Kritik Atas Sikap Religius Kita

Hari masih gelap. Adzan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Namun deretan mobil dan sepeda motor sudah berjejer di depan sebuah masjid di kawasan Kota Bogor. Mereka adalah para jama’ah sholat shubuh. Sebuah cermin bergeloranya semangat keagamaan (religius).

Bergeloranya sikap religius di masyarakat kita juga tercermin beberapa kasus terkait dengan berbagai pelarangan dan pembubaran terhadap kegiatan tertentu yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai religius. Beberapa diskusi pun dibubarkan karena dinilai menghina nilai-nilai religius. Bahkan deklarasi sebuah partai politik juga sempat diserang karena dinilai membangkitkan paham komunisme. Dan paham komunis dinilai bertentangan dengan nilai-nilai religius.

Tidak ada yang salah dengan bergeloranya semangat religius di masyarakat kita. Namun, apakah sikap religius kita hanya tercermin pada rajinnya kita melaksanakan ibadah-ibadah ritual? Apakah aksi penyerangan dan pembubaran terhadap beberapa kegiatan yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai moral agama cukup untuk menggambarkan bahwa kita benar-benar seorang religius?

Bergeloranya semangat religus seharusnya berdampak pada orang-orang lemah yang ada di masyarakat. Karena tidak ada satu pun agama yang tidak berpihak pada orang-orang lemah yaitu, kelas menengah-bawah. Nah, apakah bergeloranya semangat religus yang terjadi akhir-akhir ini juga berdampak bagi kehidupan orang-orang kelas menengah-bawah?

Tanpa kepedulian terhadap mereka maka, se-radikal apapun sikap religus kita, itu adalah dusta belaka. Dan salah satu cara agar warga kelas menengah-bawah mampu melakukan mobilitas vertikal (naik kelas) adalah melalui pendidikan. Pertanyaan berikutnya, tentu saja adalah bagaimana lembaga-lembaga keagamaan merespon persoalan pendidikan ini? Apakah lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga keagamaan sudah berpihak pada kepentingan masyarakat kelas menengah-bawah?

Di website keluargacerdas.com dituliskan beberapa sekolah di kawasan Jakarta yang mematok biaya pendidikan selangit, termasuk di dalamnya sekolah yang memakai label agama. Untuk jenjang kelompok bermain, sekolah mematok harga antara Rp. 3 juta – Rp.7 juta untuk uang pangkalnya. Sementara untuk uang sekolah bulannya bisa mencapai Rp. 400-800 ribu. Seperti pola pada umumnya, biaya sekolah pun akan semakin mahal seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Untuk tingkat SMA misalnya, biaya pendidikannya bisa berkisar Rp. 22 juta.

Melihat tingginya biaya pendidikan di sekolah-sekolah yang berlabel agama tersebut maka dapat dipastikan bahwa hanya kalangan anak-anak orang kaya yang bisa mengenyam pendidikan dari sekolah-sekolah yang berlabel agama tersebut. Bayangkan, angka garis kemiskinan bulan September 2011 saja adalah Rp.263.594/bulan. Mana mungkin mereka mampu membayar jutaan rupiah untuk biaya sekolah anaknya.

Memang seiring dengan bergeloranya semangat keagamaan itu juga bertumbuhnya lembaga Amil Zakat. Namun, seringkali fakta di lapangan, menunjukan sebagian orang miskin juga tidak tersentuh oleh program Lembaga Amil Zakat. Contoh paling kongkrit adalah kasus Mbok Jumik, seorang korban lumpur Lapindo, yang harus dirawat di pengungsian karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit di Sidoarjo.

Hingga, meninggal dunia, tidak ada Lembaga Amil Zakat, yang memberikan bantuan kepada Mbok Jumik. Padahal, permohonan bantuan itu sudah disebarluaskan oleh para aktivis pendamping korban lumpur melalui berbagai kanal informasi.

Kepedulian kepada warga kelas menengah-bawah tentunya bukan hanya persoalan bantuan kesehatan dan pendidikan yang bersifat karitatif (pemberian yang didasarkan pada rasa belas kasihan) saja. Namun harusnya juga harus menyentuh akar penyebab dari kemiskinan itu sendiri yaitu, kebijakan publik.

Namun, beberapa persoalan kebijakan publik yang menyangkut kepentingan kelas menengah-bawah jarang direspon oleh organisasi-organisasi yang mengatasnamakan agama. Contoh yang paling nyata adalah tidak munculnya solidaritas yang masif dari organisasi-organisasi yang mengatasnamakan agama ketika pada tahun 2001 silam becak digusur dari Jakarta. Padahal saat itu diperkirakan sedikitnya 6000 Kepala Keluarga (KK) yang menghidupi 24.000 jiwa kehilangan nafkah hidupnya akibat penggusuran becak dari Jakarta.

Organisasi-organisasi yang mengatasnamakan agama itu juga cenderung diam saja saat orang-orang miskin di bantaran sungai Jakarta digusur. Mereka juga tidak bersuara dengan lantang ketika ribuan korban lumpur Lapindo memperjuangkan hak-haknya yang hilang. Bahkan organisasi-organisasi yang mengatasnamakan agama juga tidak bereaksi ketika Tuhan dikambinghitamkan dalam kasus semburan lumpur Lapindo, dengan mengatakannya sebagai akibat bencana alam dan bukan pengeboran.

Bergeloranya sikap religius tanpa diikuti oleh kepedulian terhadap penderitaan yang orang-orang yang lemah, sebenarnya cermin dari kebohongan kita dalam beragama. Seolah-olah kita sudah merasa menjadi orang yang taat beragama ketika kita rajin beribadah secara ritual, kemudian membakar buku dan membubarkan kegiatan yang kita anggap bertentangan dengan nilai-nilai agama. Lantas, apakah kita akan menjadi pribadi yang benar-benar religius atau justru seorang pendusta agama?

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: