Sesat Pikir Menjadikan Soeharto sebagai Pahlawan

soeharto

Beberapa waktu yang lalu calon presiden (capres) Prabowo Subianto mengatakan, jika menjadi presiden, akan memperjuangkan gelar pahlawan bagi Soeharto, tokoh sentral dari rejim Orde Baru.

Sebelumnya, pada kampanye pemilu legislatif, sebuah partai politik juga ‘menjual’ nama Soeharto. Menurut mereka, Soeharto banyak jasanya. Di era Soeharto lebih enak daripada sekarang.

Benarkah rakyat Indonesia rindu jaman Soeharto?

Jika benar rakyat Indonesia itu rindu Soeharto maka ada yang salah dari elite politik dan partai politik kita dalam memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Atau memang partai politik sebenarnya tidak pernah memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Mereka hanya mengeksploitasi suara rakyat setiap lima tahun sekali untuk kursi kekuasaan?

Menurut saya, menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional itu adalah sesat pikir. Argumentasi bahwa jaman Soeharto lebih enak dari jaman sekarang juga mengandung kesesatan berpikir yang akut.

Di era Orde Baru, yang tokoh sentralnya adalah Soeharto, nyawa begitu murah harganya. Orde Baru sendiri didirikan dengan terlebih dulu membunuh dan memenjarakan ratusan ribu, bahkan jutaan orang, tanpa melalui sebuah pengadilan.

Setelah Orde Baru mapan dengan menginjak ratusan ribu mayat warga negaranya, korupsi menjadi agama baru rejim ini. Dari pembuatan KTP hingga utang luar negeri pun tak luput dikorupsi.

Perusakan lingkungan hidup juga dimulai oleh rejim ini dengan pembukaan hutan untuk industri kayu dan pertambangan.

Penguasaan sumberdaya alam oleh asing pun dimulai oleh rejim Orde Baru yang fasis, korup dan menindas.

Liberalisasi ekonomi yang di era sekarang menjerat leher masyarakat adalah penyempurnaan dari kapitalisme yang telah ditanam oleh Orde Baru setelah menjatuhkan Soekarno.

Jika kemudian Soeharto dijadikan pahlawan maka, semua keselahan rejim Orde Baru itu berubah menjadi sebuah kebaikan. Akibatnya, kita tidak pernah bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh rejim Orde Baru ini. Jika itu terjadi maka, kita akan berpotensi mengulang kesalahan yang sama. Ini bahayanya!

Secara pribadi, mungkin kita bisa memaafkan Soeharto, karena ia juga manusia yang tak luput dari dosa. Tapi menjadikan Soeharto sebagai pahlawan itu berlebihan dan sebuah kesesatan berpikir. Karena jika Soeharto menjadi pahlawan maka, Orde Baru juga menjadi pahlawan. Semua kesalahan yang diperbuatnya menjadi sebuah kebenaran. Dan sekali lagi, kita tidak bisa belajar dari kesalahan rejim Orde Baru yang penuh dengan kegelapan itu.

sumber foto:http://nasional.news.viva.co.id/news/read/226198-soeharto–di-antara-bidikan-sniper-serbia

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: