV One, mungkin hingga kini, justru gencar memberitakan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah akibat bencana alam bukan pengeboran. Dari sinilah saya jadi teringat kasus Lapindo ketika melihat berita Prabowo mendeklarasikan kemenangannya berdasarkan hasil quick count segelintir lembaga survey dan RRI itu.

Hmm..menurut saya sebaiknya Pak Prabowo harus mulai move on, dengan besar hati mengakui hasil quick count mayoritas lembaga-lembaga survey yang menyatakan kemenangan pasangan Jokowi-JK. Memang benar, hasil quick count bukan keputusan resmi KPU, tapi biasanya tidak berbeda jauh dari hasil resmi KPU. Lagi pula lembaga-lembaga survey yang hasil quick countnya memenangkan pasangan Jokowi-Kalla adalah lembaga-lembaga survey yang kredibel. Kecil kemungkinan pasangan Jokowi-JK membayar lembaga-lembaga survey tersebut.

Sudah waktunya Pak Prabowo Move On, mengiklhaskan Indonesia dipimpin oleh orang muda yang lebih energik. Soekarno, Hatta (proklamator, bukan Hatta Rajasa), Sjahrir, adalah orang-orang muda yang mampu memimpin Indonesia di saat usia mereka muda. Sudah saatnya Indoensia dipimpin oleh orang muda seperti Jokowi.

Sudah waktunya Pak Prabowo Move On, mempersiapkan strategi baru dalam membangun Indonesia dengan menjadi oposisi. Menjadi oposisi bukan sebuah kehinaan. Sebagai kubu oposisi, Pak Prabowo harus mendesak Jokowi-JK ketika nanti berkuasa nanti, untuk segera merivisi MP3EI (Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Kenapa pasangan Jokowi-JK harus merevisi MP3EI? Karena konsep MP3EI hanya akan ‘menjual’ kekayaan alam kepada pemilik modal, termasuk investor asing. Dan kawasan yang ‘dijual’ itu bukanlah kawasan yang sudah dihuni penduduk secara turun temurun. Artinya, penduduk itu akan diusir dan disingkirkan dari sumber-sumber kehidupannya.
Pak Prabowo, sudah saatnya Move On pak…biarlah orang-orang biasa seperti Jokowi menjadi pemimpin negeri ini..
Move On yuk Pak Prabowo…

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: