Mengapa Media Massa Tidak Kritis Terhadap Kebijakan Kenaikan BBM?

Media massa adalah pilar demokrasi ke-4. Itu kata yang sering kita dengar dari para penganjur demokrasi. Artinya, media massa harus menjadi alat kontrol sosial bagi kebijakan pemerintah. Utamanya kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat banyak.

Anehnya, dalam rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah tahun 2012 ini, Media Massa seperti mengamini saja rencana itu. Hampir tidak ada sikap kritis dari media massa. Bingkai pemberitaannya cenderung mendukung proyek pengurangan, bahkan pencabutan subsidi dari negara kepada warganya itu. Media massa seperti lupa bahwa kenaikan BBM akan menimbulkan kenaikan harga barang dan jasa. Kenaikan BBM akan memicu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Dan kenaikan demi kenaikan harga terus berantai.

Jika ada isi media massa yang mempersoalkan kenaikan BBM atau alternatif lain di luar kenaikan harga dan pembatasan BBM, itu hanya ada di kolom opini yang ditulis oleh pakar dari perguruan tinggi atau aktivis di luar arus utama. Sayangnya, masyarakat jarang yang membaca kolom opini di media massa. Mengapa dalam pemberitaan pakar-pakar yang menulis opini tersebut tidak dijadikan narasumber?

Media massa seperti menutup mata adanya kemungkinan proyek liberalisasi migas dan juga ketenagalistrikan di balik rencana kenaikan harga BBM dan TDL. Media massa seperti lupa bahwa migas dan listrik bukan sekedar komoditi. Keduanya adalah sesuatu yang vital dan menguasau hajat hidup orang banyak. Karena sesuatu yang vital, maka kewajiban negara untuk mempermudah masyarakat untuk mendapatkannya.

Jika benar bahawa subsidi BBM dan TDL itu salah sasaran, karena ada orang kaya yang ikut menikmatinya, mengapa media massa tidak membuka wacana alternatif untuk menarik kembali subsidi yang telah orang-orang kaya nikmati itu melalui mekanisme perpajakan?

Jika demikian halnya maka, pertanyaan berikutnya adalah, apakah media massa masih menjadi pilar demokrasi ke-4? Atau media massa telah menjadi pilar ke-4 dari liberalisasi ekonomi, yang menempatkan warga negara hanya sebatas konsumen??

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: