Kemana Menteri BUMN Kita?

Koran TEMPO, 20 Oktober 2012

Oleh: Firdaus Cahyadi

Hari itu tanggal 15 Oktober 2012. Tepat 15 hari sebelumnya PT Kereta Api Indonesia (KAI) menaikan tarif Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line jurusan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Hari itu jarum jam masih menunjukan pukul 06.00 wib. KRL Commuter Line mulai berangkat dari stasiun Bogor menuju Jakarta.

Tidak ada yang aneh dalam gerbong KRL Commuter Line. Namun, sesampainya di stasiun Bojong, jumlah penumpang semakin banyak, lebih dari biasanya. Di stasiun-stasiun berikutnya, jumlah penumpang KRL Commuter Line terus bertambah. Bahkan karena terlalu penuhnya penumpang di dalam gerbong, hingga pintu KRL Commuter Line tidak bisa ditutup. Jendela pun terpaksa dibuka, karena panasnya kondisi di dalam gerbong.

Di dalam gerbong KRL Commuter Line, penumpang saling berdesakan. Bahkan, sesampai di stasiun Kalibata, Jakarta, di dalam gerbong ada seorang ibu yang jatuh ke lantai KRL karena berdesakan. Untung saja, beberapa penumpang segera menolongnya sehingga sang ibu tidak terinjak-injak oleh penumpang lainnya.

Sebelumnya, tepatnya tanggal 4 Oktober atau empat hari setelah kenaikan tarif KRL Commuter Line, gerbong KRL anjlok di stasiun Cilebut. Masih beruntung tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Kecelakaan diduga karena ada rel yang patah sehingga menyebabkan KRL Commuter Line anjlok.

Dua kejadian tersebut di atas sebenarnya menunjukan bahwa komitmen untuk memperbaiki layanan KRL Commuter Line masih sebatas wacana. Bahkan besar kemungkinan komitmen itu hanya janji palsu agar para pengguna KRL Commuter Line menerima dengan pasrah kebijakan sepihak PT KAI dalam menaikan tarif. Berbagai keluhan, baik di media sosial maupun di kolom surat pembaca, sudah diungkapkan oleh pengguna KRL. Namun, seperti biasa keluhan para pengguna KRL Commuter Line seperti masuk tong sampah alias tidak diperhatikan.

Buruknya pelayanan kereta sebenarnya tidak hanya dialami oleh penumpang KRL Commuter Line yang ada di Jakarta. Pada Maret 2012 misalnya, di sebuah koran yang terbit di Jakarta, seseorang menulis di kolom surat pembaca. Ia merasa kecewa menggunakan kereta api eksekutif. Penyebabnya, banyak terdapat binatang kutu di dalam selimut yang dibagikan kepada penumpang. Selain itu, juga terdapat banyak binatang kecoa yang berkeliaran di dalam gerbong.

Sebelumnya pada tahun 2011, sebuah media yang terbit di Jawa Tengah memberitakan ratusan penumpang kereta api Prambanan Ekspress (Prameks) mengamuk di Stasiun Srowot, Klaten. Penyebabnya, penumpang kecewa dengan seringnya terjadi kerusakan pada kereta api Prameks itu.

Tahun sebelumnya, 2010, kereta api eksekutif Argo Bromo menabrak kereta api Senja Utama di Pemalang, Jawa Tengah. Korban pun berjatuhan. Kecelakaan kereta itu menjadi sebuah kecelakaan terburuk kereta api pada 2010. Celakanya, di hari yang sama pada tahun 2010 itu juga terjadi tabrakan kereta api di Stasiun Purwosari Solo. Kereta Api Bima jurusan Jakarta-Surabaya menabrak Kereta Api Gaya Baru yang sedang berhenti.Tabrakan ini menyebabkan satu orang tewas.

Data dari Kementerian Perhubungan pada tahun 2011, seperkti ditulis oleh sebuah media online, menyebutkan bahwa korban meninggal akibat kecelakaan kereta api tertinggi disebabkan di perlintasan sebidang antara jalan raya dan jalur rel kereta api. Data tersebut juga menyebutkan bahwa pada 2011, tercatat 39 orang korban meninggal akibat kecelakaan kereta api.

Dari uraian di atas terlihat bahwa buruknya pelayanan kereta api, baik KRL Commuter Line maupun kereta di luar Jakarta, juga menunjukan wajah bopeng dari keseluruhan pengelolaan kereta api di negeri ini. PT KAI sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola kereta api harus dimintai pertanggungjawaban atas buruknya layanan kereta api di negeri ini.

Harapan pihak PT KAI bersedia bertanggungjawab atas buruknya layanan kereta itu harus datang dari pejabat di atasnya, yaitu Menteri BUMN. Sangat sulit rasanya mengharapkan kebaikan hati PT KAI untuk secara sukarela bertanggungjawab ke pengguna kereta api, karena PT KAI masih menjadi satu-satunya perusahaan yang mengoperasikan kereta api.

Kehadiran seorang Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN membawa harapan baru. Di awal-awal ia menjabat sebagai Menteri BUMN, beberapa trobosan pun dilakukannya. Ia misalnya, pernah mengamuk di pintu tol karena melihat pelayanan tol yang buruk. Ia juga secara tiba-tiba naik KRL Jabodetabek.

Namun sayang, meskipun pernah merasakan naik kereta, tidak ada perbaikan yang berarti dalam layanan kereta. Bahkan, tak lama setelah Menteri BUMN naik KRL Commuter Line, PT KAI justru menaikan tarif KRL Commuter Line secara sepihak dan tanpa ada perbaikan pelayanan bagi penumpangnya.

Tidak adanya perbaikan pelayanan kereta api, meskipun Menteri BUMN pernah merasakan menaikinya, sangat mungkin disebabkan karena sang menteri menaikinya sekedar untuk pencitraan saja. Sehari-hari sang menteri menggunakan mobil pribadi dan tidak meraskan buruknya layanan kereta api. Itu pula yang dapat menjelaskan kenapa Menteri BUMN bisa mengamuk di pintu tol sementara cenderung diam saja meskipun melihat pelayanan di kereta api lebih buruk daripada di jalan tol

Padahal sebagai seorang pejabat, Menteri BUMN bisa mendesak PT KAI untuk memperbaiki pelayanannya kepada penumpang. Sang menteri juga dapat berkoordinasi dengan koleganya di kabinet untuk menambah subsidi bagi operasional transportasi publik, dalam hal ini kereta api. Namun sepertinya itu belum dilakukan oleh Menteri BUMN.

Sang menteri mungkin sedang silau dengan laba yang diperoleh PT KAI. Seperti diberitakan oleh sebuah media online (16/10), bahwa pada tahun 2009 PT KAI telah mengeruk laba sebesar Rp 153,8 miliar dan di tahun setelahnya laba yang diperoleh PT KAI di atas Rp 200 miliar. Meskipun perolehan laba itu berbanding terbalik dengan layanan yang diberikannya. Sangat tidak adil bila buruknya layanan kereta api oleh PT KAI ini terus dilanjutkan, sementara di waktu yang hampir bersamaan, perusahaan itu mengeruk banyak keuntungan. Jika itu yang terjadi, pertanyaannya kemudian adalah kemana Menteri BUMN kita?

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: