(Cerpen) Anak Sejuta Lumpur

Sebuah cerpen fiksi yang terinspirasi oleh kisah nyata, tragedi lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Oleh : Firdaus Cahyadi

“Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar,” teriak anak-anak di Taman Kanak-kanak Al-Maun, Bogor, Jawa Barat. Mereka tampak riang gembira bermain bersama teman-teman dan gurunya. Tidak ada raut muka berduka di wajah-wajah mereka. TK ini adalah salah satu TK yang ada di kompleks perumahan tempatku tinggal. Anakku pun bersekolah di TK ini. Untuk ukuran masyarakat kebanyakan, TK ini cukup mahal. TK ini diperuntukan bagi mereka anak-anak yang keluarganya dari kelas menengah-atas. Sudah barang tentu tidak ada anak dari keluarga miskin di TK ini.

Hari ini, adalah hari pertama anakku masuk TK. Jadi aku menyempatkan diri untuk menunggui anakku hingga pulang sekolah. Beberapa orang tua anak juga tampak melakukan hal yang sama. Hanya saja, aku menungguinya agak jauh dari sekolah. Aku menunggu di sebuah masjid yang ada di kompleks sekolah TK itu. Dari kejauhan, aku melihat anak-anak, termasuk anakku, begitu riang gembira. Mereka nampak sangat bahagia.

Trit..trit…Dan handphoneku pun berbunyi. Direkturku menelpon dari kantor. “Adi, kamu ada dimana sekarang?” Tanya Mbak Devianti, “Besok kamu harus berangkat ke Porong, Sidoarjo, Jawa Timur untuk memberikan pelatihan penggunaan media social selama seminggu untuk kawan-kawan di Posko korban lumpur Lapindo, gimana, siap ‘kan?”

Saya berpikir sejenak. Hmm..Sidoarjo. Di tempat itu saya pernah tinggal beberapa saat sebelum mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Kini tempat itu telah hancur lebur karena semburan lumpur. “Iya..iya Mbak..saya siap,” jawabku, “Jam berapa pesawat dari Jakartanya, Mbak?”

“Besok kamu berangkat jam 10.00 pagi,” jawab Mbak Devianti singkat, “Ok, thanks ya.” Percakapan di telpon pun terputus. Memberikan pelatihan kampanye, termasuk menggunakan media social di internet, adalah salah satu pekerjaanku. Aku bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah atau sering disebut sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). LSM tempatku bekerja lumayan besar karena salah satu jaringan LSM internasional, sehingga gaji yang aku terima pun lebih tinggi daripada staf LSM-LSM lainnya. Dari segi pendapatan pun, aku masuk kedalam kelas menengah-atas.

Waktu pun berlalu, sekolah TK sudah usai. Anak-anak pun berhamburan keluar, termasuk anakku. Aku pun segera menghampiri anakku. “Gimana Firli, suka sekolah di sini?” tanyaku kepadanya, “Iya, ayah, Firli suka” jawabnya. Dan kami pun menuju mobil Baleno untuk menuju rumah.

***

Waktu menunjukan jam 08.00 pagi, setalah berpamitan kepada anak dan istriku, aku berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jika jalanan tidak macet, Bogor menuju Bandara ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam. Dan Alhamdulillah, jalanan Jakarta tidak begitu macet, hingga taxi yang aku tumpangi dapat sampai ke Bandara tepat waktu. Setelah check in dan boarding, aku dan seorang temanku, Alamsyah, segera bergegas menuju pesawat.

Tidak ada sesuatu yang baru selama perjalanan dari Jakarta ke Bandara Juanda, Surabaya. Hal yang baru justru ketika perjalanan dari Bandara Juanda ke sekretariat Posko korban lumpur yang lokasinya tak jauh dari pusat semburan lumpur.

“Gila bau apaan nih?” Tanya Alamsyah setengah berteriak. Begitu memasuki Jalan Raya Porong, Sidoarjo, memang tercium aroma yang begitu menyengat. Aroma seperti telur busuk. “Ini aroma dari lumpur Lapindo,” jawab Pak Manto, sopir taxi yang menghantarkanku dari Bandara Juanda, “sejak muncul semburan lumpur Lapindo, di sepanjang jalan ini memang muncul aroma busuk seperti ini”

Aku pun menyempatkan diri melihat sekeliling jalan raya Porong, Sidoarjo. Sebuah hamparan lumpur yang luas. “Dulu di daerah itu ada rumah penduduk, pabrik, tempat ibadah dan sekolah,” ujar Pak Manto, “Namun, sekarang sudah tenggelam oleh lumpur Lapindo”

Ya lumpur Lapindo. Tanggal 29 Mei 2006 semburan lumpur Lapindo mulai muncul di kawasan ini. Semburan lumpur ini tidak hanya meluluhlantakan rumah dan tanah tapi juga harapan warga yang menjadi korban. Banyak berita di Koran yang menuliskan bahwa banyak anak-anak korban lumpur yang terpaksa putus sekolah. Anak-anak korban lumpur itu bukan hanya kehilangan teman tapi juga indahnya masa anak-anak. Mereka tentu tidak bisa lagi mandi di sungai, karena air sungai telah tercemar oleh lumpur Lapindo. Sekolah tempat mereka berkumpul dengan teman-teman sebayanya pun telah tenggelam. Mendadak aku jadi ingat anakku. “Oh, betapa sedihnya anakku jika itu terjadi menimpanya,” gumamku dalam hati.

“Sudah sampai mas,” ujar Pak Manto menyadarkan aku dari lamunan. “Wow,.cepat banget” kataku. “Eh..cepat, lama ini, melamun aja sih loe” ujar Alamsyah dengan logat Jakartanya yang begitu kental. Setelah membayar ongkos taxi, kamipun bergegas masuk sekretariat Posko Korban lumpur.

“Selamat datang mas,” ujar Hamdi, coordinator dari Posko Korban lumpur, “Seadanya ya, maklum kita adalah korban lumpur” . Meskipun ada duka yang mendalam di raut wajah mereka, mereka tetap ramah menyambut tamu. “Oh, ga apa-apa” jawabku.

Pelatihan penggunaan media social untuk kampanye dilakukan di malam hari selama seminggu. Tidak ada hal yang berbeda dalam sesi pelatihannya. Hal baru dan berbeda justru muncul dari perbincangan-perbincangan dengan pengelola posko korban lumpur. Banyak cerita-cerita yang lebih mengenaskan dan itu tidak pernah muncul di Koran, majalah, televisi atau portal berita online.

Salah satu cerita mengenaskan itu tentang kisah Mbok Jumik. Ia adalah salah satu korban lumpur yang pernah tinggal di Pasar Porong. Pada suatu hari, Mbok Jumik merasakan sakit yang luar biasanya di perutnya. Keluarganya pun segera membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa Mbok Jumik harus dirawat. Namun, karena ketiadaan biaya akhirnya Mbok Jumik kembali dibawa ke pengunsian Pasar Baru Porong. Ia dirawat dengan pengobatan tradisional. Dan akhirnya, Mbok Jumik meninggal di pengungsian korban lumpur.

Kawan-kawan Posko korban lumpur pun telah menyebarkan berita ini dan meminta dukungan pendanaan untuk perawatan Mbok Jumik. Permohonan dukungan dan bantuan itu disebarkan melalui berbagai cara, salah satunya melalui internet. “Namun, sampai akhir hayatnya tidak ada bantuan untuk Mbok Jumik” ujar Hamdi.

Aku terdiam. Mulutku seakan terkunci. Bagaimana tidak, di Jakarta terjadi banjir dukungan terhadap Prita Mulyasari melawan pelayanan Rumah Sakit OMNI Internasional. Di Porong, ada seorang  ibu yang kesulitan membayar RSUD, hingga akhir hayatnya justru tidak ada satupun yang memberikan dukungan. “Kemana kelas menengah yang digembar-gemborkan Bank Dunia? Kemana pula lembaga amil zakat yang mengklaim terpercaya dalam menyalurkan bantuan” gumamku dalam hati.

Hatiku seperti disayat –sayat mendengar cerita tentang Mbok Jumik itu. Aku adalah bagian dari kelas menengah di Indonesia. Kehidupanku jauh lebih mapan daripada para korban lumpur. Tapi aku tidak berbuat apa-apa ketika ada seorang korban lumpur yang mengerang kesakitan dan tidak bisa membayar biaya rumah sakit umum. Ini adalah dosaku sebagai bagaian kelas menengah yang angkuh di negeri ini. “Maafkan aku Mbok Jumik,” ucapku dalam hati, “Aku dan kelas menengah lainnya tidak pernah peduli terhadap penderitaan panjangmu.”

Dan cerita-cerita mengenaskan itu tidak berhenti hingga disitu. Ada cerita mengenaskan tentang seorang bayi usia 3,5 bulan yang harus meninggal dunia. Bayi itu bernama Aulia Nadira Putri. Rumahnya tak jauh dari pusat semburan lumpur Lapindo. Ia meninggal dunia karena diduga terlalu banyak menghirup gas beracun lumpur Lapindo.

Sedih, marah dan kecewa bercampur baur ketika Hamdi menceritakan kisah pilu Aulia Nadira Putri ini. Seorang bayi yang tak berdosa pun harus meninggal dunia karena gas beracun lumpur Lapindo. Padahal, jika ia bisa memilih, ia tentu tidak akan memilih untuk dilahirkan di kawasan dekat semburan lumpur Lapindo. Jika bisa memilih, bayi Aulia Nadira Putri tentu memilih di lahirkan di tempat lain, yang udara dan lingkungan hidupnya masih sehat.

Cerita tentang Aulia Nadira Putri ini kembali menyetak hatiku. Tak terasa air mataku pun jatuh. Aku membayangkan jika ini terjadi pada anakku. Dan sekali lagi aku merasa berdosa atas kematian Aulia Nadira Putri. Harusnya aku sebagai kelas menengah ikut mendesak pemerintah untuk segera memindahkan semua penduduk dari kawasan semburan lumpur. Kawasan semburan lumpur itu sudah tidak layak huni bagi manusia. Alih-alih memindahkan penduduk dari kawasan berbahaya semburn lumpur Lapindo. Pemerintah justru memiliki ide untuk menjadikan kawasan itu sebagai kawasan wisata geologi. Bahkan sebuah perusahaan yang dikaitkan dengan munculnya semburan lumpur justru berencana melakukan pengeboran lagi di Sidoarjo.

***

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah seminggu aku tinggal di Porong, Sidoarjo. Berbaur dengan masyarakat korban lumpur. Mengalami sendiri perihnya penderitaan warga dan juga mendengar berbagai cerita pilu yang tak pernah muncul di media massa. Namun, hari ini aku akan meninggalkan itu semua. Meninggalkan udara dengan aroma busuk yang menyengat di Porong, Sidoarjo.

Selama di perjalanan pikiranku masih melayang di kawasan Porong, Sidoarjo. Kisah pilu yang dialami Mbok Jumik dan Aulia Nadira Putri masih membebani pikiran dan hatiku. Orang-orang yang tak berdosa itu telah menjadi korban. Ya, korban ketidakpedulian Negara dan kita semua.

Tak terasa taxi menghantarkanku di depan pintu rumah. Istri dan anakku menyambut dengan suka cita. “Ayah pulang” teriak anakku sambil memelukku. Akupun memeluk anakku, dengan pikiran yang masih melayang ke kisah pilu Aulia Nadira Putri. Di perumahan ini anakku dan anak-anak lainnya nampak sehat dan ceria. Namun, tidak bagi anak-anak di Porong, Sidoarjo sana. Keceriaan anak-anak Porong telah terampas. Bahkan, kini setiap hari keselamatan mereka terus terancam akibat sejak semburan lumpur Lapindo muncul di kawasannya. Mereka anak-anak yang tidak berdosa, namun harus menderita. Dan kita kelas menengah yang ada di kota sepertiku menutup mata dan telinga atas realita kehidupan mereka.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: