Dominasi Informasi dalam Kasus Lapindo

Pernah dimuat di Harian Ekonomi KONTAN, 12 Desember 2011.

Oleh: Firdaus Cahyadi

 

Informasi adalah kunci. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya informasi. Berbekal dengan informasi sebuah kebijakan dapat dirancang secara tepat. Dominasi informasi oleh pihak terntentu berpotensi mempengaruhi sebuah kebijakan terkait dengan kasus terntentu.

Informasi di media massa, baik berupa berita dan iklan, adalah faktor penting yang mempengaruhi pengambilan kebijakan dalam penyelesaian sebuah kasus tertentu. Kasus Lapindo menjadi salah satu hal yang dapat dijadikan contoh bagaimana dominasi informasi berpengaruh terhadap model penyelesaian kasus Lapindo.

Dalam kasus ini kebetulan Group Bakrie, yang juga pemilik Lapindo, memiliki jaringan media berupa televisi dan portal berita di internet. Bagaimana jaringan media Group Bakrie mempublikasikan infomasi mengenai kasus ini? Dan bagaimana kemudian informasi itu mendominasi sehingga mempengaruhi pengambilan kebijakan atas pola penyelesaian kasus Lapindo?

TV One, salah satu televisi milik Group Bakrie, menggunakan kata lumpur Sidoarjo (Lusi) bukan lumpur Lapindo (Lula). Bahkan TV itu secara khusus mewawancarai pakar geologi Rusia Dr. Sergey Kadurin yang menyatakan semburan lumpur adalah akibat gempa bumi bukan akibat kesalahan pengeboran. Sementara pendapat pakar yang menyatakan bahwa semburan lumpur akibat pengeboran tidak diwawancarai. Hal yang sama juga terjadi di ANTV dan vivanews.com. Bahkan liputan khusus terhadap pakar Rusia itu juga ditampilkan secara audio-visual di portal vivanews.com.

Media mainstream (arus utama) di luar kelompok usaha Bakrie nyaris tidak mencoba mengimbanginya. Perlawanan justru muncul dari kelompok masyarakat atas pemberitaan media milik Group Bakrie tersebut. Pemberitaan itu dicoba diimbangi oleh http://www.korbanlumpur.info dengan menuliskan pendapat pakar perminyakan Mark Tingay dari Australian School of Petroleum, Universitas Adelaide, Australia. Menurut Mark Tingay, semburan lumpur di Sidoarjo, 90% akibat aktivitas pemboran bukan bencana alam.

Namun tingkat keterbacaan media alternatif yang memberitakan kasus Lapindo itu tentu kalah jauh dibandingkan media-media di bawah Group Bakrie. Belum lagi dengan penetrasi informasi dari iklan-iklan Lapindo yang ada di berbagai media massa mainstream sebelumnya.

Singkat kata informasi yang diproduksi oleh Lapindo dalam bentuk iklan ataupun oleh media Group Bakrie dalam bentuk pemberitaan berhasil mendominasi informasi dalam kasus ini. Dominasi informasi itu akhirnya mempengaruhi pemerintah dalam pembuatan keputusan terkait dengan pemulihan bencana dalam kasus Lapindo.

Seperti dalam iklan Lapindo atau pemberitaan kasus semburan lumpur oleh media Group Bakrie, pemerintah lebih memilih menggunakan kata lumpur Sidoarjo (Lusi) daripada lumpur Lapindo (Lula). Penggunaan kata Lusi sendiri bukanlah pilihan yang bebas nilai atau netral. Pilihan itu sejatinya telah ‘menghilangkan’ Lapindo secara berlahan dari pusaran kasus itu.

 

Implikasi

Dihilangkannya secara berlahan Lapindo dalam pusaran kasus itu akhirnya berdampak juga dalam kebijakan pemulihan bencana kasus Lapindo. Pemulihan bencana lumpur dalam Perpres 14/2007 menggunakan mekanisme jual beli aset korban lumpur bukan ganti rugi. Pemulihan bencana kasus lumpur ini tidak mungkin menggunakan mekanisme ganti rugi, karena sudah sejak awal pihak Lapindo secara perlahan ingin dihilangkan dalam pusaran kasus ini.

Bagaimana implikasinya bila pemulihan bencana kasus lumpur ini menggunakan mekanisme jual beli aset dan bukan ganti rugi? Implikasinya, tentu saja adalah dampak buruk semburan lumpur di luar perosalan hilangnya rumah dan tanah tidak dimasukan dalam mekanisme jual beli ini. Hilangnya hak warga korban lumpur atas udara dan air bersih, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya tidak bisa dimasukan dalam mekansime jual beli aset ini.

Karena model penyelesaian kasusnya adalah jual beli aset korban maka, logikanya setelah proses pembayaran jual beli itu selesai, kawasan Porong dapat kembali dieksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alamnya (minyak dan gas). Tidak peduli persoalan rehabilitasi kehancuran ekologi di kawasan itu nantinya.

Logika itu semakin jelas dari munculnya penawaran pemerintah melalui Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo kepada Lapindo untuk melakukan lagi eksplorasi minyak dan gas (migas) di Porong, Sidoarjo (Koran TEMPO, 9 November 2011).

Dari sini terlihat bahwa dominasi informasi telah menyebabkan penyelesaian kasus Lapindo menjadi tidak berpihak pada masyarakat korban. Alih-alih berpihak kepada korban, pemerintah justru mempersilahkan Lapindo untuk kembali melakukan eksplorasi di kawasan Porong, Sidoarjo.

Dominasi informasi dalam kasus Lapindo ini adalah sebuah pelajaran nyata bagi para jurnalis yang bekerja di media massa mainstream. Bahwa apa yang jurnalis beritakan berpengaruh pada sebuah pengambilan keputusan yang menyangkut nasib jutaan warga negara. Jika apa yang jurnalis beritakan kemudian bias kepentingan pemilik modal maka, sudah barang tentu jutaan warga negara yang menjadi korbannya.

Independensi jurnalis. Itu adalah sebuah kata kunci agar dominasi informasi oleh media massa mainstream dalam kasus Lapindo tidak kembali terjadi dalam kasus lainnya. Jurnalis harus tetap independen dalam menyampaikan kabar dari lapangan. Dengan independensinya itu jurnalis harus tetap memproduksi karya jurnalistik yang berimbang tidak bias kepada kepentingan konglomerat yang kebetulan memiliki media tempat ia bekerja.

Selain itu tentu juga perlu dibangun sikap kritis dari para konsumen media. Konsumen media dapat menjadi semacam media watch (pengawas media). Dengan pengawasan dari konsumen media yang kritis itulah informasi yang bias kepada kepentingan pemilik modal bisa dibatasi, kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali.

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: