Surat Terbuka untuk Pak Prof. Dawam Rahardjo

Pak Prof. Dawam Rahardjo,

Saya mendengar kabar Bapak adalah salah satu tokoh yang akan menerima Bakrie Award. Pak, menerima atau menolak Bakrie Award adalah sepenuhnya hak Bapak. Namun, perlu Bapak ketahui semenjak muncul semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo pada tahun 2006 silam beberapa intelektual dan budayawan telah melakukan ‘perlawanan’ dengan menolak bahkan mengembalikan Bakrie Award tersebut.

 

Pak Prof. Dawam Rahardjo,

Mungkin tersirat dalam hati dan pikiran Bapak, mengapa mengaitkan Bakrie Award dengan kasus Lapindo? Pak Dawam, mungkin itu salah satu upaya para intelektual dan budayawan untuk menyatakan solidaritas mereka terhadap penderitaan korban lumpur. Pak Dawam, selama ini penyelesaian kasus lumpur didasarkan pada mekanisme pasar (jual beli aset tanah dan rumah korban lumpur). Apa itu artinya? Artinya meningkatnya biaya kesehatan dan sosial akibat semburan lumpur Lapindo yang dialami oleh warga Porong, Sidoarjo tidak diperhitungkan.

 

Pak Dawam Rahardjo,

Mungkin Bapak kenal baik dengan orang-orang yang aktif di Freedom Institute. Tapi, kenalkah Pak Dawam Rahardjo dengan Mbok Jumik? Siapa Mbok Jumik? Mbok Jumik adalah pengungsi korban lumpur di Sidoarjo. Perempuan itu berusia 52 tahun. Pada Minggu, 30 November 2008 silam, Mbok Jumik menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dunia dengan tetap menyandang status sebagai korban lumpur.

Bulan Juni 2008, Mbok Jumik mulai merasakan sakit luar biasa di perutnya. Sakit di perutnya itu yang kemudian menghantarnya menghadap Sang Pencipta. Pada saat itu keluarga Mbok Jumik membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo. Sekitar dua minggu Mbok Jumik dirawat di rumah sakit. Namun, karena tak mampu membiayai ongkos rumah sakit, keluarga Mbok Jumik membawanya pulang ke pengungsian korban lumpur di Pasar Baru Porong.

Keluarganya pun pasrah. Selanjutnya, Mbok Jumik dirawat dengan menggunakan pengobatan alternatif seadanya. Celakanya, dalam keadaan sakit kronis seperti itu Mbok Jumik masih terpaksa melewati hari-harinya di pengungsian korban lumpur.

Luapan lumpur di Sidoarjo telah menghancurkan rumah Mbok Jumik di Desa Renokenongo. Menurut penuturan Sugiyat, anak tunggal Mbok Jumi, seperti yang ditulis di web korban Lapindo, rumah keluarganya terendam lumpur setelah muncul ledakan pipa gas Pertamina.

 

Pak Prof. Dawam Rahardjo,

Semoga bapak sempat membaca surat terbuka ini dan dapat mengambil keputusan yang terbaik, bukan hanya bagi pribadi bapak, tapi juga bagi upaya penyelesaian kasus Lapindo ini secara lebih adil bagi warga korban

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: