Pekerjaan Rumah Jokowi

Koran TEMPO, 6 Oktober 2012

Oleh: Firdaus Cahyadi
Hasil perhitungan cepat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta menempatkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ahok menjadi pemenang. Kedua pasangan itu mengalahkan pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nara. Kemenangan pasangan Jokowi-Ahok sangat fenomenal menginggat lawan dari pasangan mereka didukung oleh banyak partai politik.
Namun meskipun tidak didukung oleh banyak partai politik besar, pasangan Jokowi-Ahok lebih banyak diuntungkan oleh pemberitaan media. Hasil penelitian Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mengungkapkan bahwa pasangan Jokowi-Ahok telah menguasai pemberitaan di seluruh hampir media massa selama hampir tiga bulan terakhir sebelum pelaksaan Pilkada DKI Jakarta.
Bukan hanya di media massa konvensional (cetak, televisi dan radio), pasangan Jokowi-Ahok juga merajai pemberitaan di media online. Survei-survei yang diadakan oleh media online selalu menempatkan pasangan Jokowi-Ahok menempati urutan pertama. Hal yang sama juga terjadi di media sosial di internet. Percakapan di media sosial (facebook dan twitter) juga menguntungkan pasangan Jokowi-Ahok. Pedek kata, pasangan Jokowi-Ahok menjadi semacam media darling, baik di ranah media online maupun konvensional.
Kini Jokowi telah menjadi pemenang Pilkada DKI Jakarta. Pertanyaannya kemudian adalah apakah persoalan yang selama ini melilit Jakarta juga akan dapat diselesaikan dibawah kepemimpinan Jokowi?
Jika kita ingin Jokowi benar-benar melakukan pembaruan di Jakarta, euforia kemenangan Jokowi harus segera diakhiri. Hal itu disebabkan Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan Jokowi di Jakarta cukup berat. Saatnya warga kota mulai mengawal komitmen pembaruan yang pernah dilontarkan selama kampanye oleh Jokowi.
Dalam sebuah rekaman kampanye yang diupload di Youtube, Jokowi mengungkapkan bahwa adalah sebuah kekeliruan besar bila mengatasi kemacetan lalu lintas dengan membangun jalan raya baru. Jokowi pun mengajukan konsep ‘Move People not Cars’, memindahkan orang bukan mobil.
Konsep dan komitmen Jokowi terkait Move People not Cars ini sepertinya akan sulit diimplementasikan. Karena pemerintah pusat sudah ‘mengintervensi’ 17 langkah mengatasi kemacetan lalu lintas. Salah satu diantaranya adalah dengan membangun 6 jalan layang yang kemudian akan dijadikan jalan tol dalam kota. Intervensi pemerintah pusat terhadap penyelesaian kemacetan lalu lintas di Jakarta yang bertentangan dengan konsep Move People not Cars ini adalah sebuah PR yang harus diselesaikan oleh Jokowi di Jakarta.
Jika Jokowi masih ‘patuh’ pada pemerintah pusat untuk membangun jalan layang dan tol dalam kota untuk mengatasi kemacetan lalu lintas maka, dapat dipastikan konsep ‘Move People not Cars’ hanya menjadi tumpukan kertas alias tidak akan terimplementasi.
Jika itu terjadi maka, kemacetan lalu lintas akan tetap menjadi problem di Jakarta, sama seperti di era gubernur-gubernur sebelumnya. Padahal dampak dari kemacetan lalu lintas ini sangatlah besar. Selain berdampak pada hilangnya waktu produktif warga, kemacetan lalu lintas juga berdampak pada meningkatnya polusi udara di Jakarta.
Jika kemacetan lalu lintas di Jakarta tidak teratasi maka diperkirakan kerugian ekonomi yang akan ditanggung masyarakat Jakarta pada 2015 akibat polusi udara dari jenis polutan Nitrogen Oksida (NO2) dan Sulfur Oksida (SO2) berturut-turut sebesar Rp132,7 miliar dan Rp4,3 triliun (Studi ADB, 2002).
Sementara jika akibat dari kemacetan lalu lintas kota Jakarta itu disatukan dan dihitung kerugiannya secara nominal maka, akan muncul angka kerugaian yang sangat besar. Hasil studi Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta tahun 2010, besaran kerugian akibat biaya kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta adalah Rp 46 triliun per tahun. Sementara hasil penelitian JICA rata-rata Rp 65 triliun per tahun.
Bukan hanya kemacetan lalu lintas. Pekerjaan rumah baru lainnya yang harus diselesaikan Jokowi adalah terkait dengan obesitas kota Jakarta. Penyakit obesitas itu membuat kota Jakarta tidak nyaman dan ramah lingkungan. Hal itu ditandai dengan terlalu banyaknya pusat perbelanjaan atau mall di Jakarta. Seringkali keberadaan pusat perbelanjaan itu juga menyebabkan alih fungsi lahan terbuka hijau, kemacetan lalu lintas dan daerah resapan air.
Obsitas kota Jakarta juga ditandai dengan semakin banyaknya jumlah komuter dari kawasan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) menuju Jakarta. Komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari.
Data BPS, pada tahun pada tahun 2009 mencatat jumlah komuter yang ‘menyerbu’ Jakarta per harinya mencapai 1,4 juta orang. Padahal pada tahun 2002 hanya terdapat 740 ribu komuter per harinya. Peningkatan jumlah komuter ini akan memperparah kemacetan lalu lintas di Jakarta, karena sebagian dari mereka membawa mobil pribadi ketika datang ke Jakarta.
Selain itu, peningkatan jumlah komuter juga membuat kondisi transportasi publik di Jakarta tidak lagi nyaman karena kelebihan beban. Kondisi tidak manusiawinya KRL Jabodetabek dan juga TrnasJakarta dapat dijadikan contoh dalam hal ini.
Obesitas kota Jakarta ini adalah sebuah hasil dari kebijakan politik pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang menjadikan kota ini menjadi kota jasa disamping pusat pemerintahan. Multi fungsi kota Jakarta ini mengakibatkan permintaan lahan untuk kawasan komersial baru akan tarus meningkat. Dan itu selalu diakomodasi oleh Pemprov DKI Jakarta sebelumnya. Bahkan laut pun direklamasi untuk mengimbangi permintaan yang tinggi akan lahan untuk kawasan komersial ini.
Berbagai PR berat itu bukan tidak mungkin diselesaikan oleh Jokowi, jika Jokowi memiliki keberanian untuk mengatakan tidak pada konsultan-konsultan pembangunan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang membuat kota Jakarta mengalami obesitas. Selain itu Jokowi juga harus berani melawan intervensi pemerintah pusat yang justru membuat kota ini semakin tidak manusiawi. Persoalannya sekarang bukan mampu atau tidak Jokowi menyelesaikan PR itu, tapi sejauh mana kemauan dan keberanian politik Jokowi menyelesaikan PR itu.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: