Tuhan, Asap, dan Tragedi Ekologi

asap-abu-pembakaran-hutan-makin-bahayakan-warga-dumai-riau (1)
sumber foto: ada di bawah artikel ini.

Pernah dimuat di Koran TEMPO, (Selasa, 25 Juni 2013)

Di negeri yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar negaranya ternyata nasib Tuhan hampir selalu menjadi kambing hitam jika terjadi tragedi ekologi

Oleh: Firdaus cahyadi

“Ini bencana asap, bukan bencana kebakaran hutan dan lahan” ujar Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan, seperti yang ditulis oleh sebuah media daring. Menhut meyakini peristiwa kebakaran lahan bukanlah disengaja dibakar, melainkan kondisi iklim yang ekstrem dan mengeringkan lahan gambut. Singakat kata, kebakaran lahan yang menyebabkan Indonesia menjadi pengekspor asap itu dinilai sebagai sebuah bencana alam.

Karena merupakan bencana alam maka, tidak ada kaitannya dengan ulah manusia. Dan polisi tidak perlu mengusut dalang sebenarnya dari kebakaran hutan ini. Meski demikian, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menemukan, 90 persen titik api kebakaran hutan di Riau terjadi di dalam wilayah konsesi hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan.

Dalam kasus kebakaran lahan itu seharusnya ada investigasi dari tim independen untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari kasus tersebut. Investigasi itu diperlukan untuk memastikan apakah benar murni bencana alam atau ada peran manusia bahkan perusahaan yang menyebabkan kebakaran lahan itu. Namun, entah mengapa Menteri Kehutanan begitu yakin bahwa kebakaran hutan itu akibat benacana alam.

Bukan kali ini saja kasus lingkungan hidup dikatakan sebagai bencana alam tanpa didahului oleh sebuah investigasi yang menyeluruh. Beberapa bulan sebelum kasus kebakaran hutan di Riau ini menghebohkan itu terjadi kecelakaan di areal tambang milik Freeport. Tapi belum juga tim investigasi bekerja, Wamen ESDM Susilo Siswoutomo memberikan penjelasan bahwa kemungkinan besar runtuhnya terowongan milik Freeport itu adalah sebuah musibah, bukan faktor kesalahan manusia.

Namun, karena kecelakaan itu terjadi di kawasan tambang perusahaan besar, desakan masyarakat pun menguat agar pemerintah menginvestigasi kasus itu. Bahkan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Thamrin Sihite, pernah mengatakan bahwa perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu dilarang melakukan seluruh kegiatan penambangannya hingga investigasi selesai dilakukan. Namun, sebelum proses investigasi berjalan optimal, Kementerian ternyata ESDM sudah mengeluarkan persetujuan PT Freeport untuk beroperasi kembali. Apakah pemberian ijin itu disebabkan hasil investigasi awal memperkuat sinyalemen Wakil Menteri ESDM bahwa kecelakaan itu adalah musibah bukan karena kesalahan manusia?

Banyak tragedi ekologi yang seringkali berakhir dengan ‘damai’ karena sejak awal ‘sudah diarahkan’ menjadi kasus bencana alam bukan kerusakan lingkungan hidup. Masyarakat tentu masih ingat dengan kasus semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Meskipun ada dokumen MEDCO yang mengungkapkan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran bukan bencana alam, namun pemerintah tetap bersikeras bahwa kasus itu adalah bencana alam, akibat rentetan gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta.

Mengatakan bahwa tragedi ekologi adalah bencana alam adalah cara paling mudah dan cepat untuk menyembunyikan buruknya pengelolaan lingkungan hidup dalam kasus itu. Hal itu bukan hanya terjadi di sektor perkebunan, kehutanan dan tambang saja. Dalam kasus banjir Jakarta pun hal itu juga terjadi.

Menanggapi terjadinya banjir Jakarta 2013 yang lalu misalnya, pihak Dinas Pekerjaan Umum Jakarta mengatakan bahwa banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi. Persoalan alih fungsi lahan di kawasan Puncak, buruknya sistem drainase dan alih fungsi ruang terbuka hijau (RTH) dan kawasan resapan lainnya di Jakarta menjadi pusat perbelanjaan tidak dianggap menjadi penyebab terjadinya banjir Jakarta.

Mungkin dengan mengkambinghitamkan Tuhan, melalui pernyataan bahwa tragedi ekologi adalah bencana alam, keburukan pengelolaan lingkungan hidup dapat ditutupi. Namun, dalam jangka panjang itu justru seperti menanam sebuah bom waktu. Karena penyebab sebenarnya dari kasus lingkungan hidup itu tidak terungkap. Dan kita pun tidak pernah belajar dari kasus itu. Akibatnya kasus yang serupa akan terus terjadi.

Banjir Jakarta dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Karena menganggap bahwa banjir Jakarta adalah sekedar karena curah hujan yang tinggi, artinya bencana alam, maka alih fungsi kawasan yang terjadi di Puncak (hulu) maupun di Jakarta (hilir) tidak pernah dikendalikan. Akibatnya banjir pun selalu datang. Jika sudah demikian masyarkaatlah yang selalu menjadi korbannya.

Mengapa buruknya pengelolaan lingkungan hidup perlu disembunyikan dengan mengatakan bahwa tragedi ekologi sebagai bencana alam? Setidaknya ada dua hal yang menyebabkannya. Pertama, untuk mengendalikan kesadaran lingkungan hidup yang sekarang mulai tumbuh di masyarakat. Jika kesadaran lingkungan hidup masyarakat tidak dikendalikan maka hal itu akan membahayakan iklim investasi. Masyarakat akan menjadi kritis bila kawasan tempat mereka tinggal ada ijin industri perkebunan, pertambangan atau ada alih fungsi RTH menjadi pusat perbelanjaan.

Sikap kritis masyarakat yang didasarkan pada kesadaran ekologi ini jika tidak dikendalikan akan menghambat pergerakan modal. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius maka, kesadaran ekologi harus dibenturkan dengan kesadaran religius. Bencana alam yang merupakan kehendak Tuhan pun dipakai menjadi argumen untuk meredam sikap kritis bahkan juga protes di masyarakat. Memprotes terjadinya bencana alam akan dianggap sama dengan memprotes kehendak Tuhan.

Kedua, keburukan pengelolaan lingkungan hidup ditutup-tutupi agar tidak merusak citra pemerintah. Kini kesadaran lingkungan hidup bukan hanya tumbuh di Indonesia namun juga di masyarakat internasional. Saat ini, dipastikan tidak ada pemerintahan di sebuah negara yang tidak mengklaim dirinya sendiri sebagai pihak yang pro lingkunga hidup. Artinya, jika buruknya pengelolaan lingkungan hidup diakui secara jujur akan merusak citra pemerintah secara global.

Memang sebuah ironi. Di negeri yang menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar negaranya, ternyata nasib Tuhan hampir selalu menjadi kambing hitam jika terjadi tragedi ekologi. Dan lebih ironis lagi, tidak ada protes keras dari agamawan ketika Tuhan dikambinghitamkan dalam kasus lingkungan hidup.

Upaya mengkambinghitamkan Tuhan dengan mengatakan tragedi ekologi sebagai bencana alam harus segera dihentikan. Jika tidak, upaya mengkambinghitamkan Tuhan itu akan terus berlanjut dan menjadi preseden buruk. Pihak yang seharusnya bertanggungjawab dapat bebas dari jerat hukum, sementara masyarakat tidak memiliki pilihan lain selain menjadi korban dari tragedi ekologi tersebut.

sumber foto:murid sekolah. ©REUTERS/Sigit Pamungkas
diambil di website www(dot)merdeka(dot)com/peristiwa/asap-abu-pembakaran-hutan-makin-bahayakan-warga-dumai-riau.html

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: