Kementerian PU dan Proyek Jalan Tol Jakarta

Kolom opini Harian KONTAN, 21 November 2012
Oleh: Firdaus Cahyadi
Hari masih pagi, jam pun masih berada di angka 07.30 wib. Namun kemacetan lalu lintas mulai terjadi di jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kemacetan seperti itu hampir terjadi di setiap hari. Jika sudah demikian, jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, karena kemacetan lalu lintas, bisa menjadi 1 jam. Celakanya, kemacetan lalu lintas bukan hanya terjadi di Jalan Gatot Subroto, namun hampir semua jalanan di Jakarta.
Karena begitu parahnya kemacetan lalu lintas di Jakarta inilah, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pada saat kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta menjadikan persoalan kemacetan sebagai salah satu prioritas yang akan diselesaikannya. Jokowi pun mengajukan konsep memindahkan orang bukan mobil.
Konsep Jokowi itu menunjukan keberpihakannya kepada pembenahan transportasi publik. Namun, keberpihakan Jokowi itu kini mendapat perlawanan yang tidak ringan. Perlawanan terhadap keberpihakan Jokowi terhadap transportasi massal itu bukan datang dari masyarakat, melainkan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pasalnya, kementerian tersebut justru berencana membangun enam jalan tol dalam kota.
Enam jalan tol dalam kota itu rencananya akan dibangun dengan menghabiskan dana kurang lebih sebesar Rp.41 trilyun. Sebuah dana yang sangat besar untuk mengatasi kemacetan lalu lintas Jakarta. Bagaimana tidak, jika separuh saja dana itu digunakan untuk membenahi Trans Jakarta maka, kita bisa melihat transportasi massal andalan warga Jakarta itu lebih nyaman dan terjangkau.
Pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta dipastikan tidak akan mampu mengurai kemacetan lalu lintas di Jakarta. Beberapa penelitian dan pengalaman di beberapa negara menunjukan hal itu. Di Mumbai, India misalnya, ketika panjang jalan diperpanjang dua kali lipat antara tahun 1951 and 2007, jumlah kendaraan bertambah 43 kali.
Sebuah studi di University of California di Berkeley antara 1973 dan 1990 didapatkan bahwa untuk setiap 10% penaikkan kapasitas jalan raya (termasuk jalan tol), lalu lintas juga naik sekitar 9% dalam waktu 4 tahun. (1 Carol Jouzatis. “39 Million People Work, Live Outside City Centers.” USA Today, November 4, 1997: 1A-2A).
Karena itulah tidak heran bila Lee Myung Bak, saat menjabat menjadi Wali Kota Seoul, Korea Selatan, berani menghancurkan jalan tol layang pada tahun 2003. Keberanian Lee Myung Bak menghancurkan jalan tol di Kota Seoul didasari pada sebuah keyakinan bahwa pembangunan jalan tol dalam kota tidak akan bisa mengatasi kemacetan lalu lintas. Pembangunan jalan tol dalam kota justru akan menambah kesemerawutan kota. Dengan menghancurkan jalan tol, ia justru ingin memberbaiki wajah kotanya.
Selain di Seoul, Korea Selatan, berbagai kota di dunia juga mulai menghancurkan jalan tol layangnya. Kota-kota yang telah menghancurkan jalan tol layangnya antara lain, Portland (Harbor Drive), San Francisco (Embarcadero Freeway), San Francisco (Central Freeway), Milwaukee (Park East Freeway), New York (West Side Highway) dan Paris (Pompidou Expressway).
Bagaimana dengan Jakarta? Sebuah studi kelayakan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta (PT Pembangunan Jaya, Mei 2005) mengungkapkan bahwa setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan pertambahan kendaraan bermotor sebanyak 1.923 unit
Kemacetan lalu lintas yang dibangkitkan oleh pembangunan jalan tol itu bukan hanya hilangnya waktu produktif. Tapi juga akan menambah beban polusi udara. Studi yang dilakukan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menunjukkan parameter pencemaran udara pada 2011 hingga 2012 melebihi standar nasional dan internasional.
Menurut penelitian KPBB tersebut, parameter pencemaran udara pada 2011 hingga 2012 mencapai 60 mikro gram per meter kubik. Padahal standar nasional adalah 50 mikro gram per meter kubik, dan standar World Health Organization (WHO) 20 mikro gram per meter kubik. Kualitas udara di Jakarta dipastikan akan semakin memburuk dengan bertambahnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang difasilitasi oleh kehadiran enam jalan tol dalam kota.
Lantas kenapa Kementerian PU bersikeras membangun enam jalan tol di Jakarta? Ada dua kemungkinan mengapa kementerian PU seperti memaksakan pembangunan enam jalan tol tersebut. Pertama, Kementerian PU belum mengetahui informasi dampak buruk pembangunan jalan tol dalam kota bagi bertambahnya kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Namun, rasanya kecil kemungkinan bila kementerian PU belum mengetahui dampak buruk pembangunan jalan tol tersebut, terlebih di era informasi seperti sekarang ini.
Kedua, Kementerian PU silau terhadap besarnya nilai proyek pembangunan enam jalan tol tersebut. Besarnya nilai proyek enam jalan tol dalam kota yang menyilaukan tersebut membuat Kementerian PU seperti mengabaikan dampak buruk dari pembangunan enam jalan tol tersebut.
Kerena Kementerian PU begitu memaksakan pembangunan enam jalan tol dalam kota, publik pun mulai bergerak. Publik menggalang petisi secara online kepada Kementerian PU agar membatalkan proyek enam jalan tol tersebut. Saat artikel ini ditulis, jumlah pendukung dari petisi itu sudah mencapai 2000 pengguna internet.
Gerakan masyarakat menolak pembangunan enam jalan tol dalam kota ini bisa saja terus membesar. Bahkan bukan tidak mungkin, bila gerakan perlawanan terhadap pembangunan enam jalan tol akan mengulang keberhasilan gerakan sosial digital dalam kasus Prita Mulyasari melawan Rumah Sakit OMNI dan Save KPK.
Geliat masyarakat untuk melawan rencana pembangunan enam jalan tol dalam kota itu merupakan sebuah lonceng peringatan bagi kementerian PU. Nafsu besar untuk membangun enam jalan tol dalam kota harus dihentikan. Warga yang tinggal dan bekerja di Jakarta sudah bosan dengan kemacetan lalu lintas dan polusi udara yang difasilitasi oleh pertambahan panjang jalan. Alangkah arif dan bijaksananya bila Menteri PU membatalkan rencana pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta.

 

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Kementerian PU dan Proyek Jalan Tol Jakarta

  1. Pingback: Taman Kota, Solusi Bagi Kota Sakit | Arip Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: