Kenapa Media Massa Tidak Kritis soal Kenaikan BBM??

di-depan-sby-buruh-tolak-rencana-kenaikan-bbm

sumber photo: http://www.merdeka.com/peristiwa/di-depan-sby-buruh-tolak-rencana-kenaikan-bbm.html

Pemerintah kembali akan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan harga BBM akan merangsang kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Siapa yang akan terpukul? Jelas masyarakat kelas menengah bawah. Pengamat ekonomi dari LIPI Latif Adam mengungkapkan bahwa kenaikan BBM akan menambah jumlah orang miskin sebanyak 25 juta orang.

Namun anehnya, hampir semua media massa arus utama (mainstream) tidak mengkritisi kenaikan BBM ini. Mereka cenderung mengamini argumentasi pemerintah terkait kenaikan harga BBM ini. Ada beberapa argumentasi pemerintah yang diamini saja oleh media massa mainstream, antara lain:
1. Pencabutan subsidi BBM akan menghemat APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
2. Pencabutan subsidi BBM akan menghemat pemakaian energi fosil yang merusak lingkungan oleh pemilik kendaraan bermotor pribadi.

Harusnya, media massa mainstream bukan sekedar mengamini namun juga secara kritis bertanya;
1. menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, kenaikan harga BBM yang akan diberlakukan pada bulan Mei nanti ternyata hanya bisa menghemat APBN sebesar Rp.21 trilyun. Padahal jika hanya untuk sekedar menghemat Rp21 trilyun, banyak langkah yang bisa dilakukan pemerintah tanpa harus menambah inflasi. Mengapa pemerintah lebih memilih opsi menaikan harga BBM daripada membatalkan pemberian upeti ke IMF sebesar Rp.9,4 trilyun pada 2012 lalu atau memaksimalkan penyerapan anggaran pembangunan (Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika, tahun 2012 ada Rp 60 triliun dana anggaran pembangunan yang tak terserap)?

2. Soal pemborosan BBM akibat pemakaian kendaraan bermotor pribadi oleh orang-orang kaya. bertanya apakah kenaikan BBM yang selama ini dilakukan berdampak pada pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi di jalanan? Ternyata tidak. Sudah berkali-kali BBM naik, penggunaan kendaraan bermotor pribadi tidak berkurang. Dan itu berarti bahwa konsumsi BBM tetap tinggi dari sektor ini.

Mengapa orang-orang lebih suka menggunakan kendaraan bermotor pribadi meskipun harga BBM dinaikan terus? Jawaban sederhana karena belum tersedia transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau. Akhir-akhir ini justru sering kita baca berita tentan perampokan di angkutan umum.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah setelah harga BBM dinaikan beberapa kali ini, pemerintah lantas memindahkan subsidinya untuk menyubsidi dan membangun infrastruktur transportasi publik? Jawabnya tidak. Bahkan seiring subsidi BBM dikurangi beberapa kali, pemerintah dalam waktu yang bersamaan juga mengurangi subsidi untuk kereta api.

Infrastruktur transportasi yang dibangun pemerintah pun bukan infrastruktur yang khusus bagi transportasi publik, melain infrastruktur yang penggunanya didominasi oleh kendaraan bermotor pribadi. Proyek infrastruktur transportasi yang menjadi andalan pemerintah justru jalan tol Trans Jawa, Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) dan terakhir jembatan Selat Sunda.

Bahkan di DKI Jakarta, kawasan yang pada triwulan pertama tahun 2012 silam menduduki posisi pertama yang melebihi kuota hingga 35%, infrastruktur transportasi yang gencar dibangun adalah jalan layang non tol, underpass dan enam jalan tol dalam kota. Padahal di Jakarta, setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan pertambahan kendaraan sebanyak 1923 mobil pribadi.

3. Kenapa media mainstream tidak melihat kenaikan BBM sebagai buah dari kesepakatan perdagangan bebas. Pada November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menjanjikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menghilangkan secara bertahab subsidi harga bahan bakar minyak (BBM). Penghilangan subsidi tersebut adalah salah satu kesepakatan dalam pertemuan puncak 21 kepala negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat. Forum itu merupakan upaya kerjasama dari 21 negara dengan tujuan meningkatkan perdagangan bebas di kawasan Asia-Pasifik.

Sayang seribu sayang, media massa mainstream tidak kritis terhadap kebijakan kenaikan harga BBM ini. Media massa seperti bukan lagi menjadi pilar demokrasi namun sudah menjadi pilar bagi liberalisasi ekonomi..

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: