Konglomerasi Media, Mampukah Publik Melawannya?

Hari ini, 24 Februari 2012, saya ada di Yogyakarta, tepatnya di acara Jagongan Media Rakyat (JMR), 2012. Ada semacam keresahan bersama yang muncul, baik dari peserta maupun para pembicara yang presentasi di acara itu. Keresahan tentang makin mengguritanya konglomerasi media atau kepemilikan terpusat dari industri media oleh segelintir orang.

Presentasi hasil penelitian dari Yanuar Nugroho, PhD, kemarin (23/2) membawa pencerahan kepada peserta di JMR, bahwa industri media yang ada di negeri ini ternyata dikuasai oleh sekitar 12 industri. Persoalan penguasaan media tentu saja bukan sekedar persoalan ekonomi, namun juga persoalan dominasi wacana publik. Dominasi wacana publik ini kemudian berpotensi mengarahkan kebijakan publik sesuai kepentingan ekonomkani-politik pemilik modal di media.

Dalam penelitiannya, mas Yanuar Nugroho, mengungkapkan bahwa bila di era orde lama dan orde baru, media menjadi alat kontrol negara. Sementara setelah era reformasi, kontrol media berada di tangan pasar. Pertanyaannya berikutnya adalah, siapa yang diuntungkan dari penggunaan media sebagai alat kotrol negara? Jangan2 di era orde baru, kontrol negara atas media juga menguntungkan para pemilik modal yang kini melakukan kontrol atas media. Jadi pengelolan media di era rejim dari orde baru ke orde reformasi tetap saja menguntungkan para pemilik modal yang sama.

Lantas bagaimana publik melawannya? Adakah publik mampu melawan konglomerasi media? Yanuar Nugroho, dengan tegas mengatakan bahwa publik tidak akan menang melawan konglomerasi media itu.

Menurut saya media hanyalah alat bagi pemilik modal untuk mempertahankan bisnisnya. Bisnis mereka bukan hanya di sektor media. Mereka juga punya tambang dan bisnis yang seringkali bertabrakan dengan kepentingan publik. Media digunakan untuk melindungi bisnis mereka di luar media. Nah jika demikian halnya, maka pertarungan yang sebenarnya justru bukan berada di sektor media, namun di luar sektor itu.

Jadi kalau menurut mas Yanuar Nugroho, publik sulit melawan konglomerasi media, maka harusnya yang dilawan oleh publik bukan bisnis konglomerasi medianya, namun bisnis di luar medianya. Masyarakat misalnya, harus melawan bisnis tambang, perkebunan yang dimiliki oleh konglomerasi media, yang merugikan kepentingan publik. Jangan terfokus melwan konglomerasi media, namun melawan bisnis pemilik modal itu di luar bisnis media.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Konglomerasi Media, Mampukah Publik Melawannya?

  1. Konglomerasi media hanya bisa dilawan oleh jaringan rakyat yang produktif membangun konten secara kolektif dengan cara pandang yang berpihak pada warga. Terimakasih atas catatannya, sayang kita tidak sempat bertemu di acara itu yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: