Siapa Agen Asing, Pemerintah atau LSM?

imperialism
Koran TEMPO, 20 Juli 2013

oleh: Firdaus Cahyadi

Pada awal Juli 2013, DPR akhirnya mengesahkan Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Organisasi Kemasayrakatan (Ormas) menjadi UU. Setelah pengesahan RUU Ormas menjadi UU itu beberapa politisi pun semakin keras menuduh aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai agen asing, karena organisasina menerima bantuan dari negara atau lembaga asing dalam menjalankan programnya.

Tuduhan para politisi bahwa LSM mendapat bantuan pendanaan dari asing memang sulit dipungkiri. Bagimana tidak, 90% dari 13.500 LSM yang tercatat di Departemen Dalam Negeri dalam tahun 2002, ternyata didanai lembaga bantuan asing. Pada umumnya pendanaan LSM Indonesia berasal dari lembaga-lembaga donor asing yang menghimpun dana dari pajak atau sumbangan masyarakat. Lembaga-lembaga donor yang banyak membantu LSM Indonesia biasanya datang dari negara Amerika Serikat dan Eropa.

Adanya dana asing dalam pembiayaan program LSM memang berpotensi mengurangi independensi LSM tersebut. Namun, mengatakan bahwa semua LSM tidak independen karena adanya pendanaan dari asing juga terlalu berlebihan.

Pada saat invasi Amerika Serikat (AS) ke Iraq tahun 2003 silam, LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan lima lembaga donor yang mendapat dukungan finansial dan politik dari AS, Inggris dan Australia. Penghentian kerjasama itu dilakukan karena invasi AS ke Iraq dinilai bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini oleh Walhi.

Di sisi lain, menilai bahwa semua program yang didanai asing merugikan masyarakat juga terlalu berlebihan. Ideologi lembaga donor asing sangat beragam. Mereka memiliki nilai-nilai organisasi sebagai dasar dari pemberian bantuannya. Misalnya, ada lembaga donor yang program-programnya mendukung free trade (perdagangan bebas) namun ada donor yang program-programnya mendukung fair trade (perdagangan yang adil).

Seperti telah menjadi sebuah rahasia umum, bahwa program-program yang mempromosikan free trade selalu menguntungkan perusahaan multi nasional asal negara-negara maju dibandingkan perusahaan atau masyarakat di negara berkembang. Program-program LSM Indonesia pun ada yang mendukung free trade dan juga fair trade. LSM yang programnya mendukung fair trade tentu tidak bertentangan dan merugikan kepentingan masyarakat Indonesia dalam kancah perdagangan internasional.

Sementara itu, ketergantungan pendanaan terhadap bantuan luar negeri sebenarnya sudah disadari oleh beberapa LSM. Kesadaran itu bertambah ketika terjadi krisis ekonomi di Amerika dan Eropa. Beberapa LSM besar di Indonesia, sebut saja Walhi dan ICW (Indonesian Corruption Watch) kini sudah mulai melakukan penggalangan dana publik dari masyarakat Indonesia. Bahkan lembaga zakat seperti Dompet Dhuafa juga mulai bisa bekerjasama dengan beberapa LSM Indonesia dalam beberapa program pembelaan terhadap hak-hak warga miskin.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah hanya LSM yang menerima bantuan dana dari asing? Bukankah pemerintah juga menerima bantuan pendanaan dari asing? Bahkan seringkali dana yang disebut bantuan oleh pemerintah itu sebenarnya adalah utang luar negeri yang menjadi beban seluruh rakyat Indonesia.

Kepentingan asing justru lebih kental dalam paket bantuan asing yang diterima pemerintah tersebut. Bagi negara atau bisnis bantuan asing, menggelontor uang kepada pemerintah lebih strategis daripada menggelontorkannya ke LSM. Dengan menggelontorkan bantuan pendanaan ke pemerintah, perubahan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan asing pun dengan mudah dapat segera diwujudkan.

Menurut data dari Indonesia Budget Center, seperti ditulis oleh website jurnalparlemen.com mengungkapkan, sejumlah kebijakan dan puluhan undang-undang yang merugikan kepentingan nasional dihasilkan melalui bantuan dana-dana asing tersebut. Misalnya, UU Migas No. 22 Tahun 2011, UU Sumber Daya Air No. 7 Tahun 2004, UU Energi No. 30 Tahun 2007. Sementara itu, UU lain yang dibikin dengan menggunakan dana utang dan hibah misalnya, UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 9/2003 tentang Badan Hukum Pendidikan, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil, lalu UU Perkebunan, UU Ketenagalistrikan.

Ruh dari semua UU yang mendapat pendanaan dari asing adalah liberalisasi perdagangan. Agenda liberalisasi perdagangan itu salah satunya nampak dari adanya desakan privatisasi cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Negara yang seharusnya menguasai cabang-cabang produksi tersebut untuk kesejahteraan masyarakat disingkirkan secara legal.

Adanya pendanaan asing memang berbahaya lebih-lebih bila itu diterima oleh pemerintah untuk membiayai program perubahan kebijakan. Apakah pemerintah sudah menyadari bahwa keberaadaan dana asing yang digelontorkan kepada pemerintah itu berbahaya?

Jika konsisten terhadap nasionalisme dan kemandirian seharusnya kita memulai dari diri kita sendiri. Beberapa LSM sudah mulai bergerak dengan menggalang pendanaan publik untuk membiayai program-programnya. Sementara pemerintah nampaknya belum melakukan apa-apa untuk ’membersihkan’ dirinya dari bantuan asing. Dalam konteks ini LSM lebih maju daripada pemerintah.

Ironisnya yang terjadi saat ini, secara substansi pemerintah dan politisi justru menjadi pembela proyek liberalisasi ekonomi yang merupakan ruh bantuan dari negara-negara asing dan juga lembaga bisnis bantuan internasional itu. Jadi, jika sekarang ada politisi yang menuduh LSM menjadi agen asing, sebaiknya mereka melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Jangan-jangan para politisi itu juga bagian dari agen asing.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Siapa Agen Asing, Pemerintah atau LSM?

  1. sepakat bung firdaus,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: