Kenapa Kita Harus Lawan Kebijakan Kenaikan Harga BBM dan Listrik?

Sebentar lagi pemerintah kita akan membuat kebijakan menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL). Kenaikan tarif itu berarti pencabutan subsidi. Pemerintah berdalih kenaikan BBM dan TDL salah sasaran. Banyak orang kaya yang ikut menikmati subsidi tersebut. Sebagai gantinya pemerintah akan melakukan subsidi langsung kepada warga miskin, melalui Bantuan Langsung Tewas eh..salah Bantuan Langsung Tunai (BLT) maksudnya…

Benarkah argumentasi pemerintah itu?

Pertama yang harus kita ketahui bersama, bahwa tugas pemerintah sebenarnya justru menyubsidi warga negaranya. Terutama untuk kebutuhan-kebutuhan dasar dan vital. Energi adalah salah satu kebutuhan vital semua orang. Jika pemenuhan kebutuhan vital ini diserahkan pada mekanisme pasar maka, sudah dapat dipastikan hanya orang-orang kaya saja yang dapat membelinya. Upaya menyerahkan semua kebutuhan dasar warga pada mekanisme pasar ini adalah implementasi dari paham kapitalisme-neoliberal.

Kapitalisme-Neoliberal adalah paham yang memberhalakan mekanisme pasar. Peran negara untuk melindungi warganya. melalui serangkaian subsidi, dilucuti. Satu-satunya peran negara yang tersisa, menurut paham kapatalisme neoliberal ini, adalah memastikan agar mekanisme pasar berjalan.

Kedua, soal subsidi salah sasaran. Memang harga BBM yang rendah juga dinikmati oleh para pemilik mobil. Namun, jika kemudian caranya adalah mencabut subsidi BBM, itu sama saja dengan menangkap tikus di dalam rumah dengan cara membakar rumah. Tikus belum tentu tertangkap atau mati, tapi rumahnya sudah pasti terbakar.

Kenaikan harga BBM akan diikuti dengan kenaikan harga di sektor-sektor lainnya. Mulai dari pangan, pakaian, perumahan, transportasi publik dan barang-barang lainnya. Warga miskin akan semakin terjepit dengan kenaikan harga-harga ini. Tapi, bukankah pemerintah menyiapkan mekanisme BLT kepada warga miskin? Percuma. Dengan kenaikan harga barang-barang yang hampir serentak itu, uang BLT yang diterima si miskin akan segera tergerus. BLT tidak akan merubah posisi warga miskin. Mereka tetap miskin.

Lantas, bagaimana dengan orang-orang kaya bermobil yang menikmati subsidi BBM? Mereka akan tetap menggunakan mobil pribadinya. Mereka akan tetap membuat macet jalan raya. Kenapa? Menggunakan mobil pribadi bagi orang-orang kaya bukan sekedar alat transportasi. Mobil adalah status sosial. Mereka tidak ingin status sosial mereka jeblok hanya karena berpindah ke transportasi publik. Terlebih, kondisi transportasi publik masih jauh dari kata aman dan nyaman. Pengalaman menunjukan, beberapa kali BBM naik, tidak mengurangi volume kendaraan bermotor di kota-kota besar seperti Jakarta.

Jika pemerintah menilai subsidi BBM salah sasaran dan dinikmati oleh orang-orang kaya, seharusnya pemerintah membuat kebijakan untuk menarik ‘uang’ dari subsidi yang telah dinikmati mereka. Bisa saja pemerintah membuat kebijakan manaikan pajak mobil, mengenakan pajak jalan raya bagi pengguna mobil, menaikan tarif parkir mobil. Di samping itu pemerintah harus berhenti membangun jalan raya baru, seperti underpass, flyover dan jalan tol, termasuk rencana pembangunan jembatan Selat Sunda. Sebagai gantinya pemerintah memangun infrastruktur transportasi publik seperti kereta api, pelabuhan dsb.

Tapi apa yang dilakukan pemerintah? Pemerintah di satu sisi menaikan harga BBM namun di sisi lain seperti memfasilitasi penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Pemerintah lebih suka membangun jalan tol daripada kereta api. Padahal, kenaikan BBM sangat memukul warga negara kelas menengah-bawah daripada kelas menengah-atas yang memiliki mobil itu.

Namun nampaknya pemerintah lebih nyaman untuk membuat kebijakan yang memukul warga negara kelas menengah-bawah daripada kelas menengah-atas.
Terkait itulah maka, tidak bisa tidak kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM dan juga TDL harus dilawan habis-habisan oleh segenap warga negara. Dalih kebijakan kenaikan harga BBM untuk menyelamatkan APBN tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Ada banyak cara untuk menyelamatkan APBN tanpa harus melukai kehidupan warga kelas menengah-bawah. Kenaikan harga BBM dan TDL hanyalah akal-akalan untuk segera meliberalisasi sektor migas (minyak dan gas) dan listrik secara total.

Karena subsidi adalah hak rakyat, maka kita harus melawan setiap upaya yang akan menghapuskan subsidi itu!

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: