Saatnya Membangkitkan (lagi) Politik Jalanan

Cyber activism
“…Ternyata kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang..” (Bongkar, Swami)

Begitu sepotong bait lirik lagu yang disuarakan oleh Iwan Fals. Lagu itu popular di era Orde Baru. Era dimana mata, telinga dan mulut kita ditutup. Kita punya telinga tapi dilarang mendengar, kita punya mata tapi dilarang melihat. Dan kita punya mulut tapi dibungkam. Yang berani mencoba memberontak akan disingkirkan baik secara harfiah atau kiasan. Paling tidak akan dituduh komunis atau penyebar paham kiri. Parlemen yang harusnya mewakili suara rakyat hanya dijadikan paduan suara yang hanya bisa bersuara setuju.

Kondisi sosial itu yang membuat lagu BONGKAR itu popular di masa itu. Rakyat rindu oposisi.

Namun, lagu BONGKAR itu nampaknya masih relevan di era sekarang. Era dimana rejim otoritarian telah tumbang. Ya, meskipun sekarang angin kebebasan sudah muncul namun kebabasan itu telah dirampas dari rakyat jelata. Kebabasan hanya berada di kalangan elite yang berkuasa secara politik maupun modal.

Di era sekarang, kita memang bebas berbicara. Tapi suara kita membentur tembok kekuasaan yang angkuh. Agenda pembangunan yang digagas oleh wakil rakyat (DPR/D) dan pemimpin yang kita pilih secara langsung seringkali tidak nyambung dengan kehidupan rakyat sehari-hari.

Lihatlah, hari-hari ini kita disuguhi berita elite politik di parlemen dan pemerintah yang korupsi.Anak seorang pejabat yang hedonis.Sementara rakyat sibuk mencari sesuap nasi dan memeras keringat untuk tatap melanjutkan kehidupannya.

Para pejabat hanya sibuk lobby-lobby untuk mempertahankan kekuasaannya. Presiden yang kita harapkan lebih banyak fokus mengrus kehidupan rakyatnya justru memilih sibuk mengurus partainya yang dilanda isu korupsi.

Media massa yang selama ini kita percaya sebagai pilar ke-4 demokrasi kini justru dikuasai segelintir orang-orang kaya dengan segudang agenda ekonomi-politiknya.

Namun jangan terus bermuram durja. Riak-riak kecil politik jalanan sudah mulai muncul. Riak-riak yang akan menjadi gelombang besar yang mampu merobohkan tembok-tembok yang dibangun oleh elite politik dan segelintir orang-orang kaya itu..cepat atau lambat tembok itu akan runtuh…

Kini, buruh sudah bergerak karena pemerintah lebih mengakomodasi kepentingan modal.

Pedagang kaki lima dan mahasiswa sudah bergerak menduduki rel kereta api rel listrik untuk melawan penggusuran.

Gerakan itu memang masih kecil.Namun, bukan tidak mungkin akan membesar jika elite politik masih tidak peduli terhadap kehidupan kaum jelata. Gerakan politik jalanan akan menjadi mimpi buruk elite politik yang diperkuda oleh kepentingan segelintir orang-orang kaya.

Hampir semua elemen masyarakat sudah mulai begerak. Apakah kita masih diam, takjub dan hanya bisa berkata WoW gitu??

Tidak! Kita tidak boleh diam. Kita harus kembali membangun lingkar-lingkar belajar untuk lebih memahami kondisi di masyarakat. Dari lingkar-lingkar belajar itu kita membangun basis-basis perlawanan. Hingga suatu saat kita kembali turun ke jalan untuk robohkan setan yang berdiri mengangkang.

Selamat datang (lagi) Politik Jalanan!

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: