PR Lama Calon Gubernur Jakarta

Pernah dimuat di Harian Ekonomi dan Bisnis KONTAN, 24 Maret 2012

Oleh: Firdaus Cahyadi

 
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta sudah mulai dekat. Beberapa partai politik (parpol) pun sudah mendaftarkan calon gubernur (Cagub) untuk merebut kursi DKI Jakarta. Tidak hanya Cagub dari parpol, beberapa individu pun mendaftarkan diri untuk berlaga dalam perebutan kursi Gubernur DKI Jakarta.

 
Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah apakah para Cagub DKI Jakarta yang sedang berlaga itu membawa agenda warga kota atau sekedar agenda parpol dan para sponsornya? Yang dimaksud warga kota disini tentu saja adalah warga yang tinggal atau bekerja di Jakarta.

 
Selama ini warga kota seperti merasa frustasi melihat perkembangan kota Jakarta yang semakin tidak manusiawi. Lihat saja, kemacetan lalu lintas yang terjadi hampir di semua jalan raya kota Jakarta. Tidak ada jalan raya Jakarta yang bebas dari kemacetan lalu lintas. Padahal Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah membangun jalur TransJakarta.

 
Turunan dari persoalan kemacetan lalu lintas ini adalah polusi udara, meningkatnya biaya kesehatan warga dan hilangnya waktu produktif. Studi ADB (2002) memprediksikan kerugian ekonomi yang akan ditanggung masyarakat Jakarta pada 2015 akibat polusi udara dari jenis polutan Nitrogen Oksida (NO2) dan Sulfur Oksida (SO2) berturut-turut sebesar Rp132,7 miliar dan Rp4,3 triliun.

 
Jika akibat dari kemacetan lalu lintas kota Jakarta itu disatukan dan dihitung kerugiannya secara nominal maka, akan muncul angka kerugaian yang sangat besar. Hasil studi Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta tahun 2010, besaran kerugian akibat biaya kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta adalah Rp 46 triliun per tahun. Sementara hasil penelitian JICA rata-rata Rp 65 triliun per tahun.

 
Bukan hanya kemacetan lalu lintas. Hal lain yang membuat warga kota Jakarta frustasi adalah persoalan banjir. Hampir setiap turun hujan di Jakarta, terjadi banjir di beberapa wilayah. Bahkan, kini ketika tidak terjadi hujan pun, beberapa kawasan pun sudah tergenang air akibat banjir rob (banjir akibat air laut pasang).

 
Seakan tidak mau kalah dengan kemacetan lalu lintas. Kerugian akibat banjir di Jakarta pun bila dihitung secara nominal mencapai trilyunan rupiah. Kerugian dari banjir Jakarta yang terjadi pada tahun 2007 misalnya, menurut perkiraan Bappenas mencapai Rp4,1 triliun.

 
Apakah persoalan Jakarta begitu rumit sehingga selama ini persoalan kemacetan lalu lintas dan banjir sulit diatasi? Sebenarnya persoalan kota Jakarta adalah sederhana, tidak serumit yang dikatakan oleh para pakar dan juga Cagub DKI Jakarta. Persoalan kota Jakarta adalah kegemukan atau obesitas. Seperti layaknya manusia yang memiliki persoalan obesitas, berbagai penyakit pun mudah datang menghampirnya.

 
Persoalan kemacetan lalu lintas dan banjir di Jakarta adalah sebuah konsekuensi logis dari problem obesitas kota Jakarta. Satu-satunya obat mujarab untuk mengatasi penyakit obesitas adalah dengan melakukan diet, bukan dengan cara kamuflase untuk menutupi problem obesitas tersebut.

 
Sayangnya, hampir semua Gubernur DKI Jakarta lebih memilih cara kamuflase untuk menutupi problem obesitas kota. Pembangunan jalan layang, underpass, jalan raya non tol dan jalan tol dalam kota adalah cara kamuflase untuk menutupi problem obseitas. Padahal, pembangunan jalan raya baru justru akan merangsang pemakaian kendaraan bermotor pribadi.

 
Studi kelayakan pembangunan jalan tol dalam kota Jakarta yang dilakukan oleh PT. Pembangunan Jaya, pada Mei 2005, mengungkapkan bahwa setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan peningkatan jumlah kendaraan sebanyak 1923 mobil pribadi. Dan itu artinya kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Jakarta akan semakin meningkat seiring dengan pembangunan jalan raya baru.

 
Obsitas kota Jakarta juga ditandai dengan semakin banyaknya jumlah komuter dari kawasan Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) menuju Jakarta. Komuter adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari.

 
Data BPS, pada tahun pada tahun 2009 mencatat jumlah komuter yang ‘menyerbu’ Jakarta per harinya mencapai 1,4 juta orang. Padahal pada tahun 2002 hanya terdapat 740 ribu komuter per harinya. Peningkatan jumlah komuter ini akan memperparah kemacetan lalu lintas di Jakarta, karena sebagian dari mereka membawa mobil pribadi ketika datang ke Jakarta.

 
Selain itu, peningkatan jumlah komuter juga membuat kondisi transportasi publik di Jakarta tidak lagi nyaman karena kelebihan beban. Kondisi tidak manusiawinya KRL Jabodetabek dan juga TrnasJakarta dapat dijadikan contoh dalam hal ini.

 
Obesitas kota Jakarta juga memperparah banjir di Jakarta. Pembangunan yang terus dipacu menggusur ruang terbuka hijau dan resapan air. Akibatnya, jika terjadi hujan lebat di Jakarta hanya sedikit air yang bisa diserap oleh tanah. Data dari BPLHD DKI Jakarta menyebutkan bahwa setiap kali hujan yang turun di Jakarta, hanya 26,6 persen yang terserap dalam tanah. Sementara itu, sisanya, 73,4 persen, menjadi air larian (run off) yang mengalir ke sistem drainase kota untuk dialirkan menuju ke laut.

 
Artinya, Sebagus apapun sistem drainase kota tidak akan bisa menampung run off air hujan yang sangat besar dan tidak bisa diserap oleh tanah. Celakanya, sistem drainase kota Jakarta pun tidak cukup baik.

 
Upaya mengatasi problem obesitas kota adalah PR (Pekerjaan Rumah) lama yang harus diselesaikan oleh Cagub DKI Jakarta. Semua janji Cagub DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan banjir Jakarta bisa dipastikan akan berakhir dengan kegagalan bila tidak menyentuh akar persoalan mengenai obsitas kota ini.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: