Film ‘Innocence of Muslims’, Sebuah Test Case Saja

Hari-hari ini kita digemparkan oleh sebuah film yang berjudul, ‘Innocence of Muslims’. Film itu dinilai menghina Nabi Muhammad SAW. Karena itulah film itu menuai kecaman umat Muslim di seluruh dunia. Bahkan dikabarkan unjuk rasa menentang film itu meyebabkan kematian duta besar Amerika Serikat di Libya.

Saya penasaran untuk melihat film itu. Lantas saya cari film tersebut di Yout fube. Di situs itu saya melihat film yang kontroversial itu. Kesan pertama saya, teknik pembuatan film itu sangat-sangat buruk. Bahkan secara teknis lebih bagusan film-film kampanye yang dibuat oleh kawan-kawan aktivis LSM. Padahal katanya, film ‘Innocence of Muslims’, menghabiskan dana puluhan miliar. Jadi secara teknis pembuatan film ‘Innocence of Muslims’ terlihat asal-asalan.

Konten dari film itu juga sangat buruk. Film itu menggambarkan Nabi Muhammad SAW, namun gambaran tetang kehidupan Nabi Muhammad SAW tidak didasarkan oleh sebuah fakta sejarah. Karena tidak didasarkan oleh sebuah fakta sejarah, maka film ‘Innocence of Muslims’ terkesan hanya sekedar olok-olok belaka kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak didasarkan oleh sebuah fakta sejarah. Secara teknis film ini sangat buruk, dan dari sisi kontennya ternyata lebih buruk lagi.

Tentang umat Islam yang marah. Menurut saya hal itu wajar-wajar saja, bahkan umat Islam memang pantas marah. Namun, kemarahan tersebut harus terkendali. Kenapa umat Islam tetap harus mengendalikan amarahnya? Ya, umat Islam harus berpikir kritis, bisa jadi film ‘Innocence of Muslims’ ini hanya sebuah test case saja.

Bisa saja film ‘Innocence of Muslims’ hanya untuk melihat sejauh mana kemarahan umat Islam bila  melihat Nabinya diolok-olok? Isu apa yang yang bisa menyatukan dan membuat umat Islam marah?

Seperti diketahui secara umum, bahwa sebagaian umat Islam tinggal di kawasan yang kaya sumberdaya alam (Asia dan Afrika). Bila kemarahan umat Islam di kawasan Asia dan Afrika terhadap penyebaran film ‘Innocence of Muslims’ tak terkendali maka, akan terpotret oleh para ‘Dewa-Dewa Pencipta Kemiskinan’  itu bahwa isu yang menyangkut agamalah yang dapat menyatukan dan membuat marah umat Islam dunia khususnya yang berada di kawasan kaya sumberdaya alam, Asia dan Afrika. Umat Islam di kawasan itu besar kemungkinan tidak atau sulit dipersatukan dan bangkit melawan meskipun sumberdaya alamnya dihisap oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Orang-Orang Islam di kawasan itu tidak marah karena menganggap penghisapan sumberdaya alam itu tidak terkait persoalan agama. Meskipun penghisapan sumberdaya alam di kawasan itu menyebabkan kemiskinan di kalangan masyarakat dan kerusakan alam.

Jika demikian maka, penghisapan sumberdaya alam di kawasan Asia-Afrika tetap dapat dilanjutkan, karena tidak akan beresiko menyatukan pendudukanya yang mayoritas muslim untuk melawan. Mereka hanya akan bersatu dan melawan bila simbol-simbol keagamaan mereka diserang. Proyek eksploitasi sumberdaya alam dikawasan itu bisa dilanjutkan asal tidak menyerang simbol-simbol keagamaan umat Islam. Bahkan bila perlu menggunakan isu agama untuk menutupi proyek ekspoloitasi sumberdaya alam itu. Bila perlu lagi sebagian kecil dari keuntungan dalam eksploitasi sumberdaya alam itu disumbangkan untuk membangun tempat ibadah dan mencetak kitab suci Al-Qur’an. Soal kemiskinan masyarakat dan kehancuran lingkungan hidup yang ditinggalkan akibat eksploitasi sumberdaya alam tidak perlu dikuatirkan, karena kedua hal itu tidak akan membuat umat Islam di kawasan Asia dan Afrika bersatu dan bangkit melawan..

Nah, silahkan kita marah, bahkan kita wajib marah atas muncul dan beredarnya film ‘Innocence of Muslims’ itu.Tapi kemarahan itu harus tetap terkendali. Akal sehat kita tidak boleh diistirahatkan ketika kita marah terhadap kemunculan film ‘Innocence of Muslims’. Karena ada sebuah persoalan yang penting selain muncul dan beredarnya ‘Innocence of Muslims’. Persoalan itu adalah dilestarikannya kawasan Asia dan Afrika sebagai kawasan penghasil bahan mentah (eksploitasi sumberdaya alam), buruh murah dan pasar bagi produk-produk industri negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat.

Seharusnya, jika persoalan yang menyangkut penodaan simbol-simbol keagamaan bisa membuat umat Islam di Asia dan Afrika bersatu dan bangkit melawan, seharusnya persoalan yang menyangkut penghisapan sumberdaya alam dan pemiskinan juga bisa membuat umat Islam di kawasan itu bersatu dan bangkit melawan. Karena dalam Islam jelas disebutkan bahwa ketika kita membiarkan pemiskinan terus terjadi di depan mata kita, maka kita dimasukan dalam golongan orang-orang yang mendustakan agama.

Categories: Uncategorized | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Film ‘Innocence of Muslims’, Sebuah Test Case Saja

  1. yasien alfadidzie

    “MARAH” bukan tdk boleh marah tapi kita hrs menempatkan kemarahan kita diarea yg tepat.kita tak perlu terprovokasi dgn propaganda kaum2 dzolimin,berfikir yg jernih mencerna keadaan.film “lnnocence of islams” adalah suatu film yg bagi saya film “kacangan” tdk profesional dalam penggarapan.nyatanya dari scene kescene tdk memempatkan sesuatunya dgn tepat.pada intinya sangat2 buruk,dari segi ceritapun sngatlah jauh panggang dari pada api.tdk tahu sejarah apa sok tahu sejarah?untuk saudaraku semua janganlah kita terprovokasi keadaan.masih byk hal-hal lain yg lebih membutuhkan perhatian kita.agama kita sbg agama yg rohmatan lil ‘alamin hrs bisa memberikan rasa aman,cinta kasih antar sesama yg pada akhirnya kita pupuk roleransi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

  2. Nanda Suhandi

    Film ini sudah benar-benar menghina Nabi MUHAMMAD SAW, meskipun film ini dinilai ‘kacangan’ , sebagai umat islam sudah seharusnya MARAH DAN SIAP BERJIHAD demi nama baik NABI MUHAMMAD SAW yang dimuliakan ALLAH SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: