Tersandera Utang Luar Negeri

ledakan-utang-300x300

Harian REPUBLIKA, 6 Februari 2014

Oleh: Firdaus Cahyadi

Menteri adalah sebuah jabatan politik. Setiap kebijakan yang dikeluarkannya adalah sebuah keputusan politik, termasuk pernyataannya di media massa. Beberapa waktu yang lalu Hatta Rajasa, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian di Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jilid ke-2, membuat pernyataan yang membuat lembaga internasional dan negara-negara pemberi utang kepada Indoensia tersenyum bangga.

Seperti ditulis oleh sebuah portal berita pada 27 Januari 2014 lalu. Menurut Hatta Rajasa, semakin besar utang yang dimiliki negara justru kian bertambah baik di mata para lembaga maupun negara pendonor alias pemberi utang. Singkat kata citra Indonesia semakin meningkat.

Bagi lembaga bisnis bantuan internasional dan negara-negara pemberi utang, pernyataan Menteri Hatta Rajasa adalah sebuah sinyal positif. Pernyataan itu bisa ditafsirkan bahwa Indonesia tetap setia menjadi penerima utang.

Sebaliknya, bagi masyarakat pernyataan Menteri Hatta Rajasa, yang juga dikabarkan menjadi calon presiden (capres) pada pemilu 2014, itu tentu sangat memprihatinkan. Sebagai seorang Menko Perekonomian dan juga ketua umum sebuah partai yang mengaku reformis seharusnya memahami dampak buruk utang luar negeri terhadap kedaulatan ekonomi maupun politik bagi negara penerima utang seperti Indonesia ini.

Munculnya paket kebijakan liberalisasi ekonomi, yang membuat penguasaan sumberdaya alam dan cabang-cabang produksi yang vital bagi masyarakat jatuh ke industri-industri dari Negara-negara maju, tidak bisa dilepaskan dari politik utang luar negeri. Kenapa demikian?

Karena utang luar negeri mempersyaratkan dirubahnya beberapa kebijakan ekonomi-politik negara penerima utang agar sesuai dengan kepetingan pemberi utang. Paket kebijakan liberalisasi ekonomi adalah salah satu prasyarat kebijakan yang harus dibuat pemerintah karena menerima utang dari luar negeri.

Liberalisasi ekonomi mengharamkan subsidi, karena subsidi akan merusak pasar bebas. Akibatnya kebijakan liberalisasi membuat warga Negara sulit mengakses sesuatu yang seharusnya menjadi haknya, seperti pendidikan tinggi, air bersih, energi, kesehatan dan transportasi massal. Semua sudah diserahkan ke mekanisme pasar, sehingga siapa yang memiliki uang, maka merekalah yang memiliki akses terhadap produk barang atau jasa yang penting bagi warga Negara itu.

Besarnya beban utang luar negeri Indonesia juga menyisakan jejak kerusakan lingkungan hidup dengan skala yang luas. Beban utang luar negeri yang terus membesar memaksa pemerintah Indonesia untuk membuka lebar perijinan investasi yang dapat menambah pemasukan bagi Negara guna membayar utang luar negeri yang terus menumpuk tadi. Tak peduli meskipun investasi itu berpontensi merusak ekologi. Akibatnya, kerusakan lingkungan hidup pun terus meluas. Bencana ekologi yang terjadi hampir serentak di awal tahun ini adalah konsekuensi logis dari tindakan tersebut di atas.

Jejak ekologi utang luar negeri juga terlihat dalam proyek utang di sektor kelautan. Menurut catatan Down The Earth yang dipublikasikan tahun 2003 menyebutkan bahwa proyek ADB dan Bank Dunia pada tahun 1983 dan 1984 di sektor kalautan telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan.

Celakanya, Pembangunan tambak-tambak udang di Indonesia seringkali juga terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), yang terjadi akibat perampasan tanah, kekerasan terhadap protes masyarakat dan kondisi buruh-buruh tambak udang yang buruk.

Padahal hutan bakau selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi juga merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut selain mengakibatkan pemiskinan nelayan juga menjadikan kawasan pesisir Indonesia semakin rentan terhadap berbagai macam bencana ekologi.

Menurut catatan Coordinating Committee of ASIA (Asia Solidarity Againts Industrial Aquaculture) Riza Damanik menyebutkan bahwa bencana abrasi telah terjadi di lebih dari 750 desa pada periode tahun 1996 hingga 1999. Hingga tahun 1999, sedikitnya 90 persen kawasan desa pesisir yang telah kehilangan ekosistem hutan bakaunya terkena bencana banjir. Dan Pulau Jawa, salah satu pulau yang menjadi fokus ekspansi industri pertambakan di Indonesia, mengalami peningkatan jumlah desa pesisir yang terkena banjir hingga empat kali lipat dalam periode tahun 1996 hingga 2003, dengan jumlah 3000 desa pesisir.

Pernyataan Hatta Rajasa yang pro utang luar negeri sejatinya tidak terlalu mengherankan. Beberapa tahun yang sebelumnya, pemerintahan SBY, yang Hatta Rajasa masuk di dalamnya, juga melakukan saweran untuk membantu lembaga bisnis bantuan International Monetary Fund (IMF). Padahal atas jasa IMF ini pula liberalisasi ekonomi yang menyengsarakan masyarakat di Negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa berjalan mulus.

Program liberalisasi ekonomi yang selalu didesakan IMF ke negara-negara yang dibantunya justru dinilai menciptakan kemiskinan baru. Menurut ekonom dari Universitas Havard Jeffrey Sachs, IMF bersama Bank Dunia dan pemerintah Amerika Serikat, bertanggung jawab atas meninggalnya jutaan orang di dunia akibat kemiskinan. Di tengah hujan kritik dari berbagai kalangan atas peran IMF dalam menyengsarakan masyarakat dunia melalui paket liberalisasinya itulah pemerintah SBY justru membantu IMF.

Utang luar negeri sebuah negara tidak bisa disamakan dengan utang perusahaan. Utang luar negeri membawa konsekuensi perubahan kebijakan politik. Sangat aneh bila jajaran pemerintahan SBY, termasuk Hatta Rajasa di dalamnya, tidak mengetahui kotornya politik utang luar negeri ini. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat melalui pajak yang dibayarkannya harus menanggung utang luar negeri itu. Dengan segala penderitaan masyarakat akibat utang luar negeri, masih layakah bila politik yang menghamba pada utang luar negeri itu terus dipertahankan?

Sumber foto:http://1.bp.blogspot.com/-h9A-vP3Ma0I/TaRnvFMM73I/AAAAAAAAAJo/z9ulEFl7ons/s320/ledakan-utang-300×300.jpg

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: