Soal Kenaikan BBM, KOMPAS Tidak Kritis!

Hari ini (12 Maret 2012), Harian KOMPAS menurunkan headline dengan judul, “Alihkan Anggaran bagi Infrastruktur” Di awal headline itu KOMPAS menuliskan bahwa dana untuk subidi Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup untuk membangun jembatan Selat Sunda. Di headline itu juga diungkapkan beberapa ilustrasi data mengenai jumlah dan penjualan kendaraan bermotor serta konsumsi BBM di Indonesia.

Dalam headline ini KOMPAS nampak tidak kritis terhadap rencana kebijakan kenaikan harga BBM. Pertama, KOMPAS mengilustrasikan bahwa dana untuk subsidi BBM dibandingkan dengan biaya untuk membangun jembatan Selat Sunda. Seakan pembangunan jembatan Selat Sunda lebih bermanfaat daripada subisidi BBM. Entah KOMPAS lupa atau belum tahu, bahwa pembangunan jalan raya, termasuk jembatan Selat Sunda, justru akan merangsang penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Sebuah penelitian yang dilakukan di California menunjukkan bahwa setiap 1% penambahan panjang jalan dalam setiap mil jalur akan menghasilkan peningkatan kendaraan bermotor sebesar 0,9% dalam waktu lima tahun (Hanson, 1995). Sementara di Jakarta, Setiap pertambahan jalan sepanjang 1 km di Jakarta akan selalu dibarengi dengan pertambahan kendaraan sebanyak 1923 mobil pribadi. Artinya, pembangunan jembatan Selat Sunda berpotensi menambah jumlah pengguna kendaraan bermotor. Dan itu artinya pemborosan subsidi BBM.

Kaitan antara pemborosan BBM dan pembangunan infrastruktur jalan raya sebenarnya sudah terlihat dalam data tentang konsumsi BBM di Indonesia yang juga dipaparkan dalam headline KOMPAS. Dalam data tersebut menunjukan bahwa Jawa, khususnya lagi Jakarta mendominasi konsumsi BBM di Indonesia. Sayang, KOMPAS tidak mengaitkan dominasi konsumsi BBM itu dengan gencarnya pembangunan jalan raya di Jawa dan terkhusus lagi di Jakarta. Lihatlah Jakarta, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, kota ini justru membangun flyover, underpass, jalan raya non tol dan juga jalan tol dalam kota. Kesemuanya itu justru menambah jumlah pengguna kendaraan bermotor pribadi. Artinya menambah kemacetan, polusi udara dan konsumsi BBM.

Dengan tidak mengaitkan melonjaknya konsumsi BBM dengan politik pembangunan infrastruktur yang pro pengguna kendaraan bermotor (dan juga industri otomotif) itu, KOMPAS seperti mengarahkan pembaca untuk menyimpulkan bahwa tidak ada alternatif lain untuk menghemat BBM dan juga APBN selain menaikan harga BBM. Seolah tidak dibangunnya infrasturktur transportasi massal karena uang negara digunakan untuk subsidi BBM. Padahal faktanya, pembangunan infrastruktur transportasi yang pro kendaraan bermotor (dan industri otomotif) seperti jalan raya, flyover, underpass dan jalan tol dilakukan seiring dengan subsidi BBM. Jadi, persoalannya bukan tidak ada uang, tapi soal kemauan politik.

Kedua, KOMPAS tidak membandingkan uang subsidi BBM itu dengan penggunaan uang APBN untuk BLBI, membayar utang luar negeri, untuk kasus Lapindo dan juga kebocoran APBN karena korupsi. Tidak dibandingkannya subsidi BBM dengan beberapa hal itu juga mengarahkan publik untuk menyetujui saja rencana kenaikan BBM.

Ketiga, Dalam headline KOMPAS itu tidak menampilkan data dan fakta terkait dengan dampak berantai kenaikan BBM (dan juga TDL) bagi warga miskin. Seolah-olah karena warga miskin tidak memakai mobil dan kendaraan bermotor maka, tidak terkena dampak buruk kenaikan BBM. Lantas, bagaimana dengan kenaikan tarif anggkutan umum, harga barang-barang, kenaikan bunga kredit kepemilikan rumah sederhana dsb. Mungkin dalam berita sebelumnya, KOMPAS pernah mengulas hal itu. Namun, dengan tidak disertakan lagi dalam headline berita di hari ini (12/3), seolah-olah kenaikan BBM tidak berdampak banyak dan buruk bagi warga miskin.

Keempat, narasumber yang dikutip KOMPAS dalam headline itu tidak ada yang berasal dari pihak yang selama ini menolak kenaikan BBM. Banyak pakar ekonomi yang selama ini menolak kenaikan harga BBM dan memiliki konsep alternatif lain. Namun mengapa KOMPAS tidak menampilkan pendapat mereka. Dalam headline ini, pendapat para pakar yang menolak kenaikan BBM bisa dibandingkan dengan pendapat Hatta Rajasa dan Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani.

Sayang sekali, sebagai media yang berpengaruh bagi pengambilan kebijakan publik, KOMPAS tidak kritis terhadap rencana kebijakan kenaikan BBM (dan juga TDL) oleh pemerintah pada April 2012.

Categories: Uncategorized | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Soal Kenaikan BBM, KOMPAS Tidak Kritis!

  1. tulisan yg sangat bagus & kritis.
    patut dibaca sekali lagi oleh Kompas.com.
    mungkin akan saya tweet (di Twitter) Kompas dan staff-nya sekalian tulisan mas Firdaus ini, supaya mudah2-an bisa dibaca langsung dan ‘ngena’ ke inti permasalahannya.

    terima kasih utk sharing nya!

  2. Pingback: Soal Kenaikan BBM, KOMPAS Tidak Kritis! « Jurnal Toddopuli

  3. Yg penting bagi PengelolaNegara di bawah #PakSus hanya 5jt PNS yg habiskan 733 T atau 52% APBN 2012. Rakyat nonPNS hanya parasit yg tdk layak dibantu.😦

  4. http://irwank.blogspot.com/2012/03/seritwit-4-langkah-terkutuk-imf-wb.html

    [SeriTwit] 4 Langkah Terkutuk IMF & WB – Hisap darah rakyat

    http://irwank.blogspot.com/2012/03/seritwit-pak-soesilobambang-boediono.html

    [SeriTwit] Pak @soesilobambang & @boediono, tolong dengarkan suara kami/rakyatRI !! #JujurAtauMundur

  5. otakbocor

    Ijin share ke milis ya pak
    terimakasih

    • cakdaus

      Silahkan di share..tulisan ini tdk mengikuti copy right tapi copy left kok……

  6. Lewis

    Sayangnya tulisan ini tdk memberikan solusi alternatif apa yg bs dilakukan agar harga BBM tdk naik.

    Apa kek, solusi yg masuk akal tdk ngoyo buat diterapkan…misal: Pemisahan SPBU angkutan umum dan pribadi…
    Capek yah di Indonesia dengar, baca berita si A mengkritisi si B. Kompas mengkritisi pemerintah dikritisi lagi oleh detik. Sekarang masyarakt dididik jadi jurnalis pinggir jalan.. Komentator berita A.. Dst.. Tapi giliran disuruh kerja pada tdk ada yg kompeten. Mau tahu aja kalau para kritikus ini disuruh mengurusi produksi minyak dalam negeri, taruhan pasti kerjaannya gak jauh beda dg yg skrg.. Atau justru lebih payah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: