Cukup Sudah Lapindo!

Jurnal Nasional | Sabtu, 26 Mar 2011

Firdaus Cahyadi

Knowledge Manager for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

http://www.jurnas.com/halaman/6/2011-03-26/163941
KETERLALUAN! Itulah mungkin kata yang tepat terucapkan ketika kita membaca sebuah berita yang menyebutkan Lapindo akan kembali melakukan eksplorasi gas bumi di Sidoarjo. Akhir Februari lalu, beberapa media massa yang terbit di Jakarta memberitakan bahwa Lapindo akan kembali melakukan pengeboran gas bumi di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, yang berjarak beberapa kilometer sebelah timur laut, pusat semburan lumpur Lapindo.

Fakta, semburan lumpur Lapindo kini masih menyisakan duka yang amat mendalam bagi warga Sidoarjo. Bukan hanya hak warga atas tanah dan perumahan yang hilang, tapi juga hak warga atas pendidikan, udara bersih, dan air yang tidak tercemar. Tapi semua itu telah musnah. Semua hak warga itu tenggelam oleh lumpur Lapindo.

Jawa Timur memang salah satu kawasan di Indonesia yang kaya minyak dan gas bumi. Menurut catatan Walhi Jawa Timur, Provinsi Jawa Timur menopang 40 persen kekayaan minyak dan gas (migas) nasional dengan 28 Blok Migas dalam tahap eksplorasi. Salah satunya Blok Brantas, yang memiliki 49 sumur yang tersebar di tiga kabupaten di Jawa Timur (Sidoarjo 43 sumur, empat sumur di Mojokerto, dan dua sumur di Pasuruan).

Maka itu, upaya mengaburkan kasus Lapindo terasa sangat kuat sejak kasus itu mencuat tahun 2006 silam. Tujuannya jelas, agar tidak ada penolakan dari masyarakat terkait rencana eksplorasi migas di kawasan itu. Singkat kata, kasus Lapindo di Sidoarjo tidak boleh menghalangi keberlanjutan investasi migas di Jawa Timur.

Setidaknya, ada tiga upaya yang dilakukan untuk mengaburkan kasus Lapindo ini. Upaya pengaburan pertama adalah direduksinya persoalan ganti rugi korban lumpur menjadi sekadar jual-beli aset fisik. Hak-hak korban lumpur yang hilang selain hak atas tanah dan rumah dengan sendirinya dianggap tidak pernah ada. Meski, fakta, telah terjadi pencemaran air, tanah, dan udara di kawasan tersebut.

Upaya pengaburan tahap pertama ini memiliki tujuan agar publik memahami bahwa kasus Lapindo hanya persoalan jual-beli aset korban lumpur. Begitu proses jual-beli aset korban lumpur itu selesai, selesai pulalah kasus Lapindo. Sementara masalah lainnya, di luar persoalan jual-beli aset, akan dikesampingkan. Karena kasus Lapindo dianggap selesai, maka eksplorasi migas di kawasan itu dapat tetap dapat dilanjutkan.

Upaya pengaburan tahap kedua adalah dimunculkannya wacana bahwa semburan lumpur itu adalah bencana alam, tidak terkait aktivitas pengeboran. Wacana itu diembuskan secara terus menerus. Salah satunya, tentu saja, melalui berbagai iklan di media massa.

Keyakinan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam pun seperti tak tergoyahkan meski hasil laporan BPK, dokuman rahasia Medco dan juga mayoritas pendapat pakar boring internasional mengatakan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo akibat pengeboran. Upaya pengaburan dalam tahap kedua ini pun seperti mendapat angin segar setelah gugatan YLBHI dan Walhi dikalahkan serta diterbitkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus pidana Lapindo oleh Polda Jawa Timur.

Pesan yang muncul dari upaya pengaburan tahap kedua ini adalah bahwa semburan lumpur Lapindo tidak ada kaitannya dengan aktivitas pengeboran. Semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam. Karena bencana alam, maka tidak ada alasan untuk menolak eksplorasi lanjutan di kawasan itu.

Upaya pengaburan tahap ketiga adalah munculnya wacana untuk menjadikan kawasan semburan lumpur Lapindo sebagai kawasan wisata geologi. Jika wacana ini kemudian menjadi kenyataan, maka pesan yang hendak disampaikan adalah lumpur Lapindo membawa berkah bagi masyarakat sekitar. Karena membawa berkah, maka tidak perlu takut bahkan melakukan penolakan jika akan ada korporasi yang hendak melanjutkan eksplorasi migas di kawasan itu.

Serangkaian upaya pengaburan terhadap kasus Lapindo ternyata mulai memperlihatkan hasilnya. Setidaknya, ada dua indikator untuk melihat keberhasilan itu. Pertama, kini sebagian masyarakat dan juga media massa mulai memahami kasus Lapindo hanya sekadar persoalan jual-beli aset korban lumpur. Kedua, publik mulai melihat bahwa kasus Lapindo hanya sebatas persoalan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo. Persoalan perizinan eksplorasi tambang di kawasan padat huni seperti luput dari perhatian publik.

Ketentuan Badan Standar Nasional Indonesia tentang operasi pengeboran darat dan lepas pantai di Indonesia misalnya, menyebutkan bahwa sumur pengeboran migas harus dialokasikan sekurang-kurangnya 100 meter dari jalan umum, rel kereta api, pekerjaan umum, perumahan, atau tempat-tempat lain yang berpotensi menimbulkan sumber nyala api.

Bagaimana dengan ekplorasi pengeboran dalam kasus Lapindo? Sumur Banjar Panji-1 hanya berada 5 meter dari wilayah permukiman, 37 meter dari sarana publik, dan kurang dari 100 meter dari pipa gas Pertamina. Jika publik sudah memahami bahwa kasus Lapindo hanya sekadar jual-beli aset korban lumpur dan juga bahwa kasus tersebut hanya sebatas semburan Lumpur, maka upaya untuk kembali mengeksploitasi kekayaan migas di Jawa Timur, khususnya di Sidoarjo, mulai kembali terbuka.

Cukup sudah Lapindo! Itu mungkin kalimat yang harus diucapkan oleh seluruh warga Indonesia terkait rencana Lapindo untuk kembali melakukan pengeboran gas bumi di Sidoarjo. Pemerintah daerah maupun pusat harus mendengarkan penolakan warga ini. Pemerintah harus selalu diingatkan bahwa mereka diberi mandat untuk melindungi keselamatan warganya. Dan keselamatan warganya itu harus ditempatkan jauh di atas kepentingan korporasi pertambangan.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: