Mobil Murah yang Tidak Murah

polusi udara
sumber foto: www(dot)tempo(dot)co

Kolom opini Harian Bisnis Indonesia, 24 September 2013

Oleh: Firdaus Cahyadi

Akhirnya produsen otomotif memproduksi mobil murah dan ramah lingkungan Low Cost Green Car (LCGC). Setidaknya sudah dua produsen otomotif yang meluncurkan mobil jenis LCGC. Pertanyaannya berikutnya tentu saja adalah benarkah mobil LCGC itu murah dan ramah lingkungan?

Dari segi harga, mungkin mobil jenis LCGC itu murah. Namun, untuk menilainya, marilah kita telisik lebih dalam secara kontekstual sesuai dengan kondisi perkotaan di Indonesia. Saat ini rasio peredaran uang di Indonesia lebih terpusat di Jakarta dengan persentase 58 hingga 62 persen. Sedangkan di wilayah perkotaan lainnya hanya 29-31 persen. Dengan melihat data itu jelas terlihat bahwa konsumen potensial dari mobil murah LCGC ada di Jakarta. Apa itu artinya?
Artinya, kehadiran mobil murah LCGC itu akan menambah macet jalan raya Jakarta. Pada 2010, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mendata potensi kerugian hingga Rp45 triliun. Biaya terbesar yakni kehilangan waktu. Sementara kerugian akibat pemborosan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM), menurut data Kementerian Perekonomian, sebesar Rp27 triliun. Tapi bukankah mobil LCGC itu hemat BBM?

Benar, mobil LCGC memang hemat BBM, namun jika jumlah di jalanan banyak tetap saja akan memperparah kemacetan lalu lintas dan itu juga berarti memperbesar konsumsi BBM. Kerugian lainnya, tentu saja polusi udara. Bisa jadi emisi yang dikeluarkan oleh sebuah mobil LCGC itu rendah kadar polutannya. Tapi sekali lagi, dengan jumlah mobil yang banyak maka polutan yang ada di udara akan tetap sama.

Hasil kajian Bank Dunia mengungkapkan dampak ekonomi akibat pencemaran udara di Jakarta sebesar Rp 1,8 triliun. Dan sumber utama polusi udara di Jakarta adalah emisi dari kendaraan bermotor, termasuk dari mobil pribadi. Semakin macet kondisi lalu lintas di Jakarta, semakin besar polusi udara yang ditimbulkannya. Itu berarti semakin besar pula kerugian yang ditimbulkannya.

Siapa yang akan menanggung kerugian akibat kemacetan lalu lintas dan polusi udara itu? Yang jelas bukan produsen mobil, termasuk mobil LCGC. Kerugian trilyunan rupiah itu dibebankan seluruhnya ke masyarakat. Jika kerugian akibat kemacetan lalu lintas dan polusi udara itu dimasukan ke komponen biaya produksi sebuah mobil, termasuk mobil LCGC, maka jelas harganya akan melambung. Jadi mobil murah yang sekarang diluncurkan itu bisa jadi sebenarnya tidak murah, karena biaya sosial yang melekat dalam produknya dibebankan ke masyarakat.

Anehnya, pemerintah justru membebaskan bea impor komponen bagi produksi mobil LCGC itu. Potensi pendapatan negara yang sejatinya dapat mengurangi kerugian publik akibat polusi udara dan kemacetan lalu lintas pun sirna.

Lantas apakah produksi mobil LCGC itu haram dipasarkan di Indonesia, khususnya Jakarta? Mobil jenis apapun, termasuk LCGC, sebenarnya boleh-boleh saja dipasarkan di Indonesia, khususnya Jakarta asal ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi. Setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan agar Mobil LCGC benar-benar layak untuk dipasarkan di Jakarta.

Pertama, mobil LCGC bisa dipasarkan di Jakarta dan juga kota lainnya bila kondisi transportasi publik sudah aman, nyaman dan harganya terjangkau oleh masyarakat. Di saat kondisi transportasi publik masih berantakan maka, pemasaran mobil LCGC ini hanya akan memindahkan pengguna transportasi publik menjadi pengguna kendaraan pribadi. Itu artinya, menambah kemacetan lalu lintas dan polusi udara.

Kedua, Mobil LCGC yang diproduksi harus mampu memutus ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Teknologi Mobil LCGC seharusnya sudah tidak pada level mobil hemat BBM, namun harus dalam level tidak lagi menggunakan BBM sama sekali. Selain karena Indonesia adalah negara importir BBM, juga karena penggunaan BBM akan berdampak buruk bagi lingkungan hidup.

Tidak sedikit bahan bakar alternatif baru dan terbarukan selain BBM. Industri otomotif yang menjadi produsen mobil LCGC ditantang untuk mengembangkan produk mobilnya dengan mengadopsi bahan bakar non-BBM. Dan mobil LCGC yang sudah tidak menggunakan BBM inilah yang layak mendapatkan keringanan bea masuk impor komponen bagi produksinya.

Ketiga, proses produksi dari Mobil LCGC pun harus meminimalkan limbah yang bisa merusak lingkungan hidup. Penggunaan energi fosil fuel (BBM, batu bara dan gas) dalam proses produksi harus diminimalisasikan. Karena penggunaan energi fosil fuel akan memperparah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir, penyebab perubahan iklim. Dan akan lebih baik bila 100% tidak lagi menggunakan fosil fuel dalam proses produksi mobil LGCC. Selain itu, sebagian besar komponen penyusun Mobil LCGC harus bisa didaur ulang, sehingga tidak memperbanyak sampah.

Akhirnya, kita sebagai warga perkotaan, termasuk Jakarta yang juga berpotensi menjadi korban kemacetan lalu lintas dan polusi udara harus mulai menghitung biaya sosial yang harus kita keluarkan ketika mobil LCGC diluncurkan. Pemerintah sebagai pihak yang harus bertanggungjawab terhadap pemenuhan hak warga atas lingkungan hidup pun tidak boleh tinggal diam. Segala insentif terhadap produksi mobil LCGC harus ditinjau ulang.

Insentif terhadap produksi mobil LCGC bisa tetap diberikan bila tiga syarat seperti diuraikan di atas dipenuhi. Tanpa pemenuhan ketiga syarat tersebut di atas maka, peluncuran mobil LCGC hanya akan berdampak buruk bagi masyarakat. Sudah saatnya, pemerintah menuntut tanggung jawab industri otomotif atas munculnya biaya sosial yang ditanggung masyarkaat akibat produksi dan pemasaran mobil LCGC ini, bukan justru memberikan insentif secara berlebihan.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: