Terima Kasih, Cut Tari

Koran TEMPO, 20 Juli 2010

Oleh Firdaus Cahyadi

Artis dan presenter Cut Tari akhirnya meminta maaf atas video mesum yang mirip dirinya. Sambil berlinang air mata, ia meminta maaf. Banyak orang menilai permohonan maaf Cut Tari tidak cukup, ia harus dihukum. Bahkan ada orang yang menilai permintaan maaf itu hanyalah upaya mendongkrak citranya yang kini sedang terpuruk.

Terlepas dari pandangan negatif berbagai kelompok tersebut, keberanian Cut Tari meminta maaf kepada publik pantas mendapat apresiasi. Bandingkan dengan perilaku para elite politik kita yang tersangkut berbagai kasus yang jelas-jelas merugikan kepentingan publik secara luas.

Hingga kini, misalnya, kita belum pernah mendengar permintaan maaf orang-orang yang terkait dengan kasus semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Padahal kasus lumpur Lapindo adalah kasus kerusakan lingkungan hidup yang terbesar di negeri ini. Kasus ini hingga empat tahun masih jauh dari kata adil. Saat ini dampak buruk lumpur Lapindo semakin meluas. Tanah di Porong mengalami penurunan. Gas liar muncul di mana-mana.

Korban pun berjatuhan akibat terus memburuknya kondisi ekologi di kawasan tersebut. Dan pihak yang paling menjadi korban atas makin buruknya kondisi di Porong, Sidoarjo, adalah perempuan dan anak-anak.

Catatan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan, terdapat empat perempuan korban Lapindo yang bekerja sebagai pekerja seks di lokalisasi Dolly di Surabaya, Tretes, dan Pasuruan, dengan usia berkisar 16-35 tahun. Alasan mereka menjadi pekerja seks tidak lain adalah tuntutan ekonomi keluarga. Karena alasan tersebut juga, banyak perempuan akhirnya menjadi korban trafficking dan penipuan, seperti laporan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Sidoarjo yang mengatakan terdapat empat perempuan yang ditipu dan dijadikan pekerja seks di Tretes.

Sementara itu, LSM Solidaritas Perempuan juga mengungkapkan bahwa peristiwa lumpur Lapindo juga telah menjadikan perempuan sebagai pencari nafkah utama, karena suami mereka meninggal atau sakit. Lumpur Lapindo juga semakin memicu beban psikologis bagi perempuan, termasuk perempuan yang masih tinggal di pengungsian. Tekanan psikologis yang dialami suami juga berdampak buruk bagi istri dan anak perempuannya. Tidak sedikit suami yang meninggalkan istrinya atau melakukan perselingkuhan ketika istrinya sedang mengalami kondisi fisik dan psikis yang menurun.

Perempuan di pengungsian juga harus mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan air bersih. Karena di pengungsian tidak tersedia air bersih, mereka harus menyisihkan uang Rp 2.000 per hari untuk membeli air bersih yang hanya digunakan untuk air minum dan memasak. Terbatasnya fasilitas air bersih juga berdampak terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Sebagian perempuan di pengungsian mengatakan mereka juga mengalami gangguan kesehatan reproduksi, seperti keputihan dan gangguan menstruasi.

Selain oleh perempuan, dampak buruk semburan lumpur dirasakan oleh anak-anak. Peristiwa tersebut juga berdampak terhadap anak-anak, baik secara psikologis maupun terhadap pendidikan mereka. Banyak anak-anak yang akhirnya tidak melanjutkan sekolah mereka karena berbagai faktor, seperti tidak ada biaya, orang tua mereka kehilangan mata pencaharian, jarak sekolah yang sangat jauh, dan sebagian mengalami beban psikologis karena lingkungan sekolah yang berbeda, dan mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Faktor- faktor tersebut tentu juga akan berdampak terhadap hasil pendidikan, ditambah lagi dengan tidak adanya tenaga pengajar yang memadai. Bayangkan, akibat luapan lumpur Lapindo, siswa SDN Kedungbendo III awalnya berjumlah 553 orang, dan kini hanya tersisa 30 orang. Lebih parah lagi, dari 15 orang tenaga pendidik, kini hanya tersisa 3 orang. Bahkan, karena putus sekolah, banyak anak-anak khususnya anak perempuan yang akhirnya menjadi pekerja seks, walaupun sampai hari ini belum ada data yang jelas berapa jumlah anak yang akhirnya menjadi pekerja seks.

Meskipun dampak lumpur Lapindo sangat merusak, baik secara ekologi maupun sosial, tidak ada sedikit pun permintaan maaf dari para petinggi Lapindo atau pihak-pihak yang terkait dengan semburan lumpur. Bahkan mereka tetap saja tidak mengakui bahwa semburan lumpur itu akibat aktivitas pengeboran. Mereka tetap berkeras bahwa semburan lumpur itu adalah bencana alam.

Padahal mayoritas pakar pengeboran internasional sudah dengan tegas menyatakan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo bukan disebabkan oleh bencana alam, melainkan akibat aktivitas pengeboran Lapindo. Begitu juga audit BPK soal lumpur Sidoarjo. Bahkan dokumen rahasia Medco, mitra Lapindo dalam mengeksplorasi blok Brantas, secara jelas mengungkapkan bahwa aktivitas pengeboran korporasi itulah yang menjadi biang semburan lumpur di Sidoarjo.

Hal yang lebih runyam lagi adalah Negara, yang harusnya melindungi rakyatnya, justru ikut-ikutan meyakini bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam. Tidak ada pula permohonan maaf dari para penyelenggara negara kepada warga Porong, Sidoarjo, atas semburan lumpur. Bahkan para penyelenggara negara juga tidak merasa bersalah ketika triliunan rupiah uang rakyat dikucurkan untuk menanggulangi dampak buruk semburan lumpur Lapindo.

Permintaan maaf Cut Tari seakan menampar muka para petinggi Lapindo dan pihak-pihak yang terkait dengannya. Kalaupun dinilai berbuat jahat, perbuatan Cut Tari tidaklah berdampak buruk seperti yang dilakukan pihak-pihak yang ceroboh sehingga menyebabkan kawasan Porong, Sidoarjo, tenggelam oleh lumpur. Andaikan para penjahat lingkungan hidup di negeri ini tidak bebal, keberanian Cut Tari meminta maaf adalah contoh yang baik bagi mereka. Untuk itu, tidaklah salah bila kita mengucapkan terima kasih kepada Cut Tari. Ia lebih bermartabat daripada orang-orang “terhormat” yang terlibat dalam penghancuran kawasan Porong, Sidoarjo. Sekali lagi terima kasih, Cut Tari!

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: